Antara Budaya atau Nyawa

  • Whatsapp
RODIAN AKBAR
Mahasiwa Jurusan Sosiologi FISIP UBB

Salah satu ancaman bagi kestabilan dunia saat ini adalah penyakit yang disebabkan oleh virus corona. Virus corona kini telah menyebar diberbagai belahan dunia, memasuki berbagai kawasan mulai dari Asia yang awalnya berpusat di China hingga ke benua Eropa dan Amerika.

Mengutip sumber dari Alodokter.com, virus corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut covid-19. Virus corona dapat menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut, sampai kematian.

Read More

Virus corona menjadi ancaman bagi kestabilan dunia karena dapat mengakibatkan diberlakukannya lockdown bagi beberapa negara. Penerapan lockdown bagi beberapa negara, mampu mempengaruhi ekonomi dunia karena otomatis jalur penerbangan dan perdagangan di tutup. Jika yang menerapkan lockdown adalah negara eksportir, maka akan menjadi ancaman bagi negara yang belum mampu melakukan produksi mandiri dalam negeri, dalam artian bahwa negara importir akan sangat sulit mendapatkan akomodasi bagi kebutuhan dalam negerinya. Kondisi ini jika terus berlanjut, maka akan semakin menambah panjang daftar negara yang memberlakukan lockdown yang kemudian mengakibatkan terguncangnya sistem ekonomi dan kestabilan dunia.

Penyakit yang ditimbulkan karena virus corona pada dasarnya sama dengan penyakit-penyakit lainnya, seperti misalnya influenza. Namun, yang harus diingat adalah bahwa virus corona yang saat ini menjadi pandemi global, baru muncul ke permukaan. Munculnya virus corona ini membuat seluruh dunia menjadi kelabakan, bahkan negara adidaya seperti Amerika Serikat pun kewalahan menghadapinya. Dan bahkan, ilmu kedokteran modern membutuhkan waktu untuk menemukan solusi bagi permasalahan ini, mengingat virus corona ini baru muncul.

Virus corona yang saat ini menjadi pandemi, harus diupayakan dengan sangat serius penanganannya. Pemberantasan virus corona mestilah dilakukan dengan sungguh-sungguh karena mengingat nyawa menjadi taruhannya. Menyangkut persoalan nyawa, maka satu nyawa sangatlah berarti. Semakin tinggi angka korban, maka itu menunjukkan kekurangan dalam pemberantasan.

Berkaca pada fakta bahwa virus corona atau covid-19 membawa potensi ancaman yang sangat tinggi bagi manusia hingga kestabilan dunia, maka hal ini harus menjadi perhatian serius pada pelaksanaan acara-acara budaya yang memiliki resiko penularan covid-19.  Acara budaya yang dimaksud ialah acara yang mengharuskan pelaksanaannya dengan orang ramai atau mengumpulkan khalayak ramai dan terdapat kontak fisik saat acara itu dilaksanakan.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki ragam adat budaya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Tiap-tiap suku di Indonesia, dapat dipastikan memiliki adat budayanya masing-masing yang di junjung tinggi sebagai harta warisan dari para leluhurnya. Adat budaya ini kemudian menjadi salah satu kearifan lokal bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan sosial. Misalkan dengan adanya “larangan duduk di atas meja” dengan alasan akan menyebabkan orang tua memiliki hutang, maka itu akan menjadi modal sosial bagi para generasi yang muda agar berperilaku sopan dengan tidak duduk diatas meja, karena hakikatnya meja bukanlah tempat untuk duduk.

Ragam adat budaya di Indonesia sangatlah ramai, tersebar luas dari pelosok-pelosok kampung hingga ke tengah-tengah padatnya kota. Umumnya suatu adat budaya atau pesta adat dilaksanakan dengan mengumpulkan khalayak ramai di satu tempat kemudian dilaksanakanlah adat budaya tersebut. Hal ini kemudian membuka potensi menyebarluasnya virus corona pada mereka yang berada di tengah kerumunan orang-orang yang melakukan atau sekadar menonton pelaksanaan suatu adat budaya tersebut. Karena tidak jarang dalam pelaksanaan adat budaya suatu masyarakat akan dihadiri oleh masyarakat dari daerah lain yang penasaran dan sangat antusias untuk menyaksikan pelaksanaannya. Hal ini juga yang kemudian menambah kekhawatiran akan tingginya penyebaran virus corona pada masyarakat.

Mengutip sumber dari Alodokter.com, seseorang dapat tertular virus corona atau covid-19 melalui berbagai cara, yaitu tidak sengaja menghirup percikan ludah dari bersin atau batuk penderita covid-19, memegang mulut atau hidung tanpa mencuci tangan terlebih dahulu setelah menyentuh benda yang terkena cipratan air liur penderita covid-19, dan kontak jarak dekat dengan penderita covid-19, misalnya bersentuhan atau berjabat tangan.

