Trafficking Terbongkar, Cafe Podomoro Digerebek

  • Whatsapp
KORBAN TRAFFICKING – Empat korban trafficking yang diamankan buser dan unit PPA Polres Pangkalpinang turut dihadirkan dalam konferensi pers, Kamis (30/1/2020). (Koko Sadmoko)

PANGKALPINANG – Kasus trafficking atau perdagangan anak, kembali terbongkar di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kali ini, Anggota Buser bersama Tim Unit Perlindungan Anak dan Perempuan Polres Pangkalpinang, mengungkap dijualnya 4 perempuan, tiga orang diantaranya anak dibawah umur di Cafe Podomoro 2 Cikita, Lokalisasi Teluk Bayur, Kelurahan Pasir Putih, Kota Pangkalpinang.

Empat perempuan itu dijadikan PSK (Pekerja Seks Komersial) oleh pengelola kafe, setelah dilaporkan pergi dari rumah sejak November 2019. Mereka adalah berinisal AN (17), NSO (17), ARS (15) dan seorang perempuan dewasa NAL (19).

Read More

Beruntung keberadaan mereka yang dipaksa melayani birahi lelaki hidung belang di lokalisasi itu, diketahui petugas. Dan Rabu (29/1/2020) malam, para cewek ABG korban eksploitasi itu dijemput Kanit Buser Polres Pangkalpinang, Aiptu Mardi Bule dan Kanit PPA IPDA Riska Siti Amelia beserta anggota dari Cafe Podomoro Cikita, Lokalisasi Teluk Bayur.

Keterangan yang diperoleh Rakyat Pos menyebutkan, terbongkarnya kasus perdagangan orang ini berawal saat pihak Polres Pangkalpinang mendapat laporan dari Polda Jawa Barat terkait dugaan tindak pidana trafficking di Pangkalpinang, dengan nomor Laporan Polisan (LP) Nomor LP / B-1336/ XII / 2019/ pada tanggal 27 Desember 2019.

Dalam laporan disebutkan, salah satu orang tua korban melaporkan bahwa anaknya tidak kembali sejak November 2019 lalu saat pergi ke rumah temannya. Selanjutnya, keberadaan para korban diketahui setelah salah seorang korban menghubungi orang tuanya dan menyebutkan dirinya telah diperkerjakan oleh Icha sebagai pelayan kafe dan melayani laki-laki hidung belang di tempat pelacuran Teluk Bayur.

Berbekal laporan dan keterangan itulah, tim Buser Reskrim Polres Pangkalpinang dan Unit PPA kemudian mendatangi Lokalisasi Teluk Bayur, kemudian menggerebek Cafe Podomoro Cikita 2 di tempat itu, dan mengamankan empat perempuan yang dipekerjakan sebagai PSK. Polisi juga menangkap mucikari dan pengelola kafe yang kini ditahan di Mapolres Pangkalpinang.

Kabag OPS Polres Pangkalpinang, Kompol Jadiman Sihotang membenarkan pihaknya telah menyelamatkan empat remaja perempuan dari tempat pelacuran Teluk Bayur, Pangkalpinang.

“Berdasarkan LP dari Polda Jawa Barat dan melakukan koordinasi, tim langsung menuju Cafe Podomoro 2 Cikita untuk menjemput korban. Selanjutnya korban akan dijemput oleh Polda Jabar pada Sabtu (1/3/2020),” terang Jadiman Sihotang saat dikonfirmasi Kamis (30/1/2020).

Dalam pantauan wartawan, semula tidak mudah bagi anggota kepolisian untuk melacak keberadaan korban yang terkesan disembunyikan oleh pengelolah kafe.

Bahkan, pada Rabu pukul 16.00 Wib, upaya penyamaran harus dilakukan salah satu anggota Buser yang menyamar sebagai tamu di Lokalisasi Teluk Bayur. Pihak kepolisan akhirnya bisa melakukan penggerbekan pada pukul 18.00 Wib, setelah mendapati para korban. Dan menemukan 4 perempuan itu sedang bersembunyi di dalam salah satu kamar di kafe tersebut.

