Urgensi Sekolah Siaga Bencana di Lereng Menoreh

  • Whatsapp

Oleh: Wuryanto Puji Siswoyo, S. Pd.
Wakil Kepala Sekolah SMPN 3 Satu Atap Borobudur, Magelang, Jateng

Kondisi geografis Kabupaten Magelang yang dikelilingi lima Gunung utama, memberikan ciri khas ancaman kebencanaan tersendiri. Terdapat Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sumbing, Gunung Andhong dan Pegunungan Menoreh. Pegunungan Menoreh yang membentang di sebelah selatan Kabupaten Magelang, memiliki beberapa potensi ancaman bencana seperti tanah longsor, kebakaran hutan dan kekeringan. Sementara itu di Pegunungan menoreh juga terdapat beberapa sekolah baik PAUD, TK, SD maupun SMP. Tentu saja hal ini, akan terkait erat dengan kenyamanan dan keselamatan siswa dalam proses belajar mengajar di tengah segala ancaman tersebut. Seberapa siapkah sekolah dan warga sekolah dalam mengantisipasi ancaman bencana tersebut?

Sekolah di Lereng Menoreh
Berdasarkan data Pegunungan Menoreh di Kabupaten Magelang meliputi wilayah Kecamatan Borobudur dan Kecamatan Salaman. Terdapat 7 Desa di Kecamatan Borobudur yang terletak di lereng Pegunungan Menoreh. Pada desa-desa tersebut terdapat sekolah-sekolah baik di tingkat PAUD, TK, SD maupun SMP. Paling tidak terdapat 8 SD/MI dan sebanyak 3 SMP/MTs.
Kondisi geografis Pegunungan Menoreh berupa lereng dan tebing yang cukup curam. Bangunan rumah maupun sekolah-sekolah banyak yang terletak di atas lereng ataupun di bawah tebing. Sekeliling rumah dan sekolah berupa hutan dan kebun milik masyarakat. Jarak antar rumah relatif jauh berkisar antara 50-70 meter. Kondisi jalan pedesaan beragam dengan tipe jalan berkelok dan menanjak dengan kemiringan sampai dengan 40 derajat. Terdapat jalan aspal dengan lebar jalan hanya sekitar 4 meter, cor blok, jalan batu bahkan masih banyak jalan setapak dari tanah. Kondisi semacam ini memberikan ancaman bencana tersendiri baik di musim kemarau terlebih lagi di musim penghujan.

Potensi Bencana
Curah hujan di sekitar Pegunungan Menoreh cukup tinggi, terutama di bulan Desember-Februari. Kondisi iklim semacam ini, perlu diwaspadai, karena terdapat potensi bahaya, khususnya di sekitar lingkungan sekolah. Bahaya yang sering terjadi antara lain angin topan yang dapat membuat tumbangnya pohon-pohon di sekitar gedung sekolah. Pun pula tumbangnya pohon-pohon yang dapat menutup akses jalan ke sekolah.

Kejadian lain yang sering terjadi adalah bahaya petir. Acapkali frekuensi petir di sekitar gedung sekolah sangat tinggi. Tentu saja hal ini dapat mengancam keberadaan gedung sekolah yang berada di ketinggian. Juga dapat mengancam sarana dan prasarana sekolah lainnya seperti peralatan komputer dan internet.

Ancaman terbesar adalah adanya tanah longsor. Keberadaan tebing di sekitar gedung sekolah dapat mengancam keselamatan jiwa bagi warga sekolah. Tebing-tebing yang berada di sekitar sekolah seolah siap menimbun kapan saja. Demikian pula dengan jurang yang berada di bawah gedung sekolah, bisa saja suatu saat menelan sekolah dan semua yang ada. Tentu saja hal tersebut bukan sesuatu yang diharapkan.
Akan tetapi, semua itu seperti bom waktu yang siap meledak kapanpun. Kekuatan tanah menahan kandungan air hujan pasti ada batasnya. Kekuatan tanah akan tergantung pada penahan dari tanah tersebut semisal akar dari tanaman keras dan atau penahan buatan manusia (talud).