Pelaksanaan adat budaya di tengah pandemi virus corona saat ini memiliki resiko yang sangat tinggi, mengingat penyebaran dari virus corona sangatlah cepat. Hal tersebut kemudian ditambah pula dengan belum adanya kejelasan mengenai obat ataupun vaksin untuk melawan penyakit yang ditimbulkan oleh virus corona. Jika suatu adat budaya yang berpotensi menyebarkan virus corona tetap dilaksanakan, maka akan menimbulkan problematika yang semakin rumit mengingat jumlah tenaga medis yang juga sangat terbatas jika dibandingkan dengan kemungkinan jumlah orang terinfeksi yang terjadi dalam satu waktu.

Pelaksanaan adat budaya memang sangatlah penting untuk dilakukan sebagai upaya mempertahankan kearifan lokal, melestarikan peninggalan leluhur, dan media edukasi bagi generasi muda untuk mengenal budaya dari masyarakatnya. Namun, jika kita melihat situasional saat ini, sangat tidak memungkinkan untuk melaksanakan suatu adat budaya yang dapat menimbulkan potensi masyarakat untuk terjangkit virus corona. Hendaklah berbagai pihak hingga masyarakat yang memiliki adat budaya itu untuk menahan diri melaksanakan adat budayanya hingga kondisi kembali normal dan bebas dari bayang-bayang virus corona.

Kepulauan Bangka Belitung adalah salah satu dari 34 provinsi di Indonesia yang memiliki ragam adat budaya. Ada berbagai adat budaya di Bangka Belitung, seperti perang ketupat, nganggung, ruwah, hingga cheng beng. Pelaksanaan adat budaya tersebut di Bangka Belitung biasanya memantik perhatian khalayak ramai untuk berkumpul, bersilaturahmi, dan kemudian menimbulkan kerumunan yang kadang sangat sulit dikendalikan. Semakin ramai orang berkumpul, maka semakin sulit untuk menghindari kontak fisik antar individu. Sehingga hal ini kemudian benar-benar menyebabkan kekhawatiran mengenai kemungkinan penyebaran dari virus corona. Belum lagi kunjungan wisatawan yang mungkin saja terjadi karena ingin menyaksikan perhelatan adat budaya yang dilangsungkan secara periodik.

Pelaksanaan adat budaya sebenarnya sangatlah penting untuk mempertahankan eksistensi dari budaya tersebut, namun di tengah wabah virus corona yang sedang berlangsung saat ini, ada hal yang lebih penting untuk dipertahankan, yaitu nyawa manusia. Berkaitan dengan nyawa manusia, maka bahkan angka 1 saja sangatlah penting untuk dipertahankan. Lebih baik menunda adat budaya ketimbang kehilangan nyawa.

Jika dikaji secara rasionalitas mengenai virus corona dan kaitannya dengan adat budaya, maka dapat dipastikan bahwa akan timbul kerugian yang berlanjut, hingga berdampak pada keberlangsungan suatu adat budaya itu sendiri. Ketika adat budaya dilaksanakan, maka virus corona berpotensi untuk menyebar. Akan menjadi persoalan serius jika yang tertular virus corona adalah orang-orang yang saat ini paham akan adat budaya tersebut, mengenai tata cara pelaksanaannya, hingga ketentuan dalam pelaksanaan adat budaya tersebut. Inilah yang kemudian harus menjadi fokus utama dalam melaksanakan suatu adat budaya. Ada resiko besar yang dipertaruhkan, yaitu eksistensi dari adat budaya itu sendiri.

Problematika virus corona tidak hanya memiliki dampak yang serius pada sektor ekonomi saja, namun juga akan memberikan dampak yang signifikan bagi eksistensi suatu adat budaya ke depannya, mengingat tidak banyak orang yang benar-benar paham mengenai tata cara pelaksanaan adat budaya tersebut. Belum lagi bagi suatu wilayah yang sektor pariwisatanya juga mengandalkan adat budaya, maka akan lebih bahaya lagi dampaknya.

Rasionalitas dan kemanusiaan kita sedang dipertaruhkan dalam menghadapi virus corona yang melanda saat ini. Apakah kita tetap berpegang teguh untuk dilaksanakannya adat budaya yang dapat membawa dampak besar dikemudian hari bahkan menyebabkan hilangnya nyawa manusia. Atau kita memilih untuk mengistirahatkan budaya sejenak agar kedepannya eksistensi dari budaya itu terjaga yang kemudian jika pandemi ini berakhir, maka pelaksanaan adat budaya ke depannya akan sangat meriah karena kerinduan masyarakat akan adat budaya itu sendiri.

Pada akhirnya, pilihan antara budaya atau nyawa akan menyebabkan dilema. Namun, disaat yang genting seperti ini, yang menyangkut nyawa manusia berapapun jumlahnya, maka alangkah baiknya untuk mengutamakan rasionalitas di atas segala-galanya. Meskipun nyawa berada di tangan Tuhan, namun jika kita terjun ke jurang, maka kita pun berperan dalam penentuan takdir nyawa tersebut. Haruslah selalu ditekankan bahwa tiada budaya tanpa nyawa. Kehadiran manusia menyebabkan munculnya sejarah, tanpa manusia maka sejarah tak akan pernah tertulis, itu juga akan berlaku jika adat budaya tetap dipaksa untuk terlaksana, adat budaya akan lenyap seiring dengan hilangnya manusia.(***).

JustForex

Related posts