Unsur-Unsur Penguat Ketahanan Keluarga

No comment 154 views

Oleh : Alghi Fari Smith, SST
Social Worker

Alghi Fari Smith, SST

Pembaca yang budiman, keluarga adalah bagian dari masyarakat. Hubungan keduanya saling berkaitan dan memengaruhi satu sama lainnya. Nilai yang dianut dalam keluarga baik positif maupun negatif akan mewarnai kehidupan atau corak daripada masyarakat. Begitupun sebaliknya, nilai atau sistem yang berlaku di dalam masyarakat akan membentuk kultur (budaya) tertentu dalam keluarga.

Duvall dan Logan (1986) mendefinisikan keluarga sebagai sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional serta sosial dari setiap anggota keluarga. Tujuan keberadaan keluarga menurut Landis (1989) yaitu untuk memenuhi kebutuhan fisik (makan dan minum), psikologi (disayangi/ diperhatikan), spiritual/ agama dan sebagainya. Selain itu juga untuk mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi anggota keluarganya serta untuk melestarikan keturunan.

Dalam pandangan Islam, tujuan keberadaan suatu keluarga tidak sebatas untuk melanjutkan keturunan melainkan untuk menjaga anggota keluarga agar tidak terjerumus
ke dalam api neraka. “ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirmu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..” QS. At Tahrim: 6.

Qotadah rahimahulloh dalam tafsir Ibnu Katsir (4/391) menafsirkan “peliharalah dirimu dan keluargamu..” bermakna engkau memerintahkan mereka untuk menaati Allah dan mencegah mereka bermaksiat kepada Allah, hendaklah engkau menegakkan perintah Allah terhadap mereka, memerintahkan mereka dengan perintah Allah dan membantu mereka dalam urusan tersebut dan jika engkau melihat kemaksiatan dari mereka maka hendaklah engkau menegur mereka.

Islam memandang keluarga adalah salah satu pilar dalam membentuk masyarakat yang Islami. Anggota keluarga yang beriman dan bertakwa pada Dzat Pencipta manusia, alam semesta dan kehidupan akan menjadi modal utama dalam membentuk pemikiran, perasaan, perilaku dan aturan serta nilai Islami di tengah masyarakat. Oleh karenanya peran keluarga dalam masyarakat tidak boleh diabaikan. Keluarga harus dibina dan ditegakkan atas nilai-nilai Islami.

Dalam menjalani kehidupan rumah tangga, sudah pasti persoalan selalu datang menghampiri. Persoalan tersebut tidak dapat dihindari dan harus dihadapi dengan baik dan benar. Hal ini seyogiyanya menjadi perhatian agar keluarga senantiasa meningkatkan ketahanannya dalam menyelesaikan setiap persoalan dalam internal keluarga. Ketahanan keluarga menurut Van Holk yaitu sebagai suatu proses dimana orang tidak hanya mengelola upaya-upaya untuk mengatasi kesulitan hidup, tetapi juga untuk menciptakan dan memelihara kehidupan yang bermakna dan dapat ikut menyumbang/ berkontribusi pada orang-orang sekitar.

Pembaca yang budiman, kondisi ketahanan keluarga hari ini mengalami penurunan dari segi kualitas. Hal ini disebabkan karena tidak adanya kerja sama dalam anggota keluarga sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing. Selain itu juga, keadaan ini dapat menurunkan ikatan emosional anggota keluarga. Indikatornya adalah pudarnya sikap saling peduli satu sama lain. Perceraian merupakan bentuk ekstrim dari runtuhnya ketahanan suatu keluarga.

Nilai-nilai luhur anggota keluarga hari ini telah bergeser, masing-masing anggota keluarga sudah tidak lagi saling menghormati. Kata-kata kasar seringkali diucapkan, nasihat sudah tidak lagi di dengar dan lain sebagainya. Sebagian orang tua hari ini mulai lebih mementingkan materialistik (baca: mencari nafkah) dan mengabaikan pola didik dan pola asuh anak. Akibatnya, anak menjadi “liar” terjebak dalam seks bebas, penyalahgunaan narkoba, awuran, dan lain sebagainya.

Cukup sering hal ini terjadi diakibatkan pola komunikasi yang dijalin dalam keluarga bermasalah. Kesibukan mencari nafkah seolah menjadi alasan tidak ada waktu untuk mendengarkan curhatan anak dan istri atau sebaliknya. Hal ini diperparah dengan dijadikannya agama (baca: Islam) sebagai formalitas. Dalam bersikap dan berprilaku, anggota keluarga seringkali mengabaikan “rambu-rambu”’ sehingga dalam menjalani rumah tangga tidak mendapatkan suasana saqinah, mawaddah dan warrohmah. Padahal Allah Swt telah menyampaikan, “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit..” Qs. Thoha: 124.

Pembaca yang budiman, unsur-unsur ketahanan kelurga terdiri dari tiga pilar.
Pilar pertama adalah sistem keyakinan/ persepsi keluarga. Hal ini sangat memengaruhi corak dan perilaku anggota keluarga. Contoh, orang tua yang beranggapan (berpersepsi) bahwa anaknya adalah “aset” yang berharga, keluarga akan mengupayakan anaknya untuk sekolah sampai ke jenjang yang lebih tinggi, membina dan membimbingnya dengan optimal.

Pilar kedua adalah pola organisasi keluarga yang terbentuk dari pola-pola perilaku masing-masing anggota keluarga yang dilakukan secara berulang. Contoh: pembagian tugas untuk mencari nafkah ayah dan yang mengatur urusan rumah tangga, merawat dan mendidik anak dilakukan ibu. Catatan, bukan berarti ayah tidak memiliki peran merawat dan mendidik anak, bisa saja waktunya lebih banyak sang ibu yang melakukannya. Pembagian tugas, peran dan fungsi masing-masing anggota keluarga bertujuan untuk menciptakan suasana saling pengertian dan menghargai satu sama lainnya.

Pilar ketiga adalah komunikasi yang efektif. Hal ini sangat bermanfaat dan membantu anggota keluarga guna mencari pemecahan masalah dan berperan dalam menumbuhkan saling percaya dalam keluarga. Contoh sederhananya, orang tua membiasakan anaknya ketika meniggakan rumah berpamitan. Tujuannya yaitu agar orang tua tidak khawatir akan keberadaan sang anak dan bisa memantau keberadaan anaknya. Selain itu juga, dalam pola komunikasi hendaknya antar anggota keluarga merumuskan kembali tujuan berumah tangga sehingga memiliki visi dan misi yang sama. Dengan demikian diharapkan dapat meminimalisir konflik.

Dari ketiga pilar tersebut, penulis ingin menyampaikan bahwa unsur paling berpengaruh untuk perkuat ketahanan keluarga yaitu setiap anggota keluarga berpegang teguh pada ajaran agama (baca: Islam) itu sendiri. Allah Swt telah berjanji kepada mereka yang bertakwa akan dimudahkan segala urusannya, termasuk dalam memecahkan masalah dalam keluarga. “..Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam segala urusannnya.” QS. At Thalaq: 4. Wallahu’alam. [****].

No Response

Leave a reply "Unsur-Unsur Penguat Ketahanan Keluarga"