Wanita Diujung Malam

  • Whatsapp

Karya: Rusmin

Sudah genap dua tahun, wanita muda ini menghiasi malam-malam yang gemerlap di jalanan utama kota. Posisi duduknya pun tak pernah berubah. Di belakang warung mie di pelataran toko-toko barang kelontongan.
Sorot matanya tak berkedip memandangi jalanan yang bising ulah knalpot kendaraan yang saling bersahutan. Terkadang, ketika gairah malam hadir di syaraf biologis, dia ikut mobil yang menyapanya lewat sirene klakson. Arungi malam nan indah menuju puncak kegelisahan. Pusat kesesatan duniawi. Mengubah malam yang penuh bintang gemintang sebagai rumah kesesatan. Menjadikan malam yang terang benderang sebagai rumah kegelapan.
Namun tak setiap malam dia memperlakukan malam sebagai rumah kegelapan atau kesesatan. Hanya ketika mood lagi menyapanya.
Sudah genap dua tahun pula, wanita muda itu selalu pulang ketika beduk subuh bergemuruh. Saat pulang ke rumah pun, selalu berpapasan dengan para jemaah masjid yang menunaikan Sholat Subuh. Anggukan kepala tanda hormat, selalu ia berikan kepada mareka. Dan tanpa sapa.
Sudah genap dua tahun pula, wanita muda yang bernama Prisa ini selalu terbangun pada saat orang-orang mulai bergegas pulang kantor. Dan saat itu juga, rutinitas yang akan dilakoninya mulai bergerak dan menggeliat. Berganti busana yang dikolaborasikan dengan dandanan ala penghias malam. Dan usai para jemaah Sholat Isya pulang dari masjid, Prisa segera melangkah pasti menuju tempatnya berekspresi untuk menghias malam jalanan kota.
Empat tahun silam, Prisa adalah seorang wanita muda penuh energi. Kepindahannya ke kota ini semata-mata berharap masa depan cerah. Berbekal nasihat sakral dari orangtua dan diiringi niat untuk membantu mengeskalasikan derajat keluarga, mendamparkannya di kota ini. Kala itu, angan kesejahteraan pun terhampar membentang luas di otak ambisinya yang meninggi.
Berbekal surat sakti kerabatnya yang bekerja di Kantor Kabupaten, Prisa mulai berkarya meraih impian. Berbekal ijazah sekolah sekretaris di ibukota dan pribadi yang riang, membuat Prisa gampang membaur dan bergaul.
Tapi pertemuannya dengan salah satu Kepala Kantor Cabang perusahaan susu yang dipanggil Pak Kakan dalam suatu acara promosi, telah merubah 180 derajat arah kehidupannya. Pertemuan pertama itu sudah membuatnya terhanyut dan terapung dalam keindahan gelombang kehidupan duniawi.
Pertemuan kedua, ketiga, dan pertemuan-pertemuan berikutnya telah membuat keduanya saling berbagi cerita. Saling menebar angan-angan. Saling menjamu keinginan antara satu dengan yang lainnya. Saling menciptakan simbiose mutualisme.
Senyum nan menggoda, diiringi dengan sikap kedewasaan dan kesederhanaan Pak Kakan, telah membuat Prisa benar-benar terjatuh dalam pelukan impian dunia yang tak terperikan. Pak Kakan yang dikenal para kolega sebagai penganut moralitas tinggi, membuat Prisa jatuh dalam mimpi-mimpi hidup nan mengangkasa. Meski hubungan itu sempat ditentang kerabatnya, Prisa maju tak gentar melawan arus kodrati.
“Apa yang kamu harapkan dari seorang pria manula yang pelit dan kikir itu?” tanya kerabatnya penuh keheranan.
“Dan kamu jangan mimpi akan harta-harta itu. Semuanya milik keluarganya. Milik anak-anaknya,” sambung kerabatnya lagi.
“Kami tahu siapa laki-laki itu. Kami tahu watak dan karakternya. Kami sudah berabad-abad berkumpul. Kami sudah sangat hapal dengan tingkah lakunya,” teriak Ibu Gosip, kerabat Prisa dengan suara meninggi penuh emosional.
“Kamu harus ingat kehormatan keluarga kita. Kita adalah keluarga baik-baik. Keluarga terhormat. Keluarga terhormat,” sahut kerabat yang lain dengan nada pekikan.
Prisa diam seribu bahasa. Membisu. Tak menjawab. Bungkam. Mulutnya terkunci rapat-rapat. Tak satu katapun meluncur dari bibirnya.
Lalu, kegundahan dan kegelisahan Pak Kakan atas riak gelombang kehidupannya membuat Prisa merasa iba. Kata-kata dan diksi yang terlontar dari mulut bau Pak Kakan telah memabukkan pikiran alam sadar Prisa yang cerdas dan bernas. Membutakan matahatinya yang putih bersih. Kecerdasannya tak mampu menghalau raungan rangkaian kata-kata puitis Pak Kakan. Prisa pun terjatuh. Tergolek dalam buaian. Terbuai mimpi-mimpi. Larut dalam gelombang angan-angan.
