Opini

Wajah Baru Calon Tenaga Kerja Lulusan SMK

Penulis  : Afrida Yeni Silalahi, S.Pd

Guru Bahasa Inggris dan Waka Humas SMK Negeri 1 Kelapa, Bangka Barat, Babel

 

Slogan SMK Bisa SMK Hebat tampaknya sudah hal lumrah kerab disuarakan oleh para pelajar yang menduduki bangku sekolah kejuruan. Mendengar seruan tersebut, harusnya menjadi spirit yang membangkitkan gairah para pelajar kejuruan untuk mengibarkan keahlian mereka dalam membidangi keahlian yang diampu. Ya, Sekolah kejuruan yang memfokuskan keahlian dan kemampuan siswa dalam bidang tertentu menjadi hal menarik dan disorot oleh pemerintah dalam era Jokowi saat ini.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mendominasi jumlah pengangguran di Indonesia yang mencapai 6,88 juta pada Februari 2020. Dilihat dari tingkat pendidikan, lulusan SMK menyumbang 8,49% pada Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) jauh melebihi pengangguran dengan latar belakang pendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah sebesar 2,64%. TPT merupakan indikator pengukur tenaga kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja.

Mirisnya keadaan yang terlihat di depan mata menjadi PR besar bagi pemerintah untuk memaksimalkan serta merevitalisasi SMK itu sendiri. Banyaknya faktor penyebab lahirnya pengangguran-pengangguran muda menjadi hal pelik yang harus menjadi perhatian setiap orang. Mereka yang duduk di bangku SMK, memilih masuk sekolah kejuruan dengan harapan dapat bekerja usai meluluskan studinya di SMK, para remaja yang melangkahkan kakinya masuk ke jenjang SMK bukan karena mereka tidak diterima di Sekolah Menengah Atas (SMA), namun mereka memilih memfokuskan otak dan pikiran mereka terhadap keahlian yang mereka minati dengan harapan ilmu yang mereka dapat dan keahlian yang mereka terima dapat dipergunakan nantinya untuk berwirausaha. Ya, pendidikan kejuruan adalah passion. Bagi pelajar SMK, duduk di bangku kejuruan adalah bentuk kecintaan mereka terhadap suatu bidang yang ingin mereka maksimalkan, mengejar mimpi untuk menjadi kompeten dalam bidang keahlian yang mereka pilih. Lalu, mengapa masih banyak sekali pengangguran berlatarbelakang lulusan SMK di Indonesia?

Beberapa waktu lalu, penulis mengikuti salah satu kegiatan Bimtek yang diadakan di Jakarta. Pada kegiatan tersebut, Ditjen Pendidikan Vokasi SMK menyampaikan hal-hal tak terduga, yang bagi penulis, sebagai seorang guru adaptif (bukan guru produktif) menjadi terbuka terhadap hal baru. Hal utama untuk terjadinya suatu kegerakan atau dobrakan di SMK ialah dimulai dari diri sendiri sebagai guru. Mindset atau pola pikir seorang guru harus berubah. Menjadi guru di SMK itu berbeda rasa dan teknik dengan guru di SMA. Di SMK, apapun mata pelajaran yang diampu seorang guru haruslah kontekstual dan berkaitan sepenuhnya dengan bidang keahlian siswa. Contoh kecil, sebagai guru Bahasa Inggris, penulis harus mendidik para pelajar kejuruan mendengar, berbicara, membaca dan menulis segala bentuk kata dan kalimat yang berkaitan dengan bidang kejuruan mereka.

Pages: 1 2 3

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top