Upaya Preventif dan Promotif Mengatasi TBC di Masa Covid-19

  • Whatsapp
Penulis: Agus Purnama
Pelaksana Pada Disbudpar Prov. Kep. Babel

Selain masih dilanda wabah pandemi Coronavirus Disease 2019  (Covid-19) yang belum kunjung mereda di negara-negara di dunia, termasuk di Indonesia, masyarakat di seluruh wilayah Negara Kesatuan Indonesia (NKRI) juga harus mewaspadai potensi penularan penyakit menular lain yang umumnya juga sering terjadi di tanah air.

Penyakit menular umumnya lebih berisiko menjangkiti orang-orang yang memiliki daya tahan tubuh lemah dan tinggal di lingkungan dengan kondisi kebersihan yang kurang baik. Penyakit menular juga dapat meningkat pada situasi atau kondisi tertentu, misalnya pada musim hujan atau bencana alam seperti banjir.

Di Indonesia, ada 8 jenis penyakit menular yang sering terjadi, yakni : Pertama, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), merupakan infeksi saluran pernapasan yang menyerang hidung, tenggorokan, saluran napas, paru-paru. ISPA diawali dengan panas disertai salah satu atau lebih gejala tenggorokan sakit atau nyeri telan, batuk kering atau berdahak, dan pilek yang disebabkan virus atau bakteri; Kedua, Diare, merupakan gangguan buang air besar (BAB). Penyakit ini ditandai dengan BAB lebih dari tiga kali sehari, disertai rasa mulas, dengan konsistensi tinja cair, dan dapat disertai dengan darah atau lendir. Diare mungkin dianggap sepele padahal dapat berpotensi kematian, terutama pada balita. Diare menular melalui air, tanah, atau makanan yang terkonfirmasi virus, bakteri, atau parasit; Ketiga, TB (Tuberkulosis) masih menjadi pembunuh terbanyak di antara penyakit menular.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada 2017, diperkirakan ada 1 juta kasus TB di Indonesia. TB disebabkan oleh bakteri yang menyerang paru-paru, namun bakteri tersebut bisa juga menyerang bagian tubuh lain seperti tulang dan sendi, selaput otak (meningitis TB), kelenjar getah bening (TB kelenjar), dan selaput jantung. Bakteri ini ditularkan melalui udara saat penderita batuk atau bersin; Keempat, Demam dengue, merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus dengue. Virus ini menginfeksi manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Demam dengue merupakan penyakit musiman yang umum terjadi di Negara beriklim tropis.

Baca Lainnya

Kelima, Cacingan, Penyakit ini disebabkan oleh cacing tambang, cacing pita, dan cacing kremi yang menginfeksi usus. Cacingan dapat mengakibatkan anemia (kurang darah), lemas, dan mengantuk, sehingga produktivitas menurun. Hal ini karena cacing menyerap nutrisi yang dibutuhkan tubuh; Keenam, Penyakit Kulit, Kudis, Kurap, Kusta menjadi penyakit kulit menular yang banyak diderita oleh masyarakat Indonesia. Penularan penyakit ini terkait dengan kebersihan diri dan lingkungan; Ketujuh, sebagaimana dipaparkan dalam alodokter.com, Malaria, merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh parasit dan juga ditularkan melalui gigitan nyamuk. Penderita malaria umumnya menunjukkan gejala demam, menggigil, sakit kepala, berkeringat, nyeri otot, disertai mual dan muntah; dan yang Kedelapan, Difteri, merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri. Gejalanya berupa demam dan peradangan pada selaput saluran pernapasan bagian atas, hidung, serta kulit.

Untuk diketahui, dari delapan jenis penyakit menular yang sering terjadi di tanah air (Indonesia), Penyakit Tuberkulosis (TB) yang juga dikenal dengan singkatan TBC merupakan penyakit menular yang menyebabkan masalah kesehatan terbesar kedua di dunia setelah HIV. Penyakit ini, disebabkan oleh basil dari bakteri Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis sendiri dapat menyerang bagian tubuh manapun, tetapi yang tersering dan paling umum adalah infeksi tuberkulosis pada paru-paru.

