Tradisi “Ngebubur” Urang Suku Jerieng

No comment 344 views

Oleh: Suryan
Ketua Kahmi Babar/Pemuda Muhammadiyah

Suryan

Setiap bangsa dan suku bangsa tentunya memiliki agama sebagai kepercayaan   yang mempengaruhi manusia sebagai individu, juga sebagai pegangan hidup. Di samping agama, kehidupan manusia juga dipengaruhi oleh kebudayaan. Kebudayaan menjadi identitas dari bangsa dan suku bangsa. Suku tersebut memelihara dan melestarikan budaya yang ada (Agus, 2002: 15). Dalam masyarakat, baik yang kompleks maupun yang sederhana, ada sejumlah nilai budaya yang satu dengan lain saling berkaitan hingga menjadi suatu sistem, dan sistem itu sebagai pedoman dari konsep-konsep ideal dalam kebudayaan memberi pendorong yang kuat terhadap arah kehidupan warga masyarakatnya (Atang & Mubarak, 2006: 28).

Tiga hari yang lalu, beberapa daerah di nusantara memperingati hari Asyura (10 Muharram 1439 Hijriyah) tepatnya tanggal 30 September 2017 dengan berbagai macam ragam perayaan, termasuk membuat bubur (ngebubur) Sure – bahasa Jerieng.

Ngebubur (memasak bubur) Sure adalah sebuah tradisi yang melekat di masyarakat, mempunyai nilai dan merupakan bagian dari budaya yang luar biasa. Ngebubur sure ini merupakan tradisi yang masih dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Suku Jerieng yang ada di Kabupaten Bangka Barat, khususnya di wilayah Kecamatan Simpang Teritip pada hari Sure (Asyura).

Hari Asyura sebagaimana dikutip dari wikipedia adalah hari ke-10 pada bulan Muharram dalam kalender Islam. Sedangkan asyura sendiri berarti kesepuluh. Asyura dalam Islam mengandung sejarah yang erat kaitannya dengan cucu Nabi Muhammad, yakni kesyahidan Husain bin Ali pada Pertempuran Karbala tahun 61 H (680). Selain itu, merupakan peristiwa Nabi Musa berpuasa pada hari tersebut untuk mengekspresikan kegembiraan kepada Tuhan karena Bani Israil sudah terbebas dari Fira’un (Exodus).

Ketika zaman Nabi Muhammad, beliau juga berpuasa pada hari tersebut dengan jumlah dua hari dengan tujuan menyelisihi umat Yahudi dan Nasrani dan meminta orang-orang pula untuk berpuasa.

Sementara sure dalam pengartian Urang Melayu Jerieng adalah upacara nge-bubur campur-campur yang biasanya dilakukan di halaman masjid secara bersama-sama (gotong-royong). Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan bubur sure tersebut berasal dari tanaman hasil pertanian dan laut, seperti sayur-sayuran, buah-buahan, dan lainnya. Secara teknis bahan-bahan untuk membuat bubur sure adalah: beras, labu, megale (ubi/singkong), bijur, blis (ikan teri kering yang sudah diasin), pisang, kemilik, dan lain sebagainya.

Dahulu, untuk bahan-bahan ngebubur harus 44 macam bahan untuk campurannya. Namun sekarang yang penting lebih dari 3 macam sudah memenuhi (tidak dipermasalahkan lagi). Untuk bahan-bahan sendiri, diperoleh dari masyarakat setempat, yang dikeluarkan dengan suka rela. Biasanya setelah bubur masak, dilakukan ritual agama (selamatan/Nganggung) dan selanjutnya bubur tersebut dibagikan kepada masyarakat untuk dibawa pulang dalam tempat yang telah mereka sediakan.

Tetapi ternyata, tradisi bubur Asyura tidak hanya ada di Nusantara saja, namun ternyata juga ada di luar negeri jauh sebelum peristiwa yang menimpa cucu nabi. Sebagaimana dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa setelah Nabi Nuh as dan para pengikut beliau turun dari kapal, mereka mengadu kepada Nabi Nuh bahwa mereka dalam keadaan lapar, sedangkan bekal mereka sudah habis. Maka Nabi Nuh as memerintahkan mereka untuk membawa sisa perbekalan yang mereka miliki. Ada dari mereka yang hanya memiliki satu genggam gandum, ada yang hanya memiliki sisa satu genggam kacang adas, ada yang hanya memiliki satu genggam kacang dan ada yang membawa satu genggam kacang homs, sehingga ada tujuh jenis biji-bijian yang terkumpulkan. Kemudian Nabi Nuh as memasak semuanya dalam satu masakan, sehingga jadilah makanan sejenis bubur. Mereka makan bubur tersebut dan mencukupi untuk mengenyangkan semua pengikut beliau dengan barakah Nabi Nuh as.

Selanjutnya memasak bubur tersebut terus menjadi tradisi di berbagai daerah di dunia menurut daerah masing-masing, seperti di beberapa wilayah di Banjarmasin, Kepulauan Bangka Belitung, termasuk Urang Jerieng Bangka Barat.(****).

No Response

Leave a reply "Tradisi “Ngebubur” Urang Suku Jerieng"