by

Waduh! Lada Babel Diekspor Provinsi Lain

-NEWS-112 views

Produksi 31.000, Ekspor Babel 5.000 Ton
Pasti Diperjualbelikan Antar Pulau

Pangkalpinang – Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Kadistanbunnak Pemprov Babel), Toni Batubara menduga, lada hasil produksi pertanian Babel diperjual belikan antar pulau, dan digunakan provinsi lain untuk ekspor ke luar negeri.
Hal ini dibuktikan dengan data sedikitnya ekspor lada Babel setiap tahunnya, sementara hasil produksi dari petani cukup banyak. Dengan demikian, harga lada dipastikan telah dipermainkan pedagang, untuk memperoleh keuntungan pribadi yang merugiakan petani.
“Petani lada kita totalnya 57.000 bisa 60.000 petani. Produksi diangka 31.408 ton/tahun, dengan luas area (kebun lada) 48.011 hektar. Tetapi anehnya dari sekian banyak produksi lada ini, hanya sekitar 5.000 ton yang diekspor, sisanya kemana? Ini ada indikasi dijualbelikan antar pulau, kemudian dicampur di provinsi lain lalu diekspor,” katanya menganalisa.
Tidak hanya dugaan lada Babel dieskpor provinsi lain dengan modus perdagangan antar pulau, dianalisa juga kemungkinan Muntok White Papper dicaplok negara lain. Sebab, tujuan ekspor lada dari Babel sebanyak 5000 ton tersebut mayoritas ke negara Vietnam yang juga memiliki produksi lada.
“Dari 5.000 ton lada yang diekspor dengan negara tujuan Vietnam. Padahal Vietnam juga merupakan daerah penghasil lada, dan bisa jadi itu dioplos, dan mereka gunakan merk Muntok White Papper. Lada kita tingkat kepedasannya 6, sementara Vietnam tidak segitu,” imbuhnya.
Terkait hal ini, kata Toni, pihaknya akan menelusuri indikasi perdagangan antar pulau yang terjadi di Babel agar lada daerah dapat diketahui kemana larinya.
Salah satu upaya untuk menertibkan penjualan lada ini, Pemprov Babel sudah membentuk Koperasi Primer yang beranggotakan gabungan kelompok tani (Gapoktan) di kabupaten/kota. Koperasi inilah yang nantinya akan membeli lada dari petani, dan jika harga rendah lada ini akan disimpan di dalam gudang.
“Koperasi lada ini, harus mengakomodir seluruh lada yang ada di petani. Kalau saat ini hanya lima ribu ton ekspor lada per tahun, kita lihat berapa nanti yang bisa kita ekspor. Target kita 20.000 ton ekpsor per tahun,” ujarnya.
Semua petani, diharapkan Toni menjadi anggota Gapoktan dan masuk dalam kepengurusan Koperasi Primer. Sehingga nantinya petani dapat menjual hasil lada ke koperasi, tanpa menjual ke tengkulak di pasar.
“Petani kita sudah mulai panen, tapi harga rendah, ini tiddak bener. Makanya harus cepat terbentuk koperasi, agar bisa menampung lada yang akan dipanen,” tukasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM, Hasanuddin mengatakan, setelah koperasi terbentuk pihaknya akan membantu agar koperasi ini legal. Ia meminta kepengurusan keanggotaan koperasi nantinya dapat diisi oleh semua petani lada.
“Koperasi khusus lada, yaitu Koperasi Primer, sudah terbentuk, anggotanya lintas kabupaten dan kota. Sesuai gagasan gubernur, koperasi ini untuk antisipasi gejolak harga lada yang semakin terpuruk. Dengan terbentuknya Koperasi Primer yang anggotanya adalah petani lada, koperasi ini mengumpul hasil lada petani,” tambahnya.

