Viral Pungli di SDN 57, Iwansyah: Itu Hoaks

  • Whatsapp
foto:ilustrasi

PANGKALPINANG – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Pangkalpinang Iwansyah membantah keras dugaan pungli SDN 57 yang viral di media sosial (medsos). Menanggapi hal itu, sesuai instruksi Wali Kota Pangkalpinang, ia bersama Kabid Dikdas Darwin, Asisten I Pemkot Pangkalpinang Suparyono langsung melakukan verifikasi ke SD 57 yang diterima langsung kepala sekolah, Rasimah.

“Sejak tadi malam (4/12), banyak pihak yang menanyakan kebenaran viralnya dugaan pungli di SDN 57. Pagi tadi kami sudah tindak lanjuti. Semua itu tidak benar. Yang ada di medsos itu bentuknya surat kaleng dan saya berani bilang itu berita bohong alias hoaks,” kata Iwansyah kepada Rakyat Pos di ruang kerjanya, Kamis (5/12/2019) kemarin.

Menurutnya, ada tiga tuduhan yang dialamatkan ke SD 57 terkait tuduhan pungli mulai dari karya wisata, infaq dan sampul rapor. Dijelaskan Iwansyah, memang benar pada 30 November lalu bertepatan peringatan HUT Guru, pihak sekolah melakukan karya wisata internal guru-guru untuk berkunjung objek wisata peninggalan sejarah di Toboali.

“Selanjutnya ada tujuh orang murid yang ingin ikut dalam kegiatan tersebut dan itupun seizin orang tua masing masing dengan biaya Rp100 ribu per siswa. Karya wisata itu sifatnya internal para guru. Kemudian ada sekitar tujuh orang murid yang ingin ikut karya wisata, itupun bukan keharusan atau wajib, para siswa sendiri yang minta diikutsertakan,” kata Iwansyah.

Baca Lainnya

Untuk tuduhan lainnya terkait infaq, sambung Iwansyah pihak sekolah mempunyai kebijakan setiap Jumat siswa dibiasakan untuk berinfaq secara sukarela, tanpa mencantumkan besaran nilainya. Bahkan dari hasil verifikasi, didapat jelas pembukuan hasil infaq yang didapat, serta peruntukannya digunakan untuk kegiatan sosial, seperti memberi sumbangan kepada guru maupun keluarga siswa yang terkena musibah.

“Infaq dan sedekah adalah bagian ajaran agama dan idealnya harus diperkenalkan sejak dini kepada para siswa. Saya pikir infaq tidak akan memberatkan siswa karena sifatnya sukarela dan yang penting diberikan pemahaman dan contoh dulu. Seperti ada anak sakit, guru sakit, atau orang tua siswa yang terkena musibah, dari uang infaq itulah yang disumbangkan, seperti yang dilakukan SD 57, dan itu pembukuannya jelas, termasuk didalamnya bukti kwitansi dari uang infaq yang dikeluarkan,” papar Iwansyah.

Disinggung biaya rapor yang besarannya hingga Rp50.000, menurutnya itu berawal dari inisiatif paguyuban para orang tua siswa dan Iwansyah menegaskan hal itu tidak wajib. “Tidak ada itu siswa wajib beli sampol rapor. Itu inisiatif dari sebagian paguyuban orang tua siswa dan itu hanya ada di kelas I dan IV, selebihnya sampai saat ini masih menggunakan sampul plastik biasa,” urainya.

Terkait pemberitaan viral yang menimpa SD 57, dirinya sangat menyayangkan. Terlebih kepada pihak-pihak tertentu yang sudah memviralkan berita bohong, hingga adanya sebagian masyarakat yang percaya terkait kabar tuduhan pungli tanpa mengecek langsung kebenarannya ke sumber yang dimaksud. Bahkan dirinya sudah menyarankan kepada SD 57 untuk melakukan langkah hukum berkaitan dengan pelanggaran Undang-Undang  Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Saya mohon bijaklah dalam bermedsos, jangan langsung memvonis tanpa mengecek kebenarannya. Dalam hal ini dinas pendidikan selalu terbuka terhadap kritikan, termasuk ada hal – hal yang dianggap merugikan masyarakat, silahkan datang kepada kami dan akan kami tindaklanjuti,” tukasnya.

Seperti diwartakan sebelumnya, kabar dugaan pungli di SDN 57 sempat viral di media sosial yang ditulis salah seorang netizen. Bahkan hingga tadi malam di akun yang bersangkutan postingan dugaan pungli sudah dilike 134 netizen, 280 komentar, hingga 128 orang yang membagikan. (rev/10)

Related posts