Tukak Sadai Juara Lomba Cipta Menu B2SA Basel

  • Whatsapp
Delegasi Kecamatan Tukak Sadai menerima Piala Juara I dalam Lomba Cipta Menu Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (LCM B2SA) yang digelar Dinas Pertaninan Pangan dan Perikanan Bangka Selatan di Kantor PKK Basel, Selasa (20/8/2019). (foto: dedy).

TOBOALI – Kecamatan Tukak Sadai berhasil menjadi juara I dalam Lomba Cipta Menu Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (LCM B2SA) yang digelar Dinas Pertaninan Pangan dan Perikanan Bangka Selatan di Kantor PKK Basel, Selasa (20/8/2019).

Sementara Juara II dan III diraih kecamatan Toboali dan Payung. Dalam lomba Gelar Pangan, Kecamatan Toboali berhasil meraih juara I. Sedangkan juara II dan III diraih oleh Kecamatan Airgegas dan Kecamatan Payung. Demikian rilis yang diterima harian ini.

Lomba dimaksudkan agar setiap individu khususnya ibu rumah tangga yang bertanggung jawab dalam menentukan dan menyediakan menu keluarga dapat menyajikan menu B2SA. LCM juga dimaksudkan agar ibu rumah tangga dapat menyajikan pilihan menu yang dapat diaplikasikan.

LCM B2SA kali ini diikuti oleh ibu-ibu Tim Penggerak PKK dari 8 Kecamatan se Kabupaten Bangka Selatan yang bertujuan untuk menyadarkan dan menggerakkan masyarakat untuk lebih mendayagunakan potensi pangan lokal demi untuk mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan.

Peserta lomba akan menyajikan menu makanan selama satu hari untuk tiga kali makan untuk keluarga dalam bentuk display. Hal ini dimaksudkan untuk melihat penerapan aspek keanekaragaman dan keseimbangan pangan dalam menu, dengan tetap mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal. Selain penilaian resep dan display, pertimbangan terhadap dukungan pemerintah daerah dan masyarakat dalam menerapkan konsumsi B2SA tetap menjadi penilaian.

Dengan demikian, prinsip konsumsi pangan B2SA diharapkan tidak berhenti hanya pada saat lomba saja, namun dapat ditindaklanjuti dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Dalam sambutan yang disampaikan oleh Budi Setyo, mewakili Bupati mengatakan, untuk mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan, maka lomba yang dilaksanakan ini sangatlah penting bagi masyarakat Basel yang memiliki banyak potensi pangan lokal yang sangat potensial dan dapat terus dikembangkan di bumi Junjung Besaoh.

Melalui lomba ini, kata dia, diharapkan masyarakat khususnya peserta, dapat berkreasi mengembangkan resep yang beragam, bergizi seimbang, dan aman serta dapat diterapkan sebagai menu keluarga sehari-hari dan bukan hanya pada saat lomba saja.

Salah satu faktor penting yang mempengaruhi terwujudnya sumberdaya manusia yang berkualitas, dijelaskannya, adalah konsumsi pangan. “Bukti empiris menunjukkan bahwa kualitas SDM sangat ditentukan oleh status gizi yang baik, dimana status gizi yang baik ditentukan oleh jumlah asupan pangan yang dikonsumsi. Selanjutnya, masalah gizi yang terjadi pada masa tertentu akan menimbulkan masalah pembangunan di masa yang akan datang,” jelas Budi.

Saat ini, masih dikatakan Budi, hampir seluruh negara di dunia menghadapi berbagai bentuk permasalahan gizi, kekurangan gizi maupun kelebihan gizi, baik gizi makro maupun gizi mikro. “Masalah gizi yang saat ini menjadi fokus perhatian Pemerintah diantaranya Stunting, yaitu kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Di Indonesia, sekitar 37% (hampir 9 juta) anak balita mengalami stunting,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan Suhadi, menjelaskan kegiatan ini sebagai upaya untuk mengedukasi masyarakat agar beragam bergizi berimbang dalam alternatif sumber pangan lokal menjadi kebiasaan sehari hari, demi menciptakan SDM unggul Indonesia lebih cepat tercapai.

Hal senada juga disampaikan Ekawati Justiar, Ketua Tim Penggerak PKK Bangka Selatan, bahwa diversifikasi pangan sebagai upaya untuk menuju ketahanan pangan wajib menjadi pola hidup masyarakat. Karena kondisi darurat bisa terjadi kapanpun dan pada saat apapun.

“Oleh karena itu, dengan lomba B2SA diharapkan menjadi upaya pemerintah memberikan pendidikan bagi masyarakat terkait sumber pangan pengganti beras untuk bertahan hidup, dengan tetap memperhatikan nilai asupan gizi,” tegas Ekawati.

Catatan secara umum kreatifitas dan inovasi sudah cukup baik, tetapi masih banyak porsinya agak berlebihan baik nabati, hewani dam buah. “Mohon dikaji lagi untuk ukuran porsi orang dewasa, baik porsi pagi, siang dan malam. Jangan jadikan lomba hanya mencari juara, tapi lebih ditekankan pada aplikasi sehari – hari dan bernilai ekonomis untuk dijual,” imbuhnya. (raw/3)

Related posts