Dan suatu malam ketika bulan purnama, malam yang penuh dengan bintang gemintang itu telah merusakkan sendi-sendi etika kehidupan Prisa dan Pak Kakan sebagai manusia. Malam yang bermandikan taburan cahaya indah itu telah meluluhlantakkan naluri keduanya. Malam yang penuh dengan kerupawanan itu telah membuat Prisa dan Pak Kakan lupa. Lupa akan etika kehidupan. Lupa akan norma-norma agama. Lupa akan moralitas. Lupa akan status diri mareka. Lupa akan nasihat para orangtua. Lupa akan segalanya. Hanya kesejatian mimpi yang membuat keduanya bersatu padu menatap jantannya malam yang bertaburkan cahaya keindahan.
Lolongan mengerikan dari anjing malam yang tak bertuan, menjadi saksi bisu malam kesesatan itu. Lenguhan dengus kucing hutan pun menjadi saksi malam hitam pekat itu.
“Aku akan segera ke dusun. Ketemu orangtuamu. Aku ingin kita segera bersama menatap kehidupan ini,” ujar Pak Kakan dengan nada kalimat penuh tanggungjawab.
“Terimakasih, Pak,” sahut Prisa dengan kegembiraan tak terperikan.
Empat puluh hari usai peristiwa malam jalang itu, adalah hari yang penuh tragedi bagi Prisa. Sebuah bencana besar datang dan menghampiri dirinya. Takkan pernah terlupakan dalam memori otaknya. Kedatangan seorang wanita cantik berkulit putih ke rumahnya telah memusnahkan asa. Memusnahkan harapan hidupnya yang sedang menyala-nyala bak api unggun. Menyesali malam yang penuh kesesatan itu. Menyesali malam yang bertabur kegelapan itu. Menyesali apa yang telah terlakukan.
“Saya hanya ingin katakan pada saudari. Jauhi ayah anak-anak saya. Masih banyak pria muda di dunia ini. Bermartabatlah kita sebagai wanita. Jaga harga dirimu,” ujar wanita berkulit putih yang ternyata istri Pak Kakan.
Prisa kaget. Terdiam. Jantungnya seakan-akan mau copot mendengar celotehan itu. Linangan airmata bersalah menetes penuhi ubin-ubin rumah. Dunia pun seakan-akan runtuh. Hendak kiamat. Caci maki dan sumpah serapah terus dihujamkan di ulu hatinya dari mulut para kerabat. Beragam gelar pun terteriakkan dari mulut-mulut berbisa. Julukan hitam juga terpatri dari sekitar tanpa mampu tertahan. Dan Prisa tak mampu menahan gempuran hujatan bernada hitam pekat yang terus berdesing bak peluru yang dilontarkan tak habis-habis.
Malam itu, jam di dinding rumah kontrakan Prisa yang terletak di ujung gang, telah menunjukkan angka 8. Prisa pun telah bersiap-siap untuk berekspresi dan berganti dunia. Namun ketukan pintu membuatnya membatalkan niat untuk berganti baju.
“Siapa?” tanya Prisa sambil bergegas menuju pintu depan.
“Saya. Pak RT,” jawab seseorang dari luar. Pintu pun terbuka. Tampak Pak RT didampingi dua hansip di depan pintu rumah.
“Ada apa ya, Pak RT?” tanya Prisa penuh keheranan.
“Anu, Mbak Prisa. Di depan gang tergolek seorang lelaki dalam keadaan yang menyedihkan. Dan nama Mbak Prisa berkali-kali disebutnya. Apakah Mbak kenal? Atau barangkali masih punya ikatan keluarga?” jelas Pak RT penuh wibawa.
“Siapa ya? Tahu namanya, Pak?” tanya Prisa lagi.
“Wah, saya tidak tahu. Tapi, bagaimana kalau kita ke sana untuk melihatnya. Barangkali Mbak kenal dan tahu dengan orang itu. Dan siapa tahu pula, lelaki yang tergeletak itu masih ada ikatan keluarga dengan Mbak,” ajak Pak RT.
Ajakan Pak RT langsung diangguki Prisa. Dengan langkah penuh kepastian, Prisa menuju mulut gang. Tampak keramaian orang memadat. Beberapa petugas keamanan RT pun sibuk mengamankan area di mana seseorang pria setengah baya itu tergolek. Dan saat menembus kerumunan manusia, Prisa kaget setengah mati. Jantungnya mau copot. Prisa tahu dan amat kenal dengan pria yang terkapar itu.
“Pak Kakan…,” jeritnya saat melihat pria itu. Yang dipanggil pun menoleh. Menatap tajam Prisa. Seakan-akan terpatri kegembiraan yang tak terperikan. Airmata pun mengalir dari kedua kelopak mata Pak Kakan. Senyumnya pun masih tetap menggoda dan menggoda.
“Maafkan aku,” ujar Pak Kakan terbata-bata dan lirih. Seiring dengan itu, kepalanya pun terkulai. Detak napasnya berhenti. Dan ucapan Innalilahiwainnalillahi rojiun pun meluncur dari warga yang hadir. Aik Aceng (Toboali). (***)

Related posts