by

Wabup Beltim Minta PGRI MoU dengan Forkopimda

Ibu Muslimah saat memberikan pesan-pesan kepada peserta Seminar Nasional Pendidikan yang digagas oleh PGRI di Gedung Sidin Gantung, Rabu (7/11/2018).(foto: ist).

Demi Perlindungan Hukum Guru

GANTUNG – Wakil Bupati (Wabup) Belitung Timur (Beltim) Burhanudin meminta Pengurus Daerah (PD) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Beltim agar menyusun draf MoU dengan Forkopimda Beltim demi menjamin perlindungan terhadap guru.

Hal ini disampaikan Burhanudin saat menanggapi keresahan guru-guru yang saat ini dinilai tanpa perlindungan hukum yang jelas.

“Untuk ketua PGRI Beltim, saya minta untuk susun draf MoU dengan unsur forkopimda seperti kejaksaan, kepolisian, dan pengadilan sebagai turunan dari Peraturan Pemerintah tentang perlindungan hukum bagi para guru,” jelas Burhanudin saat menjadi narasumber dalam acara Seminar Nasional Pendidikan yang digagas oleh PGRI di Gedung Sidin Gantung, Rabu (7/11/2018).

Burhanudin yang merupakan mantan guru menambahkan, nantinya setelah penandatanganan MoU dengan Forkopimda dilakukan dan pihak kepolisian mendapatkan aduan oleh orang tua murid maka tidak bisa semena-mena langsung diproses.

“Jadi, nantinya kepolisian kalau ada aduan dari orang tua murid, ada persoalan terhadap kode etik guru yang mengajar di dalam kelas, tetapi tidak melakukan kekerasan fisik, itu tidak langsung semena-mena diproses secara hukum,” tambahnya.

Disisi lain, Tokoh Pendidikan Belitung yang fenomenal dalam Buku Laskar Pelangi yakni Ibu Muslimah mengajak kepada seluruh guru-guru yang hadir dalam Seminar Nasional Pendidikan untuk jangan sekali-sekali menyakiti murid baik fisik maupun batin.

“Dalam buku laskar pelangi adalah merupakan contoh bahwa kita sebagai guru janganlah sekali-sekali menyakiti murid baik fisik maupun batinnya karena seumur hidup ia akan terkenang,” ujarnya.

Muslimah yang merupakan mantan guru SD Muhammadiyah Gantung membeberkan bahwa saat ini masih terdapat guru yang belum punya wawasan dan kesabaran dalam menghadapi murid-muridnya.

“Kenyataan di lapangan masih ada guru yang belum punya wawasan, dan belum begitu sabar dalam menghadapi murid dan saya sering mendapatkan laporan bahwa ada guru yang menghukum muridnya dan membuat sekolah seolah sebagai penjara,” bebernya.(yan/3)

Comment

BERITA TERBARU