Kepada anggota kepolisian, korban berinisal ARS mengaku disuruh bersembunyi oleh pengelolah kafe saat akan dilakukan penggerbekan.

“Saya mah dikasih tahu dari Teh Wina (yang mengurus kafe) bahwa ada Polisi, jangan keluar, sembunyi dulu di kamar,” kata ARS saat ditanya polisi mengapa bersembunyi di kamar.

Setelah itu, polisi juga melakukan pemeriksaan terhadap dokumen kependudukan yang dimiliki oleh 4 cewek ABG tersebut. Hasilnya, diketahui ada perubahan pada kartu izin tinggal yang dimiliki para korban.

“Dari keterangan korban, identitas mereka dipaksakan atau harus dewasa diusia 18 tahun ke atas, ini agar para korban bisa bekerja di lokalisasi tersebut,” kata Kabag Ops.

Terkait dengan dugaan pemalsuan dokumen ini, salah satu korban berinisal NAL membenarkan hal tersebut.

“Identitas kami sudah dirubah sejak kami berangkat ke Bangka. Seseorang yang bernama Icha yang mengurus dokumen kependudukan kami,” tukasnya.

Kini, keempat perempuan remaja itu masih berada di Mapolres Pangkalpinang untuk didata sembari menunggu penjemputan dari Tim Polda Jawa Barat. Sedangkan pengelola kafe, dan mucikari Ica masih dalam pemeriksaan polisi.

Sekali Tidur Rp300 Ribu
Terpisah, pengakuan mengejutkan datang dari salah satu korban perdagangan manusia, berinisal NAL. Perempuan berambut pirang asal Kiara Condong, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat ini mengaku tertipu bujuk rayu seorang ibu-ibu bernama Ica yang mengajaknya bekerja ke Pulau Bangka.

“Awalnya dijanjikan penghasilan yang lumayan di Bangka, ternyata saya malah disuruh melayani tamu,” kata NAL kepada wartawan harian ini.

Dalam melayani tamu yang datang ke kafe itu, menurut NAL ditetapkan tarif sekali kencan sebesar Rp300 ribu oleh pengelola kafe. Dari nominal itu, dia tidak mendapatkan seutuhnya, namun dikurangi biaya-biaya lainnya yang dianggap mereka pernah berhutang. NAL mengaku dalam satu malam bisa melayani satu tamu, karena pilih-pilih tamu.

“Karena saya pilih-pilih tamu, saya hanya kejar uang tips dari menemani karaoke. Ini saya lakukan untuk membayar hutang yang ada sejak kami tinggal di Kafe Podomoro 2 Cikita ini,” terangnya.

Selama tinggal di lokalisasi tersebut, NAL mengatakan banyak mendapat tekanan berupa harus membayar hutang yang tidak pernah disepakati dan diketahuinya.

“Kami harus membayar uang lampu, uang air, uang baju dan hutang-hutang lainnya seperti tiket pesawat dan lain sebagainya. Kami juga dibatasi dalam menghubungi keluarga di Bandung,” katanya.

Lain halnya dengan korban berinisal AN (17). Dia menyebutkan sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari tamu yang datang.

“Tangan saya sering ditarik, tamu berkata kasar kalau saya menolak melayani dengan alasan mereka sudah membayar,” ujar perempuan asal Baleendah, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.

Kedua korban trafficking ini sempat berpesan kepada perempuan-perempuan lainya agar tidak mudah percaya bujuk rayu orang yang baru dikenal.

“Kami juga mengucapkan terimaksih kepada Buser Polres Pangkalpinang dan unit PPA, yang telah menyelamatkan kami dari tempat prostitusi ini,” tutup AN. (ist/1)

Related posts