WOW! Vonis Inkrah, Asui tak ada di Lapas

  • Whatsapp

Belum Dieksekusi, Jaksa Berdalih Butuh Proses
Jawaban Jaksa dan Hakim tak Sinkron

SUNGAILIAT – Pasca divonis terbukti bersalah melakukan tindak pidana menampung pasir timah ilegal pada sidang dengan lima agenda sekaligus yakni tuntutan, pledoi, replik, duplik dan pembacaan putusan pada 27 Mei 2019 di Pengadilan Negeri Sungailiat, terdakwa Siauw Sui Thin alias Asui ternyata tidak langsung dijebloskan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Bukit Semut Sungailiat.

Berbeda dengan terdakwa lain yang biasanya ditahan dan langsung digiring ke penjara usai sidang putusan, namun Asui selaku pengusaha eksportir timah sekaligus direktur PT Panca Mega Persada (PMP) malah bebas berkeliaran.

Bahkan bos smelter yang divonis ringan dua bulan penjara itu dapat tidur nyenyak di rumahnya hingga hari ini. Sebab, dalam investigasi Rakyat Pos, Selasa (11/6/2019), nama terdakwa atau terpidana Asui tidak tercantum dalam daftar narapidana yang menjalankan hukuman di Lapas Bukit Semut Sungailiat. Asui dinyatakan tidak ada di dalam lapas.

Tak pelak, ketika dikunjungi wartawan harian ini untuk konfirmasi berita, pihak Lapas pun bingung. Karena biasanya usai vonis apalagi putusan telah inkrah, pihak kejaksaan sudah mengeksekusi terpidana dengan membawanya ke lapas.

Humas Lapas Bukit Semut Sungailiat, Ichsan seizin Kalapas, Faozul mengaku sudah membongkar berkas-berkas untuk mencari nama terpidana Asui di buku warga binaan lapas. Ketika ia memeriksa berkas, ternyata Lapas Bukit Semut belum menerima terpidana Asui berikut berkasnya dari pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Bangka.

“Kami tidak tahu menahu, jangankan orangnya berkas juga dak ada. Tadi kami agak lama mengecek berkas itu, tapi tidak ada nama itu yang katanya namanya Asui. Mungkin entah proses banding yang sehingga belum masuk ke kami. Tapi kalau tidak banding kenapa tidak dieksekusi?” tanyanya.

“Yang pasti di kami tidak tahu menahu, tidak ada kabar berita begitu intinya. Mungkin dia belum masuk ke sini karena masih proses di luar. Kalau kami kan sifatnya menunggu, kalau diantar orang kami terima,” terang Ichsan, Selasa pagi kemarin.

Mendapati fakta itu, wartawan kemudian mendatangi kantor Kejaksaan Negeri Bangka di Sungailiat. Sayangnya, Kasi Intel selaku pejabat informasi Kejari Bangka, Andri, SH saat didatangi ke ruangannya masih berada di luar kantor. Begitu pun Kepala Kejari Bangka, Jeffry sedang melakukan dinas luar.

Dan ketika dikonfirmasi via pesan WhatsApp mengapa Asui belum dieksekusi dan tidak ada di Lapas Bukit Semut, Andry malah mengatakan kasus tersebut belum inkrah karena terdakwa dan jaksa masih dalam tahap pikir-pikir. Menurutnya hari ini, Rabu (12/6/2019) merupakan batas waktu untuk mengajukan banding atau inkrah.

“Masih masa pikir-pikir dan besok (hari ini-red) batas terakhir jadi belum bisa dieksekusi,” jawabnya.

Tentu saja jawaban Kasi Intel tersebut bertolak belakang dengan pernyataan yang telah dilontarkan majelis hakim sekaligus Humas Pengadilan Negeri Sungailiat, Benny Yoga Dharma.

Sebelumnya, seperti diberitakan edisi kemarin, Benny mengatakan putusan Asui sudah inkrah lantaran sejak 7 hari pasca dibacakan vonisnya, terdakwa dan jaksa penuntut tak kunjung memberikan tanggapan atas pikir-pikirnya.

Mendengar keterangan wartawan tersebut, Andry kembali meralat jawabannya. Dia lalu berdalih dan mengatakan apabila putusan sudah inkrah maka Asui akan mengikuti proses selanjutnya.

“Kalau pun sudah inkrach berikutnya ada proses bu (wartawan-red) sebagai tindak lanjutnya akan dipanggil,” tukasnya.

Ditanya kapan waktu atau proses yang akan ditempuh untuk mengeksekusi Asui, Andry pun belum dapat memastikannya.

“Sesegera mungkin dan dimulai dari administrasi perintah Kajari. Begitulah bu. Proses segera dijalankan,” jawabnya.

