Usaha Ekstra untuk Kondisi yang Ekstra

  • Whatsapp
Penulis: Wahyu Budiarso
ASN Kanwil DJPb Prov. Kep. Babel

Satu semester berlalu bangsa Indonesia masih bergumul dengan pandemi COVID-19. Wabah yang melanda seluruh belahan bumi ini, mengguncangkan segala sendi kehidupan.  Empat ribu jiwa yang telah melayang dalam waktu singkat membuktikan ganasnya COVID-19. Tak hanya kesehatan, kehidupan beragama pun merasakan dampaknya. Pelaksanaan ibadah menjadi tidak seleluasa seperti sebelum wabah ini menyerang. Sangar memilukan.

Begitu halnya dengan perkenomonian. Sejak kebijakan stay at home digencarkan, roda perekonomian enggan berputar. Denyut kehidupan seakan berhenti.  Mobilitas warga bekerja menjadi sangat terbatasi, bahkan banyak yang kehilangan mata pencaharian yang berimbas pada berkurang atau hilangnya penghasilan. Kebijakan tersebut, diambil guna menekan penyebaran COVID-19. Dalam hal yang mengharuskan beraktivitas di luar rumah pun, social distance dan phisical distance diberlakukan. Protokol COVID-19 dijalankan. Masker dan hand sanitizer sempat menghilang di awal-awal merebaknya pandemi ini, karena melonjaknya permintaan. Ya, masyarakat dapat dikatakan panik dan mencari jalan selamat dari COVID-19 ini.

Pemerintah melalui APBN bertindak cepat merespon penyebaran COVID-19, diantaranya kebijakan terkait DAK Fisik. Sudah jamak bahwa DAK Fisik merupakan dana yang dialokasikan dalam APBN daerah dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus fisik yang merupakan urusan daerah sesuai dengan tujuan prioritas nasional, seperti pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan, gedung sekolah, rumah sakit, irigasi, sanitasi, permukiman, sarana dan prasarana pariwisata, pasar dan lain sebagainya. Diterpa wabah COVID-19, pada bulan April Pemerintah melakukan refocusing anggaran DAK Fisik. Hampir seluruh bidang dihentikan atau ditunda dan difokuskan untuk penanganan COVID-19, yaitu bidang Kesehatan dan bidang Pendidikan sebagai salah satu ejawantah menunaikan amanat Undang-Undang.

Babel pada awalnya mendapat alokasi DAK Fisik 858,36 miliar untuk 164 bidang atau subbidang tersebar di seluruh Pemda setelah refocusing dan penyesuaian alokasi berubah menjadi 88 bidang atau subbidang sebagian besar kesehatan dan pendidikan dengan total alokasi turun 36%. Penyaluran sampai saat ini, baru mencapai kisaran 26%. Relaksasi dilakukan dalam pengelolaan DAK Fisik diantaranya adalah memperpanjang batas waktu penerimaan dokumen persyaratan penyaluran DAK Fisik Tahap I, dan penyampaian dokumen persyaratan penyaluran DAK Fisik secara sekaligus yang semula ditetapkan paling lambat tanggal 21 Juli 2020 menjadi paling lambat tanggal 31 Agustus 2020. Kesempatan ini, seyogyanya disikapi dengan positif, agar dokumen persyaratan seperti dokumen kontrak dapat segera  diselesaikan.  Kerja keras dalam hal ini, Pemda sebagai eksekutor sangat dibutuhkan. Diharapkan seluruh anggaran yang disediakan Pemerintah dapat dieksekusi, sehingga penanganan COVID-19 dapat optimal bagi masyarakat Babel.

Baca Lainnya

Kita tahu bahwa COVID-19 juga sangat berdampak pada perekonomian. Sekali lagi Pemerintah mengambil tindakan dengan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Melalui Perpres Nomor 72 Tahun 2020, Dana Cadangan DAK Fisik digelontorkan ke daerah. Alokasi setiap daerah tidak sama, baik bidang atau subbidang yang mendapat alokasi maupun besaran alokasi itu sendiri. Terdapat kriteria-kriteria tertentu ditetapkan agar kegiatan dapat dibiayai dari Cadangan DAK Fisik ini. Salah satunya adalah pelaksanaan kegiatan dapat dilakukan secara padat karya, menggunakan material dan tenaga kerja lokal. Dampak positifnya akan menyerap tenaga kerja lokal yang mungkin mengalami penurunan penghasilan atau bahkan kehilangan pekerjaan karena COVID-19. Hal ini akan meningkatkan daya beli masyarakat dan akan mendorong pergerakan perekonomian. Kriteria lain adalah kegiatan atau pekerjaan dapat diselesaikan pada sisa tahun anggaran 2020. Pemda harus memperhitungkan benar-benar segala aspek pelaksanaan kegiatan termasuk kendala-kendala yang ditemui dalam pelaksanaannya nanti, sehingga kegiatan dapat diselesaikan sebelum pergantian tahun anggaran.

Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah batas waktu penyampaian dokumen persyaratan. Di akhir Juli ini, Pemda hanya memiliki waktu sampai dengan 31 Agustus 2020. Penyelesaian data kontrak merupakan kunci utama. Gerak cepat namun tetap menjaga akuntabilitas guna tersalurkannya cadangan DAK Fisik ini.

Waktunya terlalu singkat, apa bisa diselesaikan? Pertanyaan pesimis seperti ini, sebaiknya diubah sudut pandangnya, sehingga memberi impact positif untuk mendorong percepatan pelaksanaannya. Masih diberi waktu meski singkat, kita bisa melakukan, kurang lebihnya demikian. Dalam waktu kurang lebih 1 bulan, Pemda dipacu untuk mengeluarkan segala kemampuan untuk menyelesaikan dokumen persyaratan berupa kontrak. Memang selama ini, proses pengadaan menjadi permasalahan klasik yang ditemui hampir dalam setiap pengelolaan DAK Fisik. Demikian pula halnya dengan waktu pengerjaan kegiatan yang lebih pendek di sisa tahun anggaran ini. Namun demikian, demi pulihnya perekonomian di Babel khususnya, cadangan DAK Fisik yang telah dialokasikan tersebut, agar diupayakan terserap seluruhnya untuk Babel. Tidak mudah, namun bisa dimaksimalkan.

Kerja (yang lebih) keras, lebih dari kondisi normal dan koordinasi yang baik tentunya akan menjawab apakah anggaran yang dialokasikan Pemerintah dapat membangkitkan Babel menghadapi pandemi COVID-19. Mengakhiri tulisan ini, menyitir ucapan Alfiker Siringoringo, Kepala Kanwil DJPb Babel “Kondisi yang sedang kita alami adalah kondisi yang extra ordinary, untuk menghadapinya diperlukan usaha yang extra ordinary pula”. Semoga menjadi pemicu bagi semua pihak untuk menggenjot upaya-upaya penanganan COVID-19 dan pemulihan ekonomi di Babel.(***).

 

 

Related posts