Penyebaran penyakit ini, dapat terjadi melalui orang yang telah mengidap TBC. Kemudian, batuk atau bersin menyemburkan air liur yang telah terkontaminasi dan terhirup oleh orang sehat yang kekebalan tubuhnya lemah terhadap penyakit tuberkulosis. Walaupun biasanya menyerang paru-paru, penyakit ini dapat memberi dampak juga pada tubuh lainnya, seperti sistem saraf pusat, jantung, kelenjar getah bening, dan lainnya.

Indonesia sendiri termasuk lima besar negara dengan jumlah pengidap TB terbanyak di Asia Tenggara dengan jumlah pengidap yang mencapai 305.000 jiwa pada 2012. Apabila tuberkulosis laten atau TBC tidak mendapat pengobatan, maka lebih dari 50 persen orang yang mengidap penyakit ini dapat meninggal. Walau begitu, hanya satu banding sepuluh kasus yang berkembang menjadi penyakit aktif.

Untuk kasus TBC laten, seperti diungkap halodoc.com, 2020, bakteri yang menyebabkan penyakit tuberkulosis belum aktif secara klinis dan hanya berada di dalam tubuh. Jika sudah aktif, akan terjadi gejala pada periode tertentu bisa dalam hitungan minggu maupun tahun. Durasi tersebut tentu saja tergantung dari kondisi kesehatan dan daya tahan dari pengidap.

Menurut Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Awal Bros Bekasi Timur, dr. Annisa Sutera Insani Sp.P, Indonesia adalah negara endemis TBC. “Kita (Indonesia) itu banyak kasus TB nya karena memang jadi negara endemis TB,” kata Annisa, Kamis (19/3/2020).

Bagaimana Indonesia sejauh ini, bisa disebut negara endemis TBC, kata dia, karena jumlah kasus yang banyak dan masih banyak pula yang diyakini tidak ketahuan. Selain itu, penularan juga bisa terjadi melalui peralatan makan yang dikenakan bersama atau peralatan mandi. Masyarakat di Indonesia dianggap masih mengabaikan dan menganggap remeh penyakit menular TBC, meskipun dapat menular cepat melalui udara yaitu dari droplet atau percikan dahak pasien. “Penyakit TB ini jelas menular, juga bisa menginfeksi hampir semua orang dan segala usia, dari tua dan muda juga berisiko kena (TB),” ujar dia.

Namun, pasien TBC di Indonesia seringkali tidak sadar bahwa dirinya berisiko menularkan bakteri penyebab TBC meskipun ia sedang dalam masa pengobatan sekalipun. “Biasanya di kita (Indonesia), orang itu kalau sudah kelihatan sehat, belum waktunya selesai tahap konsumsi obat. Mereka semaunya berhenti minum obat dan gak pake masker kalau bicara ke orang lain, ini penularan masih bisa terjadi,” ungkapnya. (Ellyvon Pranita – Sri Anindiati Nursastri : 23 Maret 2020).

Hal senada terkait penyakit TBC, juga disampaikan Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan RI, dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes. Dikatakannya, sistem Investigasi Kontak (IK) dalam program TBC dapat digunakan dalam menangani Covid-19. Sambung dia, agar dapat berjalan dengan efektif, IK harus dijalankan sedini dan secepat mungkin, sebelum terjadinya penyebaran yang masif di masyarakat. Itu dikatakan Wiendra dalam forum diskusi online, Selasa (24/3/2020).

Selain itu, baik TBC maupun Covid-19 dianggap memerlukan program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) untuk administrasi, lingkungan, dan petugas baik di fasilitas kesehatan maupun di masyarakat.

Wiendra mengatakan, Covid-19 juga dapat menerapkan program PPI yang telah dijalankan untuk TBC. Program dan mitra pelaksana program TBC merupakan wadah yang ideal untuk memberikan edukasi tentang cara pencegahan Covid-19 serta rekomendasi pencarian layanan kesehatan. Diingatkan, untuk pasien yang memiliki gejala batuk, demam, dan sesak nafas, jejaring diagnosis TBC yang berfungsi dengan baik sangat penting dalam penegakan diagnosa TBC atau Covid-19, sehingga tenaga kesehatan dapat memberikan pengobatan yang sesuai.