Andry juga membantah saat disinggung mengenai perlakuan istimewa terhadap Asui dan dugaan suap yang terjadi dalam proses penuntutannya.

“Kalo bicara pake curiga trus dak selesainya bu. Kira-kira kecurigaan ada bukti gak? Kalau jawaban mungkin, ya semua mungkin. Yang pasti kerja ada prosedurnya. Dan hindari komentar kalau gak tau permasalahannya,” ujar Andry.

Mengenai nama Asui bos timah itu yang belum masuk dalam daftar terpidana di Lapas Bukit Semut, Andry mengatakan proses penanganan penuntutan dan persidangan yang bersangkutan sejak awal tidak dilakukan penahanan.

“Wajar tidak ada daftar di Lapas. Saat ini proses adminnya sedang dijalankan. Sesegera mungkin akan dieksekusi,” janjinya.

Ketua majelis hakim Benny Yoga Dharma yang membacakan vonis menggantikan Sarah Lois dengan Oloan dan Jhonson Parancis, sebagai hakim anggota sebelumnya memangkas satu bulan penjara terhadap Asui dari tuntutan JPU.

Saat dikonfirmasi, Benny mengaku vonis itu sudah inkrah dan diklaim adil oleh majelis hakim.

“Dua bulan itu menurut majelis sudah adil. Dia kan mengakui perbuatannya, belum pernah dihukum dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Itu lah kita putuskan seperti itu setelah melalui musyawarah majelis hakim,” katanya saat ditemui usai acara halalbihalal dan perpisahan Ketua PN Sungailiat, Senin (10/6/2019).

Selain itu, Benny mengaku tidak ada kejanggalan dalam proses persidangan dengan 3 agenda sidang sekaligus yakni pembacaan tuntutan, pledoi dan langsung pembacaan vonis di hari yang sama yakni 27 Mei 2019.

“Tidak ada kejanggalan walaupun tuntutan, pledoi dan vonis dalam hari yang sama. Kan azas diperadilan itu cepat singkat dan biaya murah. Itu sudah sah gak masalah itu,” elaknya.

Menurut Benny, setelah divonis Asui masih menjawab putusan tersebut dengan pikir-pikir, sama dengan JPU. Namun hingga 7 hari berikutnya pihak Asui dan JPU tidak memberikan jawaban apapun sehingga vonis dinyatakan inkrah.

“Mereka pikir-pikir dulu waktu itu. Tapi setelah tujuh hari tidak melakukan apapun jadi putusan inkrah. Tujuh hari itu setelah vonis walaupun masih hari libur,” tukasnya.

Dikatakan Benny, setelah vonis, Asui harus menjalani 2 bulan masa hukuman di Lapas Bukit Semut, Sungailiat. “Dia harus menjalani hukuman dari nol hingga dua bulan ke depan,” imbuhnya.

Seperti dilansir, Asui divonis majelis hakim terbukti bersalah menampung, memanfaatkan dan mengolah timah yang bukan berasal dari pemilik IUP sebagaimana diatur Pasal 161 Undang-undang Nomor 4 tahun 2009, dengan hukuman pidana 2 bulan penjara dan denda Rp100 juta subsidair 1 bulan kurungan. Vonis itu lebih ringan satu bulan dari tuntutan JPU yang dibacakan dalam sidang sama yakni 3 bulan penjara.

Sebelumnya pada Oktober 2018, Asui dijadikan tersangka namun tidak pernah ditahan baik di kepolisian, kejaksaan maupun pengadilan negeri setelah tim Tipiter Bareskrim Mabes Polri melakukan penggerebekan di smelter PT PMP di kawasan industri Jelitik Sungailiat.

Polisi yang membuntuti satu unit truk mengangkut pasir timah kering sebanyak 9 ton dalam bag jumbo, menggerebek gudang smelter namun tak menangkap pemilik dan pengantar timah.

Setelah itu, polisi mengamankan barang bukti lain sebanyak 15 ton timah batangan di dalam gudang dan menyita sekitar 80 ton timah balok di gudang PT TKS milik PT PMP.

Ikut disita juga, truk, dua forklip, alat peleburan timah, dokumen-dokumen, sejumlah ponsel, buku-buku rekapan pembelian dan penjualan timah serta barang bukti lainnya.

Namun dalam vonis hakim, hanya 9 ton pasir timah dan satu unit truk yang ditetapkan dirampas untuk negara. Sedangkan barang bukti puluhan ton timah batangan dan lain sebagainya justru dikembalikan ke PT PMP dengan alasan JPU tidak berhasil membukti alat bukti tersebut merupakan hasil tindak pidana. (2nd/1)

Related posts