• Whatsapp

Menghindari Married By Accident

Muat Lebih

Oleh: Yeni Sri Rohana

Mahasiswi STISIPOL Pahlawan 12

Bagi banyak perempuan, kehamilan merupakan suatu hal indah yang sangat dinantikan. Namun bagaimana jika hal tersebut terjadi di luar ikatan pernikahan? Apakah rasa senang dan bangganya akan sama?  Bagi Penulis tentu tidak. Karena selain menyalahi nilai-nilai agama, juga bertentangan dengan norma masyarakat dan banyak diantaranya yang mendapat penghakiman.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Kesehatan Perempuan yang dilansir dari SUARA.COM pada 2009, ada 690.000 kasus perkawinan anak di bawah usia 18 tahun di Indonesia. Hal ini menunjukan banyak sekali kasus Married By Accident (menikah karena insiden) yang terjadi. Married By Accident menjadi alasan untuk melangsungkan pernikahan. Membangun rumah tangga dalam hal ini memulai pernikahan sebenarnya adalah suatu hal yang baik. Namun juga bukan perkara yang mudah, perlu dipikirkan kembali permasalahan yang akan datang nantinya. Salah satunya tanggung jawab yang mau tidak mau harus dipikul, mulai dari permasalahan keluarga, ekonomi sampai kesiapan lahir dan batin yang haruslah matang.

Tetapi  bagi beberapa orang urusan pernikahan sering disepelekan dan diatasi tanpa adanya pertimbangan yang matang dalam mempersiapkanya. Sehingga banyak yang melakukan hubungan seksual tanpa pikir panjang, ketika ternyata “kebablasan” dan  kemudian hamil maka melangsungkan pernikahan adalah jalan pintasnya. Padahal, seperti kita ketahui menikah bukan perkara yang mudah.

Kendati sekarang Married By Accident sangat lumrah terjadi dihampir semua kalangan masyarakat, faktor penyebanya sangat beragam. Krisisnya pendidikan dan minimnya akses informasi seksual juga ikut mendorong hal tersebut. Pembicaraan seputar seks education sering di anggap tabu dan tidak sopan untuk dibahas oleh keluarga dan masyarakat kita sekarang. Kurangnya pengawasaan dalam hal pergaulan, sehingga terjadinya pergaulan bebas  terutama anak-anak muda labil dan belum bisa membedakan mana salah atau benar dalam pergaulannya juga kerap menjadi salah satu faktor utama dalam menambah angka kasus Married By Accident.

Salah satu teman dekat Penulis yang mengalami kasus MBA menceritakan bagaimana kerasnya hidup setelah mereka menikah apalagi alasan pernikahannya adalah hamil di luar nikah. Cemooh ramai terdengar mulai dari tetangga sampai keluarga besar, bahkan ibu mertuanya sekalipun. Penyebabnya tak lain adalah karena rasa cinta berlebihan, sehingga membuat dia sengaja melakukan hubungan di luar nikah bersama kekasihnya.

Dia juga bercerita bahwa ekspetasinya dulu ketika ingin menikah dan sekarang sesudah menikah serta memiliki 2 orang anak mengejutkan Penulis. Perlakuan dan sikap suami terhadapnya juga jauh berbeda sebelum dan sesudah pernikahan. Suami yang dulu sangat baik dan lembut menjadi kasar dan ringan tangan, bahkan tidak lagi perhatian. Belum lagi masalah keuangan yang tidak terbuka dan membuat mereka hampir setiap hari bertengkar.

Pernah suatu hari mereka bertengkar hebat sampai-sampai sang suami melakukan tindakan KDRT yang membuat istrinya mau tidak mau membawanya ke kantor polisi. Hubungan pernikahan mereka pun diambang masa perceraian. Ia (istrinya) mengatakan bahwa ia menyesal menikah di umur yang muda serta melakukan hal bodoh yaitu hamil di luar nikah hanya karena rasa sayang yang berlebihan.

Ia juga berharap dengan adanya tulisan ini semoga wanita-wanita di luar sana jangan hanya “termakan” oleh cinta dengan melakukan segalanya sampai hamil di luar nikah, karena takut di tinggal oleh sang kekasih. Ia juga berpesan kalau mencari suami harus dilihat dari bibit bobot bebetnya, jadi jangan sembarangan menikah hanya karena persaan cinta semata. Hal ini juga menjadi pembelajaran bagi kita bahwa ekspetasi tidak seindah realita.

Oleh karena itu, perlu kita pikirkan berkali-kali dampak dan permasalahan yang akan muncul nantinya. Dan mari kita hindari Married By Accident karena hanya “termakan” oleh cinta, sampai menjadi sesal dalam urusan pernikahan yang seharusnya merupakan impian setiap orang. (***)

Pos terkait