Wajah Baru Indonesia: Bebas Sampah

  • Whatsapp

Oleh: Christina Ester M Hutabarat
Alumni Pascasarjana ITB/Aktif dalam Komunitas Sosial di Bandung

Siapkah Indonesia menjadi negara yang bebas sampah? Pertanyaan ini bukanlah kalimat baru yang muncul ke permukaan. Melainkan kalimat yang kerap didengungkan ke seluruh pelosok negeri untuk berbenah dan siap mengatasi masalah sampah. Tapi, apa hendak dikata, kalau slogan, iklan maupun penyuluhan demi penyuluhan yang dilakukan belum mampu menyadarkan masyarakat. Berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut, bahkan kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 milar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik. Meski begitu, kita tidak boleh menyerah memerangi limbah sampah yang bertebaran dimana-mana.
Setiap tanggal 10 Januari Indonesia memperingati Hari Lingkungan Hidup, 21 Februari memperingati Hari Peduli Sampah Nasional dan 5 Juni memperingati Hari Lingkungan Hidup Internasional. Ketiga tanggal tersebut menjadi momentum pengingat untuk masyarakat secara nasional dan internasional dalam memerangi sampah dan menyelamatkan bumi dari timbunan sampah. Tapi, kita harus tetap mengingat bahwa persoalan sampah harus ditangani setiap hari bukan hanya pada momentum hari besar tersebut. Sampah menjadi persoalan yang tengah dihadapi masyarakat global sampai saat ini. Dalam informasi yang didapat dari National Geographic, masing-masing kota di dunia setidaknya menghasilkan sampah hingga 1,3 miliar ton setiap tahun. Bahkan Bank Dunia memperkirakan tahun 2025, jumlah ini bertambah hingga 2,2 miliar ton.
Sampah ibarat “penyakit akut” yang belum bisa disembuhkan oleh obat apapun. Tindakan demi tindakan yang dilakukan tak juga membuahkan hasil maksimal. Dalam penelitian Riset Greeneration, organisasi nonpemerintah yang telah 10 tahun mengikuti isu sampah, menyatakan bahwa satu orang di Indonesia rata-rata menghasilkan 700 kantong plastik per tahun. Di alam, kantong plastik yang tak terurai menjadi ancaman kehidupan dan ekosistem. Tapi kita tidak boleh menutup mata kalau masyarakat dan pemerintah harus bersatu menyembuhkan “penyakit” ini. Pemerintah menargetkan tahun 2020 Indonesia akan bebas sampah. Mengingat sekarang sudah tahun 2019 berarti ada masa satu tahun lagi kita berbenah menyambut tahun bebas sampah. Hari Peduli Sampah dijadikan momentum untuk meningkatkan kesadaran kolektif seluruh lapisan masyarakat tentang pentingnya prinsip reduce, reuse dan recycle (3R) dalam pengelolaan sampah.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar memberi sambutan pada puncak peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) di Pantai Sendang Sikucing, Kendal, Jawa Tengah, Minggu (24/2/2019). Pada kesempatan itu, beliau menyampaikan bahwa seluruh pihak harus mewujudkan kesamaan langkah dan kepedulian dalam pengelolaan sampah. Perhatian masyarakat nasional dan internasional tertuju pada sampah plastik yang sangat merugikan manusia dan satwa. Sadar atau tidak, sampah plastik sangat berbahaya karena bisa merusak dan mencemari makluk hidup di perairan. Sampah plastik mikro (marine plastic debris) sangat merugikan kehidupan ikan di laut dan menganggu sistem rantai pangan.
Salah satu negara yang menerapkan program yang menarik dalam penghijauan dan kesadaran akan lingkungan hidup ialah Republik Nepal. Semua siswa Kelas 1 sampai Level A diwajibkan untuk menghadiri program-program penghijauan di wilayah mereka masing-masing di bawah pengawasan Pemerintah Nepal dan SOS Children’s Villages. Pemerintah Nepal mengadakan banyak perlombaan untuk menggerakkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan misalnya menggambar dan kesenian. Selain itu, Pemerintah Nepal memberikan beasiswa bagi 15 siswa dari seluruh kota yang menyumbang kontribusi besar bagi lingkungan hidup, mereka yang terpilih utamanya adalah orang Madhesi, suatu masyarakat terbelakang di Nepal.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Tentu kita pun memiliki banyak program peduli lingkungan hidup yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun lembaga nonpemerintah. Salah satu program yang dilakukan tahun ini ialah Gerakan Indonesia Bersih (GIB). Menteri LHK menyatakan dalam peluncuran program ini di Gedung Manggala Wanabakti Jakarta, Kamis (21/2/2019) bahwa gerakan ini mencakup beberapa hal, antara lain peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat lingkungan keluarga, satuan pendidikan, satuan kerja, dan komunitas. Gerakan ini sangat baik dalam mengatasi permasalahan sampah.
Menurut data Badan Pusat Statistik, angka ketidakpedulian masyarakat terhadap sampah masih cukup tinggi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengambil langkah penting dalam mengurangi timbunan sampah. Produksi sampah paling banyak ialah dari rumah tangga. Kita harus mengurangi sampah dimulai dari rumah masing-masing dengan memilah yang masih dapat digunakan dan diolah kembali. Ada tiga hal sederhana yang harus kita lakukan yaitu, Melihat, Menindaklanjuti, dan Menyebarluaskan. Yang pertama ialah melihat apakah suatu benda tersebut masih layak pakai atau tidak, kemudian menindaklanjuti dengan memilah penggunaan sampah dan memisahkan antara sampah organik dan anorganik. Setelah itu, menyebarluaskan tentang peduli dan rasa tanggungjawab terhadap penggunaan sampah rumah tangga dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak ada kata terlambat. Wajah baru dan penampilan baru di pemukiman Indonesia yang bebas sampah. Siapkah kita? Siapkah Indonesia dengan hidup bebas lepas dari tumpukan sampah yang sudah lama menjadi “penyakit akut” bangsa ini? Mari bertindak dengan 3 langkah sederhana yang mampu menyembuhkan. Indonesia siap memiliki wajah baru, bebas sampah.(***).

Related posts