by

Warga Dobrak Peternakan Babi

-NEWS-238 views
TENANGKAN WARGA – Sekda Bangka Feri Insani didampingi Wakapolsek Sungailiat, tampak berada di tengah-tengah kerumunan menenangkan warga yang mulai gaduh memprotes peternakan babi CV. KJF. Kisruh sempat terjadi saat oknum polisi melarang warga memasuki peternakan. (Foto: C. Susanti)

Dipicu Dilarang Masuk oleh Oknum
Direktur CV KJF Penuhi Tuntutan Warga

SUNGAILIAT – Puluhan warga Parit 7 dan Lubuk Kelik, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, kembali mendatangi peternakan babi milik CV Kenanga Jaya Farm (KJF), Sabtu (2/12/2017). Kedatangan warga mempersoalkan belum juga dipindahkannya babi-babi yang diternak KJF, sementara limbah peternakan dan bau tak sedap terus menyerang ke permukiman penduduk.
Hanya saja, dalam kedatangan warga kali ini sempat diwarnai kisruh. Warga nekad
mendobrak pintu masuk peternakan babi setelah dipicu mendengar ucapan seorang oknum anggota Brimob berpangkat perwira dari dalam pintu masuk peternakan.
“Yang tidak berkepentingan dilarang masuk,” ucap pria itu kepada warga.
Mendengar itu, puluhan warga justru memaksa masuk ke dalam peternakan babi. Terlebih warga menegaskan dalam pertemuan dengan pemilik peternakan, semua warga yang hadir harus dilibatkan dan mengetahui proses pengosongan peternakan.
“Ini warga ya, kenapa kamu melarang kami masuk. Kamu siapa, kamu siapa,” ucap warga yang mulai kisruh.
Keadaan pun berhasil diredam setelah puluhan personil Polres Bangka bersama Satpol PP Bangka dibantu Bhabinsa setempat menenangkan warga untuk tidak melakukan aksi anarkis.
Menurut Hendri warga setempat, pria yang melarang masuk warga ke dalam peternakan tersebut dianggap tidak menghargai warga yang datang.
“Kalau dia tidak memperbolehkan warga masuk, berarti dia tidak menghargai kita. Kan yang hadir disini orang tua semua,” katanya.
Hendri menegaskan, sikap pria yang mengaku pekerja di peternakan babi itu telah memancing emosi warga. “Kami datang ke sini dengan tertib, tapi dengan ulah dia warga sempat terpancing emosinya,” ujar dia.
Sementara pria yang belakangan diketahui bernama Reza saat dikonfirmasi membantah tudingan warga tersebut. Ia menyatakan bukan menghalangi warga untuk masuk ke dalam peternakan. “Bukan ngalangin, tadikan saya yang buka, cuma didorong,” tukasnya.
Saat ditanya kapasitas dirinya selaku apa di peternakan tersebut, Reza mengaku sebagai pekerja. “Saya bukan siapa siapa, tapi pekerja di sini juga,” imbuhnya.
Belakangan baru diketahui, ternyata pria bernama Reza yang sempat menghalangi warga masuk tersebut adalah seorang oknum perwira polisi yang bertugas di Pangkalpinang.
“Dia itu perwira Brimob dan saya kenal dengan beliau,” ujar salah satu anggota Polres Bangka saat melakukan pengamanan di dalam lokasi peternakan tersebut.
Tak lama berselang, Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka, Feri Insani datang ke lokasi didampingi Wakapolsek Sungailiat, Iptu Joko usai menerima laporan warga dan bawahannya. Hadir pula Ketua DPRD Bangka, Parulian Napitupulu didampingi anggota Komisi C DPRD Bangka, Firdaus Djohan.
“Karena ini sudah gaduh, saya minta tutup dan pindahkan semuanya,” kata Feri kepada pemilik peternakan di hadapan puluhan warga.
Kepada Satpol PP Bangka, Sekda meminta untuk memonitoring proses pemindahan ternak babi tersebut dari lingkungan setempat. “Pol PP saya minta pantau dan hari ini juga harus dipindahkan,” imbuhnya.
Terhadap instruksi itu, akhirnya pemilik peternakan babi, Edwin yang hadir di tengah masyarakat menuruti keinginan warga. Termasuk memenuhi permintaan Sekda agar babi-babi tersebut dikeluarkan dari peternakan. Edwin berjanji akan mengeluarkan babi-babi setelah proses perizinan untuk mengeluarkan ternak dikeluarkan dinas terkait.
“Kita setuju Pak ini dikeluarkan, tapi kita lagi nunggu suratnya karena ini (babi) akan dibawa ke Jakarta,” ujarnya.
Mendengar alasan tersebut, Sekda menegaskan hewan ternak babi harus dikeluarkan saat itu juga mengingat kondisi lingkungan setempat mulai tidak kondusif.
“Baik, kalau tidak mau keluar situ anda keluarkan dari lingkungan ini dulu ke tempat mana saja yang tidak menimbulkan masyarakat gaduh,” tegas Feri.
Kepada masyarakat Sekda meminta untuk tetap kondusif mengingat keputusan yang ia ambil merupakan final untuk peternakan tersebut.
“Saya minta masyarakat tetap kondusif karena hari ini kita putuskan babinya dipindahkan dari lingkungan ini. Untuk itu, kita minta masyarakat untuk tidak anarkislah,” tukasnya.
Untuk permasalahan limbah yang diduga telah mencemari lingkungan sekitar, Sekda meminta kepada pemilik peternakan untuk membersihkannya sehingga bau yang timbulkan tidak mencemari lingkungan setempat.
Ditambahkan Sekda, Pemerintah Kabupaten Bangka pada umumnya tidak pernah melarang siapapun melakukan usaha di daerah ini dengan catatan tidak menimbulkan gejolak di masyarakat.
“Tapi kalau masyarakat sekitar terus bertanya ngomong segala macem, itu berarti masalah karena masyarakat sudah gaduh,” tambahnya.
Sementara itu, Wakapolsek Sungailiat, Iptu Joko mengimbau masyarakat Parit 7 dan Lubuk Kelik dapat menghormati keputusan yang telah disepakati dengan menjaga keamanan lingkungan agar tetap kondusif.
“Jadi ini pernyataan sudah jelas, komitmennya pemerintah dengan pemilik, masyarakat juga harus menghormati karena untuk evakuasi ini tidak bisa dilakukan sekaligus, mohon untuk dimengerti,” harapnya.
Selain itu, terkait permasalahan limbah, Wakapolsek meminta pemilik peternakan untuk membersihkan sehingga mengurangi bau seperti dikeluhkan oleh masyarakat. Lurah setempat pun, Yudhi meminta kepala lingkungan untuk memantau proses pemindahan babi dan penyedotan limbah.
Senada dengan itu dikatakan Ketua DPRD Bangka, Parulian Napitupulu yang menegaskan bahwa keputusan sekda final dengan garis bawah pemilik peternakan diwajibkan mengosongkan hewan ternak dan mengatasi masalah limbah yang ditimbulkan.
Atas keputusan tersebut, pemilik peternakan babi, Edwin dihadapan warga bersedia memindahkan semua hewan ternak dari lingkungan setempat ke tempat lain dan akan membersihkan limbah di peternakan. (snt/1)

Comment

BERITA TERBARU