by

Wali Murid dan Medis Ribut di Sekolahan

-NEWS-888 views
TENANGKAN RIBUT – Kepala Dinas Pendidikan Kota Pangkalpinang, Eti Fahriaty saat menenangkan wali murid dan menyampaikan ditundanya pelaksanaan imunisasi vaksin Measles-Rubella di SMP Negeri 3 Pangkalpinang, Rabu (10/10/2018). Ketika imunisasi hendak dilakukan, para wali murid ribut dengan tim medis yang hendak mengimunisasi siswa. Para wali murid menolak anaknya diimunisasi karena vaksin mengandung babi. (Foto: Budi Susanto)

Vaksin MR Ditolak di SMPN 3 Pangkalpinang
Disdik dan Dinkes Batalkan Sementara

PANGKALPINANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Pangkalpinang melalui Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan terpaksa membatalkan sementara imunisasi massal vaksin MR (Measles-Rubella) di SMP Negeri 3 Pangkalpinang, Rabu (10/10/2018). Pembatalan itu dilakukan lantaran hampir seluruh orang tua siswa dan wali murid bersikukuh menolak anaknya disuntik dengan vaksin yang diketahui mengandung ekstrak babi tersebut.
“Kami menolak anak kami disuntik. Sudah jelas itu haram dan mengandung babi. Intinya jangan suntik anak kami dengan vaksin tersebut,” tegas salah seorang wali murid saat berdebat dengan petugas dari Dinas Kesehatan.
Meski sudah dijelaskan oleh petugas bahwa Pemkot Pangkalpinang harus melakukan vaksinisasi bahkan disebutkan Gubernur Babel sudah mem-backup dan memberikan anjuran, namun orang tua murid tetap menolak vaksin.
“Terserah kalian mau ngomong apa. Datangkan gubernurnya ke sini. Kami ini warga. Kami yang memilih gubernur. Ada apa-apa kami yang bertanggungjawab. Pokoknya kami tidak mau. Lebih baik distop saja daripada makin ramai dan membuat SMP tiga ini malu,” tegasnya.
Tak mampu membendung keluhan orang tua murid itu, petugas dari Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan akhirnya mengambil sikap menunda. Meski Kepala Dinas Kesehatan tidak datang, namun petugas menghentikan dan membatalkan proses vaksin di SMPN 3 Pangkalpinang. Lalu, dipimpin Kepala Dinas Pendidikan Kota Pangkalpinang, Eti Fahriaty dilakukan mediasi.
Kepada wartawan, Eti mengaku ada miss komunikasi antara orang tua murid dengan pihak puskesmas yang melaksankan imunisasi ini. Katanya, petugas dari Dinas Kesehatan tidak mampu meredam gejolak orang tua murid.
Menurut Eti, Dinas Kesehatan melalui Puskesmas adalah pelaksana program vaksinisasi ini, sementara Dinas Pendidikan hanyalah objek daripada program. Namun karena menyangkut sekolah dan pendidikan, dirinya harus bertindak bijaksana.
“Karena tak ada Kepala Dinas Kesehatannya, saya mengambil sikap. Karena ini menyangkut sekolah makanya hasil mediasi ini, kegiatan vaksin terpaksa kita batalkan di SMPN 3 ini. Sekarang sudah diselesaikan,” jelasnya.
Dengan dibatalkan imunisasi MR, kata Eti, maka yang mau anaknya diimunisasi bisa dilakukan di Puskesmas terdekat di Kota Pangkalpinang.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Pemprov Bangka Belitung (Kadinkes Babel) Mulyono Susanto menyebutkan, sejauh ini petugas kesehatan tetap melakukan imunisasi MR ke sekolah-sekolah. Namun ia tak menampik, ada orangtua yang menolak anaknya divaksin meski Pemprov Babel mewajibkan imunisasi.
“Kita tetap jalan seperti biasa, bahwa kita melaksanakan tugas ini untuk membentuk kekebalan imunitas di masyarakat, khususnya anak-anak, agar terhindar dari penyakit campak Jerman ini,” tukas Mulyono saat dikonfirmasi Rakyat Pos, Rabu (10/10/2018) sore.
Terkait adanya penolakan wali murid yang terjadi di SMP 3 Pangkalpinang, Mulyono mengatakan hal seperti ini memang tak bisa dihindari. Namun demikian Dinkes tetap akan melaksanakan pendekatan persuasif.
“Ya itukan di masyarakat, kita tetap jalan seperti biasa bahwa kita melaksanakan ini, diharapkan masyarakat tetap menerima program ini. Kita harapkan masyarakat bisa mengerti bahwa ini untuk membuat kekebalan komunitas dan ini kita harus lakukan sebagai petugas kesehatan,” katanya.

