Tugas Utama Guru yang Paling Fundamental Pada Abad XXI

  • Whatsapp

Oleh: Alvador Manik, S. Th
Guru SMA Negeri 1 Pemali, Kabupaten Bangka

Jika kita perhatikan dunia pendidikan kita akhir-akhir ini, tercemar akibat ulah oknum guru yang melakukan kekerasan seksual terhadap anak didiknya sebagaimana contoh kasus yang pernah terjadi di Jakarta International School (JIS) dan di SD Negeri Semeru 6 Bogor yang dilakukan oleh guru agama dan juru pijat saraf, dan pelecehan seksual yang dilakukan Guru perempuan di Kelompok Bermain (Playgorup) Saint Monica Jakarta School (SMJS) (Kompas, 14 Mei 2014, hal. 27, kolom 1 – 4). Guru yang seharusnya bertugas sebagai Pendidik (mengajar, menjaga, melindungi dan membimbing anak-anak agar dapat bertumbuh menjadi manusia dewasa yang seutuhnya) tetapi kenyataann justru sebaliknya, “pagar makan tanaman”.

Guru melakukan perbuatan yang semestinya tidak dilakukan kepada anak didinya. Peristiwa memalukan ini membuka kesadaran kita akan penting dan straegisnya peran guru dalam keberhasilan pendidikan khususnya untuk menyongsong abad-21. Melihat kondisi yang memprihatinkan tersebut menjadi sangat penting on going formation bagi guru sehingga guru dapat menjadi keunggulan komparatif di sekolah dari tingkat dasar sampai tingkat menengah.

Guru Profesional: Option for the Quality
Dalam forum tahunan World Inovation Summit for Education (WISE) ke – 5 yang diselenggarakan pada tanggal 28 – 31 Oktober 2013 yang lalu di Doha Qatar, hampir pada semua sesi diskusi panel, debat, dan para peserta sepakat bahwa keterbatasan akses akibat keterbatasan fasilitas pendukung dalam proses pembelajaran bukan satu-satunya penghambat pendidikan berkualitas, tetapi juga kualitas guru tersebut. Dan bahkan guru dianggap sebagai penyebab lahirnya generasi yang tidak memiliki keahlian atau keterampilan hidup yang dibutuhkan abad XXI, (Kompas, 25 Nov 2013).

Seiring kemajuan zaman tuntutan terhadap guru yang berkualitas (Profesional) telah lama menjadi harapan masyarakat dan pemerintah seiring dengan tuntutan terbaru dalam penguasaan teknologi, kemampuan untuk berbisnis dan pengembangan industry tanpa kecuali pendidikan. Option for the quality telah lama menjadi kata kunci dalam setiap manajemen sekarang ini terutama di lembaga pendidikan. Guru dilihat memegang peranan yang strategis dalam peningkatan kualitas pendidikan disampinng pengembangan kurikulum dan melengkapi sarana dan prasarana untuk menunjang pembelajaran yang semakin baik. Tosten Husen dalam bukunya The Learning Society Revisite Essays, menegaskan bahwa guru merupakan pelaku utama dalam mencapai suksesnya reformasi pendidikan.

Apa yang menjadi keprihatinan dalam pertemuan penting forum tahunan World Inovation Summit (WISE) menjadi kenyataan di Indonesia dimana beberapa oknum guru mempertontonkan kejahatan pelecehan seksual kepada anak didiknya. Tugas pokok dan fungsi serta tanggungjawab guru di sekolah sebagai lembaga pendidikan yang bertugas mendidik dan memelihara jiwa-jiwa muda (cura personalis) yang dipercayakan pada sekolah agar anak didik menjadi manusia yang bertumbuh secara fisik, mental, sosial, spiritual dan psikomotoriknya seakan-akan menjadi cita-cita yang utopis. Akibat ulah oknum guru, kondisi pendidikan yang sedang dihadapkan pada kondisi “brutal” yang langsung menusuk jantung cita-cita luhur pendidikan kita.

Bila kita kaji lebih jauh, kondisi Guru di Indonesia masih memprihatinkan baik dari sisi kuantitas yang memenuhi tuntutan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jumlah guru yang belum S-1 masih ada 1.44 juta orang, 49.3 % dari jumlah 2, 92 juta guru di Indonesia dan 900.000 orang diantaranya masih status guru honorer. Dan guru yang sudah sertifikasi (tahun 2011) dari total 2,92 juta orang, hanya 2,06 juta (70,5 %) guru yang memenuhi syarat sertifikasi. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 1,1 juta guru sudah bersertifikat. Dan dari jumlah itu baru sekitar 731.000 guru yang menerima tunjangan sertifikasi (Kompas, 13 Mei 2013). Artinya, baru 39.94 % guru yang menerima tunjangan sertifikasi dari total 2, 92 juta orang guru. Dari data tersebut dapat diperhatikan jika sertifikasi guru saat ini belum memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

Gerakan reformasi pendidikan tidak boleh terlepaskan dari kesadaran kolektif untuk mereformasi profesi guru, terutama berkenaan dengan kesejahteraan dan peningkatan kompetensi guru. Pengambilan kebijakan memberikan sertifikasi kepada guru pada awalnya untuk meningkatkan kesejahteraan guru secara selektif dengan pertimbangan kesiapan anggaran yang masih terbatas. Pemberian sertifikasi kepada guru dimaksudkan sebagai pintu masuk untuk peningkatan kompetensi dan diharapkan sebagai agent pembaharuan dalam mereformasi pendidikan.

