Warga Ancam Bakar Pabrik PT BAA

  • Whatsapp

Bau Limbah Sangat Mengganggu
Sebut Aspirasi ke Dewan Mantul

SUNGAILIAT – Masyarakat Desa Kenanga kembali meradang dengan bau menyengat yang dikeluarkan oleh limbah pabrik PT Bangka Asindo Agri (PT BAA). Bau tak sedap tersebut baru kembali lagi sekitar dua minggu lalu setelah setahun menghilang.

Sebagian warga bahkan mengancam akan bertindak jika bau limbah pabrik tidak segera hilang dilantaran dirasakan sangat mengganggu.

Ketua RT 05 Kelurahan Kenanga, Samsul mengatakan bau busuk itu bukan pertama kalinya terjadi dan sudah pernah diadukan ke DPRD Bangka dan DPRD Babel namun tidak ada penyelesaian.

“Bau ini sudah lama, ini perjuangan kita yang kedua, kemarin kita ke DPRD Bangka mantul, ke provinsi juga mantul. Kita sepakat jika tidak ada penyelesaian, warga akan berkumpul dan bakar perusahaan ini,” ungkapnya, Senin (28/10).

Ketua RT 07, Heti juga mengatakan pihaknya sudah menyampaikan keluhan warga ke pihak perusahaan dan akan terus berjuang dalam memperjuangan haknya.

“Kita sudah sampaikan ke pabrik, mereka juga juga sudah tau itu. Kita mengadu lagi ke dewan yang baru terpilih ini guna menanyakan amdal dan posisi perusahaan yang sangat dekat dengan pemukiman. Kita akan berjuang bila perlu sampai kekementrian,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan hampir seluruh masyarakat Kenanga sudah setuju agar PT BAA tersebut untuk ditutup karena saat pengaduan sebelumnya pihak DPRD Provinsi Babel sudah menyatakan terjadi pelanggaran perda terkait amdal.

“Kita sudah mengumpulkan tanda tangan seluruh masyarakat untuk menuntut perusahan itu ditutup. Dulu pihak DPRD Provinsi menyatakan perusahaan ini melanggar amdal tapi hingga sekarang tidak ada tindakannya,” terang Heti.

Kaling setempat, Suryadi menambahkan bukan hanya bau, warga juga takut air dari limbah perusahaan tersebut juga akan mencemari sumber air bersih warga karena tempat limbah PT BAA tidak menggunakan cor ataupun beton.

“Sepengetahuan kami cuma bau tapi kita juga takut air juga kena karena air limbahnya tidak pakai beton, kalau air ini meresap ketanah dan bercampur dengan air tanah bisa berdampak ke kesehatan warga apa lagi posisinya (perusahaan dengan pemukiman) terlalu dekat kalau diukur mungkin jaraknya tidak sampai satu kilo,” tambahnya.

Ia juga mengatakan pihaknya juga tidak pernah dilibatkan saat adanya rencana pembangunan pabrik tapioka tersebut.

“Ada ormas dan tokoh masyarakat pernah menandatangani itu tapi kami tidak tau. Makanya kami kaget amdalnya bisa keluar padahal jaraknya dekat pemukiman,” terang Suryadi.

Sementara itu, Taufik Koriyanto yang datang bersama dengan anggota DPRD Bangka lainnya mengatakan akan membawa persoalan tersebut dalam Banmus tanggal 1 November 2019 nanti.

“Kita akan merapatkan persoalan ini di banmus dan memanggil pihak-pihak terkait. Jika memang ada pelanggaran hukum, kita akan menyampaikan rekomendasi ke pemda untuk memberikan sanksi yakni pencabutan izin atas operasionalnya,” ungkap Ketua Fraksi Partai Gerindra tersebut.

Taufik juga menyampaikan pihaknya akan lebih serius dalam mengawal kasus ini dan akan turun langsung melihat kondisi di lapangan.

“Inikan pengaduan kedua ke kita, mungkin waktu yang pertama teman-teman kita kurang serius dan fokus. Dengan kondisi pimpinan yang baru ini maka harus berani mengambil sikap tegas, ini sebagai bentuk kontrol dan pengawasan kita,” terang anggota komisi II DPRD Bangka tersebut.

Pimpinan PT BAA, Fitriyanto mengaku beberapa waktu ini memang ada sedikit bau namun hanya bersifat sementara dan sebentar-sebentar.

“Memang ada sedikit bau tapi tidak seperti dulu, kita lagi dalam tahap speed up proses biologisnya, semoga dalam waktu beberapa saat bau yang masih ada sedikit-sedikit ini akan bisa teratasi,” ungkapnya saat dihubungi melalui pesan singkat.(mla/6)

Related posts