Bagi yang menolak, ujar dokter gigi ini, tidak bisa dipaksakan, meskipun sebetulnya jika banyak penolakan tidak akan tercapai kekebalan komunitas.
“Kalau ada penolakan, yang mau saja kita imunisasi, silahkan bawa aja ke puskesmas, yang enggak mau tolong jangan mempengaruhi yang lain,” ujarnya.
Untuk kasus yang terjadi di SMP 3, menurutnya bisa saja karena kesalahan komunikasi. Namun ia tidak mau mempermasalahkan persoalan ini, dan tidak memaksa jika memang orangtua siswa ogah anaknya diimunisasi.
“Intinya kita harapkan seluruhnya bisa menerima, kalau enggak bisa, kita tetap bekerja karena menjadi tuntutan kita yang harus dipenuhi, pemerintah untuk menjalankan program imunisasi ini,” terangnya.
Hingga saat ini, persentase imunisasi MR di Babel sudah mencapai 55 persen, dan proses imunisasi terus akan dilaksanakan hingga akhir Oktober mendatang, dan diharap persentase bisa meningkat dan tecapai kekebalan komunitas.
Untuk diketahui, Gubernur Babel pun sudah mewajibkan anak-anak di Babel untuk diimunisasi MR, dan Pemprov bekerjasama dengan berbagai instansi terkait seperti MUI, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, tokoh agama dan lainnya untuk mensosialisasikan pentingnya imunisasi MR ini.
“Saya sudah bertemu dengan bayi yang menderita Rubella, baik di Bangka Selatan, maupun yang saat ini dirawat di Jakarta. Kasian kalau kita melihat kondisi mereka, bayangkan saja ketika itu terjadi pada kita, melihatnya saja kita gak tega, masa kita mau membiarkan virus ini tanpa ada pencegahan,” tegasnya.
Ia mengajak, Bupati dan Walikota untuk lebih aktif mendatangi sekolah guna mensosialisasikan langsung kepada wali murid, agar paham akan bahaya rubella. Perkara vaksin yang masih haram, ia menegaskan bahwa MUI sudah mengeluarkan fatwa boleh dilaksanakan, karena kondisinya saat ini dalam keadaan darurat, menyangkut hidup seseorang.
“Wajib ini, orangtua yang enggak mau saya akan datang langsung. Anak-anak wajib karena kalau terkena ini, anak-anak bisa lahir cacat dan cacatnya banyak macemnya gagal jantung, gagal ginjal, tidak bisa mendengar, mata jereng tapi dia hidup, tega enggak kita melihatnya seperti itu,” tegas Erzaldi.
Gubernur mengkhawatirkan, jika tidak dilakukan imunisasi akan terjadi KLB di Babel, yang tidak saja berdampak pada kesehatan tetapi juga sektor lainnya.
“Kita akan wajibkan ketimbang terjadi KLB, dengan berbagai pertimbagan, khususnya kita ingin masyarakat kita sehat, kedua ingin masyarakat kita kuat dan sejahtera. Terlebih sebagai daerah destinasi wisata hal ini sangat menjadi perhatian para wisatawan. Jadi kita harus kerja keras semua stakeholder dengan ditemukannya beberapa penderita yang telah terkena Rubella di beberapa tempat, ini akan menjadi perhatian kita semua,” demikian Erzaldi. (bum/nov/1)

Comment

BERITA TERBARU