by

Transformasi Teknologi Kertas ke Teknologi Digital: Perspektif Pendidikan

-Opini-266 views

Ameliana Tri Prihatini Novianti, S.Si
Guru SMK Negeri 1 Kelapa, Kabupaten Bangka Barat

Ameliana Tri Prihatini Novianti, S.Si

Dalam sejarah peradaban manusia, Daras (Arab= Henokh, Ibrani = Akhnukh) atau di dalam Islam dikenal sebagai Nabi Idris AS yang hidup sekitar tahun 4533 – 4118 SM adalah orang yang pertama kali menemukan cara menulis dan mengajarkannya. Lempengan dari tanah yang diatasnya terdapat tulisan matematika dalam bentuk tulisan paku adalah temuan yang diperkirakan berusia 4000 SM menjadi bukti bahwa pada zaman tersebut sudah mengenal tulisan.
Pada peradaban Mesir Kuno (3150 SM), Papyrus digunakan sebagai media untuk menulis. Papyrus adalah sejenis tanaman air berbentuk seperti alang-alang yang banyak ditemukan di lembah dan tepi Sungai Nil. Dari kata Papyrus inilah dikenal sebagai paper dalam bahasa inggris yang berarti kertas.
Kemudian, pada masa Dinasti Han (202 SM – 220 M), Cai Lun yang benama lengkap Cai Jingzhong melakukan percobaan membuat suatu media yang dapat digunakan untuk menulis. “Ia membuat kertas dari kulit kayu murbei. Bagian dalamnya direndam di air dan dipukul-pukul sehingga seratnya lepas. Bersama dengan kulit, direndam juga bahan rami, kain bekas, dan jala ikan. Setelah menjadi bubur, bahan ini ditekan hingga tipis dan dijemur” (id.wikipedia.org), inilah teknik dasar pembuatan kertas yang masih diigunakan sampai sekarang. Sebelum dunia pendidikan menggunakan teknologi digital, penggunaan kertas masih menjadi andalan utama dalam pembelajaaran yang dilakukan di kelas, ujian sekolah dan ujian nasional, surat menyurat, penyebaran informasi, pendokumentasian berkas, dan keperluan lainnya.
Bergesernya perkembangan teknologi kearah digital, membuat konsep paperless menjadi gebrakan baru yang secara perlahan membuat eksistensi kertas menurun. Terlebih, teknologi digital melahirkan penambahan huruf “e-“ yang menjadikan kertas dipandang tak lagi menjadi bagian penting dari arus digitalisasi. Kemudian dengan dalih mengurangi penebangan hutan, konsep paperless dijadikan kampanye ampuh untuk mengesampingkan penggunaan kertas di era milenial ini.
Konsep paperless pun berangsur-angsur diterapkan dalam dunia pendidikan. Bagaimana tidak, pembelajaran di kelas yang menggunakan teknologi presentasi, daring dan materi pelajaran pun bisa di copy dalam bentuk file kemudian diedarkan keseluruh siswa, tugas-tugas tidak lagi diberikan dikertas melainkan disebarkan menggunakan teknologi digital. Guru dapat menggunakan youtube yang berbasis video sebagai media pembelajaran dalam pembelajaran yang ia kelola. Mulai dari uraian materi, eksperimen, tutorial, sampai simulasi dapat ditampilkan guru di depan kelas tanpa menggunakan kertas sebagai medianya. Data-data sekolah, administrasi, dan dokumentasi yang sebagian besar disimpan dalam bentuk file menjadi bukti-bukti nyata paperless berhasil menginduksi ke dalam dunia pendidikan.
Teknologi digital memang memudahkan di berbagai lini bidang pendidikan formal, maraknya pergeseran ujian dari paper based test (PBT) menjadi computer based test (CBT) atau ujian online mengurangi penggunaan kertas secara signifikan.
Namun pada bulan Mei 2017 lalu, serangan cyber skala besar, yaitu virus wannacry menginfeksi 75.000 komputer di 99 negara dan menuntut pembayaran sejumlah uang untuk memulihkan data yang terinfeksi virus harusnya menjadi refleksi bagi setiap orang bahwa kertas tetap berperan penting dalam era digital sekarang ini termasuk di bidang pendidikan. Pada satu sisi, teknologi digital dibidang pendidikan yang diklaim lebih efektif karena mampu menjadi solusi yang praktis, efisien, lengkap dalam penyampaian materi ataupun memperlancar kegiatan dibidang pendidikan namun di sisi lain, potensi rusak dan peretasan terhadap data dan informasi yang tersimpan juga menjadi sisi lemah yang harus dilihat dalam porsi yang sama.
Penggunaan intenet dan teknologi digital dalam pembelajaran tidak serta merta meningkatkan kualitas siswa secara umum dikarenakan internet dan teknologi digital juga memiliki fungsi hiburan dan siswa lebih cenderung untuk memanfaatkan teknologi tersebut sebaagai hiburan aatau ajang pengekspresian diri mereka. Oleh karena itu, penggunaan teknologi kertas harus tetap memiliki porsi yang sama dengan penggunaan teknologi digital agar tercipta keseimbangan dan terkontrolnya dunia pendidikan.

Comment

BERITA TERBARU