Setidaknya, dijelaskan dia, ada enam hal yang krusial terkait penanganan penyakit menular TBC selama Covid-19 terjadi di Indonesia, yakni : Pertama, Prioritaskan orang yang rentan atau mempunyai faktor risiko tinggi seperti tenaga kesehatan, lansia, ibu hamil, anak-anak, dan penyakit berat penyerta dalam aksi melawan TBC dan Covid-19; Kedua, Melindungi dan mendukung petugas kesehatan yang berjuang dalam mengendalikan TBC dan Covid-19; Ketiga, Akhiri stigma terhadap orang yang terkena TBC atau Covid-19; Keempat, Sepenuhnya mendanai sistem kesehatan untuk melindungi orang yang paling rentan terkena TBC dan Covid-19; Kelima, Saling bahu-membahu melawan dua penyakit ini yang menyebar melalui udara (airborne disease) seperti TBC dan Covid-19; dan sambung dia yang Keenam,  Kementerian Kesehatan RI telah menyiapkan protokol pelayanan TBC pada kondisi pandemi Covid-19. (Ellyvon Pranita – Sri Anindiati Nursastri : 24 Maret 2020).

Untuk itu, Pemerintah Indonesia berupaya keras untuk mencapai eliminasi tuberkulosis pada 2030 mendatang. Tuberkulosis merupakan salah satu dari sepuluh penyakit menular yang menyebabkan kematian terbanyak di dunia dan telah ditetapkan sejak lama oleh WHO sebagai sebuah pandemi. Presiden Joko Widodo, saat memimpin rapat terbatas mengenai Percepatan Eliminasi Tuberkulosis di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa, 21 Juli 2020, memandang bahwa terdapat potensi agar penanganan pandemi Covid-19 menjadi sebuah model penanganan pandemi tuberkulosis. “Saya tidak tahu apakah ini bisa ditumpangkan di penanganan Covid-19, sehingga kendaraannya menjadi sama. Kita bisa menyelesaikan dua hal yang penting bagi kesehatan rakyat kita. Kalau itu bisa, saya kira akan lebih mempercepat,” ujar Presiden Jokowi.

Menurut Jokowi, model penanganan Covid-19 yang dilakukan pemerintah saat ini, juga dapat diterapkan dalam upaya eliminasi tuberkulosis di Indonesia. Model pelacakan yang agresif untuk menemukan penderita juga dapat dilakukan untuk mencari penderita tuberkulosis yang belum terlaporkan.

“Saya kira seperti yang kita lakukan sekarang, kita sudah memiliki model untuk Covid-19, yaitu pelacakan secara agresif untuk menemukan di mana mereka. Ini harus dilakukan,” kata Presiden. (presidenri.go.id : 21 Juli 2020).

Beberapa penyakit menular seperti flu, polio, hepatitis B, campak, cacar, difteri, dan TBC memang dapat dicegah dengan pemberian vaksin. Selain itu, pencegahan penyakit menular juga bisa diupayakan melalui kebiasaan hidup sehat. Diantaranya, tidak meludah sembarangan, mencuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer, tidak memakai peralatan pribadi bersamaan dengan orang lain, serta rutin mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang untuk meningkatkan imunitas atau daya tahan tubuh terhadap berbagai macam penyakit.

Dengan demikian, upaya preventif dan promotif untuk mengatasi penyakit menular Tuberkulosis atau TBC di masa pandemi Covid-19 ini, bukan hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan saja, melainkan juga menjadi tanggung jawab bersama berbagai pemangku kepentingan atau stakeholder  baik di pusat, daerah, dan juga seluruh lapisan masyarakat di wilayah NKRI. Sebab, penanganan hal tersebut, harus dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan banyak sektor-sektor pendukung lainnya secara terpadu.(***).

 

Related posts