by

Warga Keluhkan Limbah Sawit CV MAL

Tumpukan bekas tandan sawit yang dibakar di areal perkebunan CV MAL ini, diduga salah satu pemicu bau tak sedap. Tampak kepulan asap bekas sisa pembakaran yang diyakini berpotensi menyebabkan polusi udara. (Foto: M. Tamimi)

Bau Menyengat Hingga ke Pemukiman
Perusahaan Bantah, Minta Buktikan

KOBA – Masyarakat Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah mengeluhkan bau tidak sedap yang menyengat berasal dari limbah kelapa sawit perusahaan perkebunan sawit dan CPO CV Mutiara Alam Lestari (MAL). Pasalnya, limbah yang mengeluarkan aroma menyengat itu ditiup angin ke permukiman penduduk, sehingga warga merasa terganggu.
Untuk memastikan keluhan bau tak sedap limbah sawit tersebut dari warga, wartawan harian ini ikut turun ke lapangan dan menemukan sejumlah titik limbah yang memang didederkan di atas permukaan tanah untuk kegiatan ujicoba. Selain itu, ditemukan juga sejumlah titik pipa yang dialirkan ke daerah sungai.
Di tempat lain, terdapat juga pembakaran sisa tandan sawit yang dibuang ke penampungan di pertengahan perkebunan kelapa sawit. Akibat pembakaran itu, mengeluarkan asap pekat dan tebal yang sangat rentan terjadinya polusi udara.
Doni (25), yang mengaku warga Kota Koba membenarkan dirinya belakangan ini mencium aroma tak sedap limbah kelapa sawit. Menurutnya, bau busuk itu diyakini memang berasal dari limbah pabrik CV MAL.
“Bau busuk mulai menyengat pada malam hari atau dalam kondisi lembab. Saya enggak tahu apa penyebabnya. Cuma kalau pada siang hari justru baunya tidak ada,” ujarnya di Koba, Rabu (31/5/2017).
Kehadiran bau menyengat tersebut menurutnya jelas sangat mengganggu dan dikhawatirkan akan berpengaruh pada kesehatan jika sudah keseringan mencium bau itu. Intinya, aroma tak sedap ini tidak bisa dibiarkan terus menerus dan harus disikapi.
“Pabrik CPO ini berada di tengah kota. Kalau ada bau busuk yang ditimbulkan dari limbahnya, pasti mengganggu warga kota. Saya minta pemerintah daerah bisa bersikap. Karena mayoritas warga merasa terganggu dengan adanya bau itu,” ungkapnya.
Bukan hanya Donni, warga lain yang mengaku bernama Amat (31) juga mengeluhkan bau limbah hingga mencapai Desa Arung Dalam. Amat mengaku sering mencium aroma busuk limbah ketika selesai Sholat Tarawih dan sedang bersantai di kediamannya. Baginya, bau busuk itu sangat menyengat hingga mengganggu penciuman.
“Kadang-kadang munculnya tidak setiap saat. Pas kita lagi nyantai, tiba-tiba ada bau limbah. Ya terpaksa masuk dan tutup pintu. Karena baunya sangat menyengat sekali,” katanya.
Sementara itu, Manager Pabrik CV MAL, Ubaydillah saat dikonfirmasi terkait keluhan warga ini mengaku tidak ada sama sekali bau busuk yang ditimbulkan dari aktifitas pabrik maupun limbah CV MAL. Ia justru menantang warga untuk datang ke pabrik guna membuktikan bau ini ada atau tidaknya.
“Di sini (pabrik-red) tidak bau. Kalau ada bau, silakan datang ke pabrik dan cium saja ada atau tidaknya. Saya sendiri tinggal di dalam kompleks perumahan (CV MAL-red). Tapi, gak ada bau apapun,” katanya saat dihubungi wartawan, Kamis (1/6/2017).
Terkait aktivitas pembakaran bekas tandan buah sawit, ia juga menyangkal. Kalaupun ada pembakaran, menurutnya mungkin pembakaran dalam kapasitas kecil saja. Malah, terkadang disampaikannya bahwa ada masyarakat justru yang meminta untuk dibakar.
“Kalau tandan kosong, memang tidak ada bakteri lagi dan bagus untuk pupuk. Mungkin itu cuma terbakar-bakar kecil saja. Karena belum ada laporan yang saya terima. Memang abunya untuk pupuk dan masyarakat pun juga kadang ada minta untuk dibakar,” terangnya.
Sehubungan dengan adanya pipa yang terpantau oleh harian ini dipasang di pinggir Sungai Guntung, Ubay mengaku tidak ada pipa limbah di pinggir sungai. Ia justru berdalih pipa tersebut digunakan sebagai pengendali lahan perkebunan dari dampak banjir.
“Kalau di pinggir sungai tidak ada pipa (limbah-red). Kalaupun ada itu untuk underbow, letaknya perbatasan antara lahan kebun dengan sungai yang difungsikan untuk mengendalikan kelebihan air di lahan perkebunan agar kebun tidak terendam. Yang lebih tau orang bidang perkebunan. Tapi, terima kasih informasinya dan akan segera kita tindaklanjuti,” tukasnya. (ran/6)

Comment

BERITA TERBARU