by

Wajah Lain Media Sosial Bagi Generasi Milenial

-Opini-122 views

Oleh: Rahmawati Silaban, S.Pd
Guru Bahasa Indonesia di SMAK 5 Penabur, Jakarta

Generasi milenial. Itulah sebutan yang saat ini sedang akrab terdengar di kalangan masyarakat. Salah satu generasi yang menuntut pergeseran perilaku terhadap perkembangan teknologi. Tak bisa dimungkiri bahwa generasi saat ini adalah generasi yang menghabiskan waktu di depan layar perangkat mobile sekitar tiga jam sehari bahkan lebih. Setiap harinya menggunakan teknologi untuk mendukung aktivitas sehari-hari. Kepemilikan terhadap perangkat mobile menjadi salah satu faktor paling signifikan menunjang gaya hidup seseorang.
Sepanjang tahun ini, beberapa prediksi yang disampaikan terkait generasi milenial berhasil terbukti. Salah satunya, perilaku Streaming Native yang kini kian populer. Jumlah remaja yang mengkonsumsi layanan streaming video kian tak terbendung. Pengguna perangkat mobile semakin hari semakin meningkat. Seluruh aktivitas yang dilakukan tidak terlepas dari perangkat mobile dan media sosial. Waktu yang dialokasikan untuk menonton streaming juga meningkat tiga kali lipat. Fakta tersebut membuktikan bahwa perilaku generasi millennial sudah tak bisa dilepaskan dari menonton video secara daring.
Teknologi juga membuat para generasi internet tersebut mengandalkan media sosial sebagai tempat mendapatkan informasi. Saat ini, media sosial telah menjadi platform pelaporan dan sumber berita utama bagi masyarakat. Tren tersebut sudah terbukti disepanjang 2016 melalui beberapa peristiwa penting, seperti aksi teror bom. Masyarakat benar-benar mengandalkan media sosial untuk mendapatkan informasi terkini dari sebuah peristiwa. Sebanyak 61 persen konsumen memilih berbelanja menggunakan ponsel pintar, dan 38 persen lainnya memilih tablet atau perangkat mobile lain. Sementara, 58 persen konsumen lebih memilih menggunakan komputer.
Ada beberapa kasus terkait anak yang kecanduan terhadap gawai. Poli Jiwa RSUD dr Koesnadi Bondowoso, Jawa Timur, dalam beberapa bulan terakhir merawat dua siswa yang kecanduan pada penggunaan gawai dan laptop. Dua siswa itu pun sampai mengalami guncangan jiwa. Dari data yang dikumpulkan, anak-anak yang kecanduan gawai dan permainan (game) itu awalnya tidak disadari oleh orang tuanya. Orang tua baru menyadari setelah si anak jarang masuk ke sekolah dan prestasi akademiknya terus menurun. Bahkan si anak sudah pada taraf tidak mau sekolah. Akhirnya dibawa ke poli jiwa.
Lain halnya dengan seorang pelajar salah satu SMU di Jakarta Barat berinisial AH (16) tewas dalam pengeroyokan di depan apartemen Belleza Tower, Permata Hijau, Jakarta Selatan, pada Minggu (2/9) sekitar pukul 04.00. Ternyata pemicu perkelahian maut itu diketahui hanya masalah sepele, yakni bermula dari adu argumen di media sosial. Komisi Perlindungan Anak Indonesia menduga aksi perkelahian antar pelajar yang terjadi belakangan ini akibat penyebaran konten kekerasan di media sosial. Persamaan referensi yang mudah didapatkan membuat modus perkelahian pelajar lebih terencana dan terstruktur hingga menimbulkan korban jiwa.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menganggap modus perkelahian antar pelajar di Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor belum lama ini juga hampir sama dengan kasus-kasus perkelahian sebelumnya yang disebut-sebut mirip gladiator. Secara kuantitatif, kasus kekerasan fisik di Indonesia itu turun, tetapi kasus-kasus berbasis cyber itu naik. Berdasarkan data terbaru KPAI tahun 2018, jumlah anak yang berhadapan langsung dengan hukum sebagai pelaku kekerasan fisik mencapai 78 (2017) naik menjadi 108 orang (2018). Sedangkan anak yang menjadi korban kekerasan akibat perkelahian, penganiayaan dan sebagainya mencapai 124 orang (2017) meningkat menjadi 146 orang (2018). KPAI telah menyampaikan pengamatannya itu kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla beberapa waktu lalu.
Untuk itu, pemerintah pusat perlu melakukan penanganan kasus perkelahian antar pelajar secara fokus kepada pengawasan konten kekerasan di media sosial. Selain hal tersebut, media sosial saat tak lagi menjadi media untuk mencari dan menemukan ilmu, malah cenderung digunakan sebagai wadah untuk berbagai ujaran kebencian. Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri sudah menciduk beberapa orang atas kasus ujaran kebencian di media sosial sejak Januari 2018. Hingga saat ini, 18 orang telah ditetapkan sebagai tersangka. 18 tersangka itu berasal dari beberapa daerah, mulai dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Lampung, hingga Sumatra Utara. Kasusnya beragam, mulai dari penghinaan kepada tokoh agama, penghinaan kepada penguasa atau badan usaha, pencemaran nama baik, hingga isu berbasis suku, agama, ras, dan antargolongan atau SARA.
Keranjingan sosmed pada tahap awal, dampaknya belum akan terasa signifikan. Akan tetapi, coba kalau sudah akut dalam jangka panjang, kecanduan ini tentu akan membawa banyak masalah dalam kehidupan masyarakat, terutama generasi milenial. Hal ini patut disayangkan, mengingat media sosial awalnya bisa menjadi wadah interaksi yang positif, justru menimbulkan masalah serius bagi penggunanya. Hal ini juga yang dapat mempengaruhi pergeseran karakter pada generasi milenial saat ini. Kurangnya kepedulian antara satu dengan yang lain membuat terjadinya kesenjangan sosial.
Ada baiknya orang tua ikut peran serta dalam membimbing dan mengarahkan anak dalam keluarga. Menghilangkan sebuah kecanduan tentu bukan hal mudah, termasuk kecanduan media sosial sekalipun. Agar proses perubahan ini tidak terasa berat dan sulit diterapkan, lakukan perubahan secara perlahan dengan memilih cara-cara yang tepat. Hal ini akan membawa banyak perubahan yang lebih positif, hingga akhirnya bisa memiliki kontrol diri yang baik untuk membatasi akses sosmed itu sendiri.

Selain itu, orang tua juga mempunyai andil yang besar dalam mempengaruhi anak untuk tidak menggunakan media sosial secara berlebihan. Salah satu caranya adalah dengan meluangkan waktu orang tua bagi anak untuk bersama-sama berwisata, belajar, serta melakukan aktivitas yang bisa memperkuat keharmonisan keluarga. Di sisi lain, pemerintah juga mempunyai tanggung jawab terhadap perkembangan gawai dan juga konten yang ada di dalamnya, sehingga setiap individu semakin bijak dalam menggunakannya.(***).

Comment

BERITA TERBARU