Kesiapan
Untuk menghadapi segala kemungkinan tentang bencana yang mengancam diperlukan kesiapan dari seluruh warga sekolah, termasuk kesiapan fisik gedung. Sekolah perlu merancang fisik gedung yang memiliki ketahanan fisik terhadap tanah longsor, memiliki pengaman terhadap tanah longsor.

Setiap warga sekolah harus memiliki kesiapan terhadap bencana. Seyogyanya warga sekolah memiliki pengetahuan yang cukup terhadap kondisi lingkungan di sekitar.

Mitigasi
Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana (Pasal 1 ayat 6 PP No 21 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana).

Menurut sumber BPBD mitigasi bertujuan: Pertama, mitigasi di perlukan agar dapat mengurangi dampak yang ditimbulkan, khususnya bagi penduduk (dalam hal ini warga sekolah). Kedua, sebagai landasan (pedoman) untuk perencanaan pembangunan. Ketiga, untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam menghadapi serta mengurangi dampak/resiko bencana, sehingga masyarakat dapat hidup dan bekerja dengan aman.

Hal tersebut jika dikaitkan dengan sekolah, maka yang mendapatkan manfaat tentu saja warga sekolah secara keseluruhan. Salah satunya adalah mitigasi untuk tanah longsor antara lain: hindari daerah rawan bencana untuk membangun pemukiman; mengurangi tingkat keterjalan lereng dan terasering dengan sistem drainase yang tepat. Selain itu,; dapat pula dilakukan penghijauan dengan tanaman berakar dalam dan mendirikan bangunan berpondasi kuat. Jika terjadi rekahan, maka harus diadakan penutupan rekahan di atas lereng untuk mencegah air cepat masuk. Hal terakhir yang dapat dilakukan adalah relokasi. Namun acapkali relokasi akan terbentur lahan pengganti dan kendala antara jarak sekolah dengan rumah siswa.

Salah satu cara melakukan pembelajaran mitigasi bencana adalah dengan memasukkan pendidikan kebencanaan dalam kurikulum. Seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Magelang melalui Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memasukkan Kurikulum Kebencanaan di jenjang SD dan SMP sesuai kewenangannya. Implementasinya diharapkan melalui inklusif di mata pelajaran dan juga melalui kegiatan ekstra kurikuler. Hal terpenting yang harus dilakukan oleh pembuat kebijaksanaaan tentu saja monitoring dan evaluasi sejauh mana sekolah-sekolah telah menerapkan kurikulum ini. Sejauhmana pula tingkat pemahaman siswa meningkat terhadap mitigasi bencana.

Sekolah perlu bekerjasama dengan BPBD dan elemen masyarakat lain yang peduli terhadap kebencanaan dalam melatih warga sekolah, khususnya siswa dalam mitigasi bencana. Sayangnya, pelatihan-pelatihan terhadap kebencanaan di sekolah dirasakan masih kurang. BPBD sejauh pengamatan Penulis belum masuk ke dalam ruang-ruang kelas di sekolah-sekolah Lereng Menoreh. Hal ini tentu saja menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah.

Sudah semestinya jika melihat potensi bencana yang cukup besar tersebut, jika setiap sekolah dilereng menoreh ataupun di kawasan lain di Kabupaten Magelang menyiapkan diri menjadi Sekolah Siaga Bencana. Melalui SSB, diharapkan resiko bencana yang dapat mengancam sewaktu – waktu dapat diminimalisir. Mengapa demikian? Sekolah mempunyai peran strategis dalam rangka membudayakan mitigasi bencana di masyarakat. Pengurangan resiko bencana harus dimulai dari lingkungan terkeci, salah satunya adalah sekolah. Tentu saja hal ini hanya dapat terjadi jika ada kerja sama yang baik antara sekolah, orang tua dan pemerintah daerah, dalam hal ini BPBD. Semoga.(***).

Related posts