Warga Muntok Mulai Kesulitan BBM

  • Whatsapp
JEMBATAN DARURAT – Sebuah mobil minibus saat melewati jembatan darurat di Desa Belo Laut, Muntok, Senin kemarin (30/1/2017). Jembatan ini dibangun setelah jembatan permanen putus diterjang banjir akhir pekan lalu. Dinas PU sudah merakit jembatan bailey yang bisa digunakan hari ini. Untuk dua jembatan putus di Desa Mayang hingga kemarin masih mengandalkan jembatan darurat yang hanya bisa dilintasi sepeda motor dan pejalan kaki. (Foto: Hendra Irawan)

Tiga Jembatan Putus Diterjang Banjir
Tiga SPBU Kehabisan Stok
Hari ini Jembatan Bailey Dipasang

MUNTOK – Putusnya tiga jembatan yang menghubungkan jalur Muntok-Pangkalpinang di Desa Mayang dan Desa Belo Laut, Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat akibat bajir Sabtu lalu (28/1/2017), membuat stok bahan bakar minyak (BBM) di tiga Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) menipis. Akibatnya, warga Muntok dan sekitarnya mulai kesulitan mendapatkan BBM.
Seperti Senin kemarin (30/1/2017), sejumlah warga mulai mendatangi SPBU, bahkan ada yang mendorong sepeda motornya untuk mendapatkan BBM. Namun sayangnya, pihak SPBU tidak dapat berbuat banyak karena BBM baik itu premium atau pun solar, sudah kehabisan stok. Ini karena truk tangki BBM dari Kota Pangkalpinang tidak bisa masuk ke Muntok sejak Sabtu, akibat jembatan putus diterjang banjir.
Pemilik SPBU Pal 3, Muntok, Wira kepada wartawan membenarkan kondisi warga mulai kesulitan BBM. Dan ia tak menampik salah satu sebabnya karena truk tangki BBM dari Depot Pertamina Pangkalbalam di Pangkalpinang tidak bisa lwat akibat jembatan putus.
“Kita sudah order ke pihak Pertamina, terakhir kita menerima suplay BBM Jumat siang (27/1/2017). Dan sampai hari ini Senin (30/1/2017), DO BBM yang diajukan belum terealisasi. Tiap hari kami mengirimkan DO ke pihak Pertamina. Tetapi kemungkinan terputusnya pasokan BBM karena jembatan Mayang yang putus,” kata Wira kemarin.
Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bangka Barat, Suharli saat dihubungi wartawan harian ini Senin (30/1/2017) malam mengakui akibat ambruknya tiga jembatan itu, saat ini warga masih mengandalkan jembatan darurat. Sedangkan pengerjaan jembatan bailey terus dikebut dan dipekirakan baru bisa digunakan hari ini, Selasa (31/1/2017).
“Jembatan darurat di Desa Belo Laut hari ini (kemarin-red) sudah bisa dilalui kendaraan roda empat dengan kapasitas maksimal empat ton. Sedangkan truk dengan muatan penuh harus melalui jalan alternatif Kampung Rintis,” ujarnya.
Untuk pengerjaan jembatan bailey kata Suharli, pada Senin (30/1/2017) sore telah selesai dirakit dan akan dipasang keesokan hari. “Tadi sore jembatan bailey sudah selesai ditakit, besok tinggal ditarik ke posisinya dan mudah-mudahan langsung bisa digunakan,” imbuhnya.
Jembatan itu memiliki panjang 15 meter dan lebar empat meter serta mampu dilintasi kendaraan dengan beban maksimal 10 ton. Untuk dua jembatan yang putus di Desa Mayang hingga kemarin masih mengandalkan jembatan darurat yang hanya bisa dilintasi sepeda motor dan pejalan kaki.
“Informasi terakhir masih dalam perhitungan Satker Jalan Nasional Propinsi dan akan didatangkan jembatan bailey dari Palembang,” tukasnya.

PLN Pulihkan Listrik

Mengenai aliran listrik yang sempat dipadamkan karena banjir, PLN Wilayah Bangka Belitung menyatakan sudah memulihkan jaringan listrik secara keseluruhan di sejumlah lokasi di Muntok. Sejak Minggu siang (29/1) pukul 12.45 WIB, listrik di Muntok sudah menyala semua. Pasokan listrik dialihkan dari Gardu Induk (GI) Kelapa.
Deputy Manajer Humas-Hukum PLN Babel, Agus Yuswanta mengatakan, saat banjir terjadi sebanyak 14 gardu distribusi padam, 5 tiang tegangan menengah dan 1 tiang tegangan rendah rusak. Akibatnya, sekitar 280 pelanggan terpaksa dihentikan aliran listriknya untuk keamanan dan keselamatan warga.
“Kami menurunkan tujuh tim secara 24 jam untuk memulihkan kondisi tersebut. Semoga hari ini (kemarin-red) selesai semua,” katanya.
Ia menambahkan, pemulihan jaringan listrik dilakukan bertahap mulai dari Sabtu (28/1/2017) malam. Titik-titik gangguan yang belum dapat diperbaiki karena tidak bisa mengakses lokasi tersebut berhasil dilokalisir, sehingga pelanggan tetap teraliri listrik.
“Saat ini 37 petugas PLN sedang memperbaiki 5 tiang roboh dan miring di Desa Mayang. Tim kami menggunakan rakit untuk seberangkan tiang listrik. Dengan dibantu warga sekitar pekerjaan menjadi lebih cepat,” tandasnya.
“Hingga pukul 19.00 tinggal satu tiang yang belum berdiri. Mohon dukungan doanya, agar semua pekerjaan pemulihan dapat berjalan lancar dan selamat,” pungkasnya.

