by

Warga Babel Jadi Pengusaha Sukses di Jogja

-NEWS-917 views
Budhi Winarno, pria asal Bangka yang sekarang sukses menjadi pengusaha di Yogyakarta ketika menerima Gubernur Babel dan istri melihat tempat usahanya di Jalan Patehan Kidul, Keraton Yogyakarta, Jumat (24/3/2019). (Foto: Nurul Kurniasih)

Modal Awal Rp200 Ribu, Kini Omset Rp250 Juta
Geluti Usaha Printing hingga Baju Kaos

Nekat dan penuh semangat, itulah modal awal yang dimiliki Budhi Winarno. Pria asal Bangka Belitung kelahiran 1979 ini, sekarang sukses menjadi pengusaha di Kota Gudeg, Yogyakarta.
Sejak lulus SMA sekitar tahun 1994, Budhi berangkat ke Yogyakarta bukan untuk melanjutkan pendidikan atau kuliah, tetapi tertarik untuk belajar nyablon, printing dan desain grafis.
“Dulu kenal komputer juga di sini. Saya belajar dan tau bagaimana cara nyablon, awalnya bikin usaha pembuatan kartu nama, stiker dan sebagainya. Itu sekitar tahun 1995 hingga 1996,” ceritanya ketika disambangi wartawan harian ini di tempat usahanya di Jalan Patehan Kidul Nomor 4 Keraton Yogyakarta, Jumat (24/3/2019).
Dengan modal Rp200.000, Budhi lantas membeli peralatan printing, screen sablon dengan kelengkapannya. Dan kini dengan ilmu yang didapatnya secara otodidak, Budhi bisa meraih sukses.
“Buat stiker dititip di beberapa tempat, tiap bulan cek kontrol stok dan bawa barang lagi, terus hingga empat tahun dapat order yang agak besar,” kenangnya.
Meskipun menggeluti usia mikro kecil dan menengah, Budhi mengaku tidak mendapatkan kesulitan berarti, dan usahanya malah kian meningkat.
“Enggak sampai dua tahun sudah nambah asset. Pada saat krisis moneter (1998) justru itu momen baik bagi saya karena banyak peluang, harga dapet stok lama, nilai rupiah berubah, dan perkembangan bagus lah,” imbuhnya.
Pada tahun 2001, Budhi menikahi gadis pujaannya asal Jogjakarta, dan kini sudah memiliki tiga orang anak. Meski bertempat tinggal di Kota Pendidikan itu, pria ini sesekali pulang juga ke kampong halamannya di Bangka.
“Awal menikah belum punya rumah masih ngontrak, sekarang Alhamdulillah sudah punya empat rumah dan kebun,” kisahnya.
Setelah beberapa tahun hanya menggeluti dunia printing dan desain grafis, Budhi kemudian mulai melirik usaha pakaian. Pembuatan kaos yang menjadi salah satu buah tangan pelancong yang datang ke Yogyakarta, dengan brand Greeng T-Shirt dan Greeng Printing pun digiatkannya.
“Ngerambah kaos itu pada tahun 2000. Awalnya stiker kop surat, kartu nama, postcard, liflet, gantung kunci. Sekarang omzet Rp250 juta naik turun per bulan, tapi kalau event banyak Alhamdulillah,” tukasnya.
Awalnya, Budhi hanya mempekerjakan 4 orang pekerja saja, tapi sekarang karyawannya sudah 45 orang, yang kebanyakan warga Yogyakarta. Pernah ia membawa kerabat dekat di Bangka untuk ikut bekerja, namun gak bertahan lama karena mental dan tekad yang belum kuat.
“Pernah bawa ke sini untuk sekalian belajar, tapi mereka enggak betah, mungkin karena kurang tekun dan telaten, kurang tangguh sehingga rata-rata belajar hanya setahun,” ulasnya.
Saat ini, ada dua orang warga Babel yang ikut bersama dengan Budhi untuk bekerja. Dia berharap didikannya ini kelak bisa membuka usaha sepertinya juga di Bangka.
“Sebetulnya dua minggu saja urutan proses sudah dikuasai tergantung skill mau dikuasai atau enggak,” ujarnya.
Budhi mengaku senang bisa mengajak serta warga Bangka dalam usahanya. Karena ia sangat ingin berbagi ilmu dan sukses kepada saudara-saudaranya di daerah.
Kini, Budhi sudah memiliki anak perusahaan yang mengelola berbagai bidang usaha, baik kaos, printing maupun desain grafis, branding mobil dan percetakan. Untuk kaos oblong dengan desain menarik dan bahan yang lembut serta tebal, dibandrolnya mulai dari Rp45.000 hingga Rp150.000. Bahkan kaos jumper mencapai kisaran Rp250 ribu.
“Bahan baku kaos kita datangkan dari Bandung, disini baru kita olah, didesain, kemudian disablon dan lainnya,” beber dia.
Ketika dikunjungi Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman di rumah produksinya, Budhi juga tampak menjelaskan proses desain, percetakan hingga produksi pakaian ini. Ditemani sang istri, Erzaldi melihat proses pembuatan pakaian, dan tertarik untuk mengirim generasi di Babel belajar dengan Budhi.
“Nanti selain ngirim orang untuk dilatih, jika ada orderan kita arahkan ke Greeng ini, luar biasa, kreatif dan inovatif. Ini patut menjadi contoh,” kata gubernur.
Ia berharap, nantinya dalam beberapa pelatihan Budhi bisa menjadi pengajar ketika ada pendidikan latihan atau sejenisnya. Erzaldi mengaku tak menyangka, Budhi Greeng bisa sukses di tanah Jawa. Ia berharap nantinya lahir Budhi-Budhi lain dari Babel yang juga sukses.
“Usaha ini (kaos) di Babel cukup lumayan pangsa pasarnya, apalagi kita sebagai daerah tujuan wisata, misalnya kaos-kaos yang punya ciri khas, Muntok Heritage misalnya,” tandas Erzaldi yang akhirnya membeli sejumlah kaos-kaos produksi Budhi Greeng. (nurul kurniasih)

Comment

BERITA TERBARU