Ada Kurma di Rumah Pak Ustad

  • Whatsapp

Karya: Rusmin

Read More

Setiap bulan ramadan tiba, kami anak kampung yang belajar mengaji di rumah pak Ustad sangat bahagia. Bukan hanya karena kami bisa sholat taraweh bersama. Dan bukan karena kami bisa khatam Al-quran saja pada bulan suci itu. Bukan sama sekali. Tapi setiap bulan penuh cahaya itu datang, kami, murid-muridnya selalu berbuka puasa bersama di rumah Pak Ustad. Dan yang amat kami nantikan adalah saat momen berbuka. Karena Pak Ustad selalu menyediakan buah kurma setiap harinya untuk kami anak-anak murid mengajinya..
“Buah kurma ini dikirim oleh senior-senior kalian yang kini telah sukses di perantauan,” kata pak Ustad saat menjelaskan asal muasal buah kurma yang kami nikmati tiap berbuka puasa.
“Jadi tiap bulan puasa mareka berbagi rezeki kepada kita,” lanjut pak Ustad.
“Dan saya harap tradisi berbagi ini harus kalian terapkan nantinya kalau kalian semua sudah sukses. Tak ada salahnya berbagi ke sesama umat manusia,” lanjut pak Ustad membanggakan pemberian dari mantan anak didiknya. Kami serius mendengarkan ceramah pak Ustad sambil menikmati menu berbuka puasa. Ya, buah kurma yang dijadikan menu berbuka puasa itu memang sangat manis dan besar. Sangat berbeda dari yang biasa kita dan kami makan di rumah. Sangat beda sekali. Kayaknya buah kurma itu datang dari negara asalnya.
Namun, berbuka puasa kali sangat berbeda. Tak ada lagi buah kurma yang menjadi ciri khas saat kami berbuka puasa di rumah Pak Ustad. Tidak ada sama sekali. Setidaknya sudah hari ke sembilan, belum sebutir pun kami melihat buah kurma itu sebagai sajian berbuka puasa di rumah Pak Ustad guru ngaji kami. Tak ada dalam menu berbuka puasa bersama kami.
Beberapa kawan mulai celingukan. Otak cerdas mareka mulai menelisik. Ada apa dengan buah kurma itu? Kok tak ada dalam daftar menu berbuka puasa di rumah Pak Ustad. Tapi tak satu suara pun yang keluar dari mulut kami, tentang kenapa hingga hari ke sembilan ini menu berbuka tanpa kurma. Semuanya hanya memendam rindu dengan buah kurma itu yang selalu ada setiap ramadan tiba sebagai menu khas berbuka puasa di rumah pak Ustad sekaligus guru ngaji kami.
“Sudah tak perlu ditanyakan. Mungkin buahnya belum tiba dari Arab,” ujar seorang dari kami.
“Lagi pula kita sudah seharusnya berterima kasih kepada pak Ustad yang telah menyediakan menu berbuka puasa buat kita warga kampung dan anak didiknya,” sambung yang lain.
“Lagi pula, apakah tanpa kurma itu buka puasa kita tak diterima Allah SWT,” tanya seorang yang lainnya dengan nada suara setengah kesal. kami yang hadir cuma terdiam. Membisu. Tak sepatah katapun keluar dari mulut kami.
___

Related posts