by

Venue Dayung Porprov V Terancam TI

Warga Ngeluh Tambang di Koba

KOBA – Kembali beroperasinya tambang inkonvensional (TI) jenis rajuk ilegal di lokasi tambang eks PT Koba Tin yakni di Marbuk, Kenari dan Pungguk, Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah mendapat keluhan dari warga sekitar. Selain bunyi bising yang dikeluhkan, aktivitas penambangan pasir timah tersebut juga merusak lingkungan sekitar yang dampaknya memicu banjir, tanah longsor hingga mengancam permukiman warga sekitar di Kelurahan Simpang Perlang, Koba, Nibung, Berok dan Arung Dalam.

Warga Simpang Perlang berinisial SR, kepada wartawan menyampaikan, beroperasinya TI Rajuk ilegal di wilayah Kolong Marbuk, Kenari dan Pungguk itu berbahaya bagi masyarakat Simpang Perlang dan permukiman lainnya di Kecamatan Koba.

“Kami khawatir terhadap dampak buruk dari kegiatan aktivitas TI rajuk secara liar tersebut. Banjir tempo hari salah satunya inilah penyebabnya. Jangan sampai musibah kembali menyusul. Lingkungan akan jadi banjir bukan tak mungkin karena tanah jadi longsor dan tanggul jebol dimakan TI Rajuk. Kalau dibiarkan, kedepan tambah marak kondisinya,” keluh dia.

Dikatakannya, dengan mengeluh demikian warga bukan anti tambang. Tetapi kegiatan menambang harus dilaksanakan secara legal dan diatur sebaik mungkin.

“Saya mengeluhkan ini supaya kami senang, nyaman, tinggal di rumah kami yang jaraknya tak jauh dari TI. Kami tidak anti tambang, cuma kami tidak setuju cara pengambilan pasir timah itu. Bagaimana cara yang baik menambang di situ. Kami menghindari terjadinya konflik dan hal-hal yang tidak diinginkan,” imbuhnya.
SR berharap pihak penegak hukum Polres Bangka Tengah, Polsek Koba, Bupati Bangka Tengah dan Kapolda Kepulauan Bangka Belitung dapat mendengar laporan masyarakat untuk secepatnya menertibkan tambang liar tersebut yang sudah meresahkan warga sekitar.

“Kita berharap kepada pihak penegak hukum supaya menertibkan kegiatan pertambangan ilegal ini. Karena keberadaannya sangat meresahkan,” tuturnya.

Terpisah, warga Kelurahan Berok, berinisial GK menambahkan silakan penambang menambangi pasir timah di lokasi tersebut, tetapi harus sesuai dengan aturan. Jangan sampai ada masyarakat yang protes dan dirugikan.

“Sebelumnya sudah pernah distop masalah tambang di Kenari, Pungguk dan Marbuk ini melalui jalur musyawarah yang dihadiri seluruh kelurahan di Kecamatan Koba dan Desa Nibung, namun hasilnya tetap juga masih berjalan,” tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris KONI Bangka Tengah, Rusman Araziz menegaskan pihaknya mendukung keinginan masyarakat supaya TI Rajuk ilegal di Tambang Marbuk distop. Pihaknya, secara tertulis pun sudah menyampaikan surat dukungan penertiban kepada penegak hukum pada Senin pekan kemarin, yakni kepada Polres Bangka Tengah, Satpol PP, DPRD dan Bupati ditembuskan ke Kapolda serta Gubernur Bangka Belitung.
“Areal yang ditambang TI Rajuk secara ilegal itu adalah lokasi yang akan dibangun venue dayung Porprov (Pekan Olahraga Provinsi) V Babel di Bangka Tengah tahun 2018 nanti. Kami memohon dukungan kepada DPRD dan Bupati melalui Satpol PP dan Polres Bateng untuk menghentikan aktivitas TI rajuk tersebut,” tukasnya.

Ia menambahkan, jika penambangan liar tersebut terus dibiarkan, maka diyakini akan menimbulkan kerusakan yang tidak terkontrol dan memancing kecemburuan sosial di masyarakat. Sebab, hasil penambangan itu hanya dinikmati oleh segelintir orang, sehingga ada pihak lain yang dirugikan.

“Aktivitas tambang liar ini sudah berulang kembali terjadi, dan kabarnya ada yang mengkoordinir dan koordinasi. Semoga ada tindaklanjut dari penegak hukum terkait tambang liar tersebut,” tukasnya. (ran/1)

Comment

BERITA TERBARU