90 % Buku Rusak

Untuk banjir di Kabupaten Bangka yang merendam Sekolah Dasar (SD) Negeri 6 Desa Deniang, Kecamatan Riau Silip pada Minggu (29/1/2017), kini sudah surut. Pascabanjir, sejumlah guru, murid, orang tua murid serta warga setempat, Senin pagi (30/1/2017) bergotong royong membersihkan sisa-sisa lumpur yang masuk ke dalam ruang kelas.
Proses membersihkan sekolah ini tampak dibantu tim Badan Penggulangan Bencana Pemrintah Kabupaten Bangka, dengan menurunkan 2 unit mobil Dinas Pemadam Kebakaran untuk membersihkan lumpur-lumpur di dalam kelas.
Tak hanya itu, para siswa dan sejumlah guru memisahkan buku-buku di dalam ruang perpustakaan yang masih bisa digunakan. Meski hampir 90 persen buku yang berada di perpustakaan rusak parah akibat terendam air.
Helmi, Kepala SDN 6 Desa Deniang kepada wartawan mengatakan, pihaknya akan mengumpulkan barang-barang yang mengalami rusak parah, lantaran itu barang inventaris sekolah.
“Kami berbenah benah mengeluarkan buku-buku yang sudah terendam, biar bisa kami cek lagi buku yang mana yang masih baik dan rusak. Soalnya buku ini kan inventaris, dan untuk kita laporkan ke dinas,” katanya.
Ia menambahkan, atas kejadian banjir itu pihak sekolah terpaksa meliburkan murid hingga 3 hari kedepan. Kita gotong royong ini dibantu sejumlah murid, wali murid serta warga sekitar. Dan untuk siswa sendiri kita sudah umumkan mereka kita liburkan selama tiga hari, sampai kondisi sudah bersih semua,” tambahnya seraya menyebutkan banjir yang merendam sekolah sudah merusak sejumlah barang-barang, termasuk bangunan sekolah.

Pemprov Support

Sementara itu, sebagai respon terhadap situasi terkini bencana di Bangka, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melakukan rapat internal. Setelah mendapatkan informasi dari Tim Reaksi Cepat (TRC) Penanggulangan Bencana Daerah dan arahan Sekda Babel, tim langsung menuju daerah yang mengalami musibah bencana.
Selain terjun ke Kabupaten Bangka Barat, tim TRC Babel juga menuju Kabupaten Bangka, tepatnya ke Desa Deniang dan Kampung Cit di Kecamatan Riau Silip yang mengalami banjir.
Tim langsung dipimpin Suharto, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Babel sejak Minggu (29/1/2017). Suharto menyaksikan serta berdiskusi dengan Pemkab Bangka dan perangka Desa Deniang.
Menurut Suharto, hujan yang terus menerus mengguyur Bangka menyebabkan SD Negeri 6 Deniang Riau Silip terendam. Bahkan sebagian rumah di sekitar SD tersebut juga terendam banjir yang diakibatkan meluapnya sungai di lokasi itu. Sehingga sebagian warga sempat diungsikan oleh Pemda Bangka.
“Pemprov Babel langsung bertindak cepat ketika ada telepon dari Pemkab Bangka bahwa ada wilayah yang terkena banjir. Dalam pertemuan di lapangan dengan pejabat Pemkab Bangka, kita telah mendapatkan informasi terkini tentang beberapa daerah yang terendam banjir, seperti di daerah Parit Pekir, Sidodadi, Deniang, maupun Kampung Cit. Untuk mengantisipasi hal tersebut, saya sudah meminta Komunitas Jeep Bangka untuk membantu Pemda memberikan bantuan tenaga, pikiran dan sumber daya lainnya. Ini sangat penting dilakukan karena masalah bencana merupakan keadaan yang harus dapat diselesaikan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Harapannya masyarakat dapat merasakan kehadiran kami disini sebagai perwakilan Pemprov,” paparnya.
Kepala Bappeda Kabupaten Bangka, Pan Budi menambahkan, untuk mengantisipasi kejadian banjir tersebut, Pemda Bangka telah berencana memindahkan SD 6 Deniang ke daerah lapangan bola dekat Kantor Desa Deniang. Pasalnya di sekitaran SD tersebut dilewati dua aliran sungai yang bertemu, yaitu sungai dari Pekul dan Cit.
“Akibat banjir di SD tersebut, maka aktivitas belajar mengajar diliburkan sekitar tiga hari. Dan pada tahun ini juga seluruh aktivitas di SD 6 Deniang akan dipindahkan dekat lapangan bola dekat Kantor Desa Deniang. Kita akan segera menyelesaikan seluruh proses administrasi karena sebagian lahan untuk SD tersebut masuk kawasan hutan lindung. Hal tersebut sudah kami laporkan kepada Pemprov agar proses pemakaian kawasan hutan lindung dapat segera diselesaikan pada tahun ini juga”, jelasnya. (wan/nov/2nd/1)

Related posts