Jangan Jual Murah
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bangka melalui Kabid Perkebunan, Subhan menegaskan lada Bangka sekarang ini masih menjadi yang terbaik dan berkualitas diatas rata-rata meski telah banyak daerah lain baik di luar negeri maupun di Indonesia menanam lada untuk dijadikan sebagai barang komoditi.
Dan kabar baiknya, pemerintah daerah di Provinsi Bangka Belitung mendorong masyarakat untuk terus mempertahankan kejayaan lada tersebut, walaupun saat ini harga jual lada tidak begitu menggembirakan alias murah. Subhan meminta masyarakat petani menyimpan dan tidak menjual ladanya ketika harga sedang terpuruk.
“Kualitas lada kita lebih tinggi jika dibandingkan dengan lada negara atau kabupaten atau pulau yang lain. Kita lebih tinggi dan sudah terkenal, dan pernah kita uji di Sido Muncul, kualitas lada kita diatas rata-rata, khususnya tingkat kepedasannya itu,” ungkap Subhan di Sungailiat, Rabu (13/6/17).
Diuraikan dia, keunggulan lada Bangka ini sampai sekarang tidak ada tandingannya karena terkait dengan spesifik lokasi budidaya tanaman lada, dan iklim di Pulau Bangka.
Untuk itu Subhan berharap masyarakat dapat menjaga dan meningkatkan kualitas lada dengan cara perawatan yang baik, penggunaan bibit unggul dan pupuk yang benar.
“Yang penting sekarang ini kualitas, pasti dicari orang kalau bagus kualitasnya. Untuk harganya yang sekarang lagi turun, kita harapkan ada perbaikan dalam beberapa bulan kedepan. Jadi diharapkan simpan dulu ladanya, kalau harga sudah sesuai baru dijual atau lempar ke pasaran. Karena lada ini tahan bertahun-tahun, asal kering dan kadar airnya sedikit, paling karungnya yang rusak,” harap Subhan.
Menurut dia, harga lada yang hanya sekitar Rp60.000, hingga Rp80.000 per kilogram saat ini memang menjadi permasalahan yang rumit bagi semua stakeholder, termasuk juga masyarakat petani lada. Terlebih jika dilihat dari analisa dengan usaha tani, harga lada sekarang ini membuat produktivitas lada memang tidak mengalami keuntungan.
“Biaya, sarana produksinya sangat tinggi untuk lada ini, sehingga dengan harga yang sekarang ini sangat merugikan petani,” ungkapnya.
Meski demikian, Subhan menjelaskan untuk mengatasi permasalahan harga ini, ada beberapa hal yang harus diatasi. Salah satunya petani diminta tidak menjual lada untuk sementara waktu, sembari menunggu harga membaik.
“Sekarang ini dengan dengan bulan puasa, mau lebaran, dan lagi musim panen lagi, mau gak mau petani bakal menjual hasil panennya. Harus dicari solusinya untuk membantu petani lada ini. Sekarang ini kita harapkan masyarakat dapat menahan dengan tidak menjual hasil panennya, insyaallah nanti bakal naik lagi,” ujarnya optimis.
Subhan yakin kemungkinan harga lada bakal naik kembali, karena ada wacana Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mendatangkan pembeli lada langsung dari Belanda dan Italia.
“Mereka akan datang ke kita. Jika cocok, mereka akan membeli langsung lada putih kita atau Muntok White Pepper,” jelasnya.
Selain menunggu harga membaik, Dinas Pertanian berharap adanya peningkatan produksi lada di Bangka Belitung dengan cara menanam lada sebanyak-banyaknya.
“Kalau bisa sebanyak-banyaknya, kalau mampu. Kalau sedikit tapi terurus. Penggunaan bibit unggul, tahan penyakit, perawatan secara unggul, dengan harapan produksi meningkat yang bagus kualitasnya, harganya juga meningkat,” kata Subhan lagi.
Mengenai perawatan tanaman lada, ia menyarankan petani tidak lagi melakukan perawatan lada seperti dulu yakni ditanam, pupuk beberapa kali, dan panen. Sebab sekarang ini perawatan tanaman sudah berbeda, dan banyak hama penyakit, ditambah lagi iklim yang tidak menentu dan cuaca ekstrim yang menyebabkan tanaman lada juga tidak tahan hama penyakit.
“Perlu budidaya tanaman lada ini secara intensif, pemberantasan hama penyakitnya menggunakan agen-agen hayati dengan hama-hama terpadu, sehingga lingkungan aman, produksi meningkat,” pungkasnya. (nov/rls/1)

Comment

BERITA TERBARU