Seperti kita tahu dalam UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 1 ditegaskan: “Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Dalam diri seorang guru diharapkan tertanam prinsip Profesionalitas sebagaimana ditandaskan dalam Bab 3 Pasal 7 (1) UU Guru dan Dosen, dimana profesi guru dan dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan prinsip sebagai berikut: memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme, memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, dan memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja; memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat.

Guru Profesional sesuai Undang-Undang diharapkan memiliki empat kompetensi. Pertama, kompetensi kepribadian. Sebagai seorang guru harus memiliki kepribadian yang baik yang dapat menjadi teladan bagi anak didiknya (role model), bukan sebaliknya seperti yang dilakukan oknum guru yang mencoreng dunia pendidikan. Tugas mendidik melekat dalam diri seorang guru bukan saja melalui pengajaran di dalam kelas tetapi dalam relasi dan proses pembelajaran dimana siswa dapat merasakan dan melihat nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai teladan bagi hidup mereka.

Kedua, Kompetensi sosial. Seorang guru dituntut memiliki sikap afeksi, peka dan peduli terhadap lingkungan sosialnya, baik itu di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat. Guru diharapkan mampu mengelola emosinya sehingga dalam membangun relasi dengan seluruh siswa ia dapat menunjukkan sikap dan prilaku yang memiliki nilai-nilai edukatif, tidak gampang emosi, dan melakukan kekerasan pada siswa.

Ketiga, Kompetensi Pedagogik. Kompetensi pedagogik sudah dipelajari dan dilatihkan oleh setiap calon guru agar ia mampu melakukan proses pembelajaran di kelas, menguasai kelas dengan baik dan mampu menggunakan media tehnologi untuk membantu keberhasilan proses pembelajaran sehingga lebih diminati oleh siswa. Kompetensi ini cukup mendapat perhatian dari pemerintah khususnya ketika ada pergantian kurikulum pelatihan terhadap guru dilakukan seperti dalam Kurikulum 2013.

Keempat, Kompetensi Professional. Seorang guru harus professional di bidangnya, menguasai bidang keilmuan yang diajarkan dan mengajar sesuai dengan bidang keilmuan yang dimilikinya. Melalui kompetensi professional seorang guru diharapkan terus mengembangkan ilmunya melalui pelatihan dan karya-karya ilmiah dan penelitian kelas. Pengembangan kompetensi profesional ini masih sangat lemah dalam diri guru-guru di Indonesia, mereka masih enggan untuk berubah, belajar seumur hidup (long life education) apalagi melakukan pengembangan diri melalui inovasi, evaluasi dan pengembangan pembelajaran.

Dalam kondisi pendidikan kita yang belum sesuai dengan harapan semua orang, sekolah diharapkan mampu mempertajam visi dan komitmennya agar mampu mengembangkan karakter kolektif bagi seluruh stakeholder pendidikan; guru, tenaga kependidikan dan seluruh siswa. Hanya guru dan sekolah yang memiliki kesadaran diri, kepercayaan diri dan jati diri dan setia menjalankan tujuan sejati pendidikan yakni pembentukan pribadi manusia yang utuh, akan mampu dan dipercaya masyarakat mengembangkan karakter kolektif di antara murid-miridnya. Sebab setiap sekolah dan guru harus berusaha membentuk pribadi yang mantap dan bertanggungjawab dan sanggup memilah secara bebas dan benar akan arti dan makna hidup yang sebenarnya (Gravissium Educasionis).

Perlu diperhatikan maraknya masalah kekerasan di lingkungan sekolah diakibatkan kegagalan pendidikan dalam mewujudkan nilai pendidikan yang sesungguhnya. Sekolah cenderung mengajar, bukan mendidik, dan sebatas memperkenalkan nilai-nilai kepada siswa. Guru di sekolah terpanggil menjadi saksi kebenaran yang memiliki kesadaran dan penghayatan akan nilai-nilai luhur yang diyakini oleh banyak orang menjadi motor penggerak perkembangan anak didik menjadi lebih manusiawi, berbudaya, bermoral, dan berbudi luhur.

Menurut Edgar Morin, seorang Sosiolog, filsuf, dan kepala peneliti di International Centre for Scientific Research (CNRS), tugas utama guru yang paling fundamental pada abad XXI justru menyiapkan anak agar siap menghadapi realitas kehidupan yang semakin kompleks, persaingan yang semakin tinggi dan serba tidak jelas. Guru diharapkan dapat membawa lilin menjadi terang bagi kegelapan di masyarakat. Dan Parker J. Palmer, menegaskan bahwa, bahan pengajaran yang paling memiliki dampak terhadap kehidupan siswa adalah pribadi guru itu sendiri.(***).

Related posts