Tradisi Ilmiah dan Dedikasi Ulama SAS di Pulau Bangka

  • Whatsapp
Subri Hasan
Kandidat Doktor Pendidikan Islam/Dosen Tetap IAIN SAS BABEL

Sejenak kita melepas diri dari ikatan dan asupan informasi-informasi tentang Covid-19 yang berseleweran di media massa baik cetak, elektronik maupun media audio visual. Kemudian telah banyak pula kita baca dan dengar tinjauan dan analisis tentang virus yang mendunia tersebut, baik dari ahli kesehatan dan medis maupun ahli psikologi serta ahli-ahli lainnya dari segala aspeknya, sehingga kadang kita merasa jenuh, apriori bahkan “memuakkan mungkin”. Karena hampir setiap hari penuh, siang dan malam kita disuguhkan dengan berita atau informasi-informasi tentang wabah ini. Maka, sedikit ruang yang ditawarkan untuk meminimalisir hal-hal yang “memuakkan” tersebut. Perlulah kiranya kita membaca dan menyantap informasi pengetahuan tentang kebiasaan atau tradisi ulama-ulama terdahulu yang sedikit kiranya membuat hati ini, menjadi tenang dan yakin akan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah atas kehendak Yang Maha Kuasa.

Salah seorang ulama kharismatik, tawadhu’ kemudian produktif dalam berdakwah, mendidik dan melahirkan karya-karya monumental selama berada di Pulau Bangka kita yang tercinta ini adalah Syaikh Abdurrahman Siddik (SAS). Nama ulama ini kemudian disematkan menjadi nama salah satu Perguruan Tinggi Islam di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yaitu Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung. Jika ditelusuri dari aspek historis genealogi, ulama ini, adalah seorang ulama keturunan suku Banjar, Kalimantan Selatan. Nama aslinya adalah Abdurrahman, penyebutan syaikh merupakan panggilan bagi seseorang yang memiliki kedalaman dan keluasan ilmu pengetahuan tetang Islam. Sedangkan siddik merupakan sebuah gelar yang diberikan oleh gurunya ketika belajar di Makkah Al-Mukarromah yakni Syaikh Sayyid Bakri Syatha (Sayyid Abu Bakr bin Sayyid Muhammad Syatha, w. 1310/1892 di Mekah), penulis kitab I’anah at-Tholibin, karena keluhuran budi pekerti, kejujuran dan penguasaannya terhadap ilmu pengetahuan. Jika dilihat dari garis nasab ayahnya, yaitu Abdurrahman bin H. Muhammad Afif bin Haji Anang Mahmud bin Haji Jamaluddin bin Kyai Dipa Sinta Ahmad bin Fardi bin Jamaluddin bin Ahmad Al-Banjari. Sedangkan dari nasab ibunya yaitu Safura binti Syaikh Haji Muhammad Arsyad bin Haji Muhammad As’ad cucu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, penulis kitab Sabilal Muhtadin.

Syaikh Abdurrahman Siddik lahir di Desa Dalam Pagar, Martapura, Kalimantan Selatan pada tahun 1857 – meninggal di Sapat, Indragiri Hilir, Riau tanggal 10 Maret 1939 dalam usia 82 tahun, dan dimakamkan di Desa Kampung Hidayat, Tembilahan Indragiri Hilir Kepulauan Riau. Masa kecil Ia habiskan di kampung halaman, bermain, belajar, mengaji dan beraktivitas seperti anak kecil lain pada umumnya, meskipun telah ditinggal oleh ibunya pada saat beliau masih berusia 2 bulan dan ada yang menulis 3 bulan. Walaupun masih usia kanak-kanak dan di tinggal oleh ibu kandungnya, Ia sudah dapat menghatamkan atau menamatkan Alqur’an pada usia 8 tahun dengan belajar dan mengaji pada bibinya (adik ibunya) bernama Sa’idah. Setelah belajar dengan bibinya, Syaikh Abdurrahman Siddik masuk ke pesantren selama 2 tahun.

Selanjutnya, Ia belajar dengan pamannya bernama Abdurrahman Muda, belajar bahasa Arab dan lainnya. Kemudian pamannya menganjurkan untuk menuntut ilmu lagi kepada ulama lainnya di Martapura yaitu belajar dengan seorang ulama terkenal di Martapura ketika itu, yaitu Sa’id Wali selama 4 tahun. Ketika di Padang, Ia sempat belajar dan menuntut ilmu kepada H. Zainuddin selama 5 tahun. Belajar dari satu guru kepada guru lainnya ketika berada di Kalimantan Selatan dengan niat untuk melanjutkan belajar ke Kota Suci Makkah al-Mukarromah. Selama di Makkah ia belajar selama kurang lebih 5 tahun dan di Madinah selama 2 tahun kemudian kembali lagi ke Makkah yaitu sekitar tahun 1889-1897 untuk melakukan tauliyah di masjid al-haram. Satu tahun kemudian dia kembali ke tanah air Indonesia pada tahun 1898.

Baca Lainnya

Debut keulamaannya berawal dari Pulau Bangka. Hampir kurang lebih 12 tahun (1898-1910) berada di pulau ini mengabdikan dirinya dengan berdakwah, mengajar serta mendidik dengan pendidikan Islam bagi masyarakat pulau Bangka ketika itu. Beberapa daerah menjadi pusat dakwahnya seperti Muntok, Belinyu, Kundi, Sungai Selan, Mendobarat, Kemuja, Petaling, Puding Besar, kotawaringin dan sesekali ke daerah lainnya yang ada di Pulau Bangka. Selama di pulau ini, Ia memiliki 4 orang istri yaitu Halimah binti Idris di Muntok, Fatimah di Belinyu, Hasanah binti Haji Muhammad Thayib di Puding Besar dan Zulaikha di Sungai Selan.

Paling tidak ada empat peran utama Syaikh Abdurrahman Siddik yang masih tersimpan dalam collective memory masyarakat Bangka, yaitu: Pertama, proses islamisasi dan perkembangan Islam di Bangka mulai terasa sejak akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 dimana Ia mendidik, mengajar dan berdakwah kepada masyarakat Pulau Bangka. Kedua, Ia seorang ulama yang aktif menulis paling tidak ada 20 buah kitab yang telah ditulisnya. Diantaranya 8 buah kitab, Ia mengatakan, tulis selama berada di Bangka, yaitu Fath al-‘Alim fi Tartib al-Ta’lim, ia tulis pada hari Jum’at tanggal 10 Sya’ban 1324 H, Risalah ‘Amal Ma’rifah ditulisnya ketika masih di Bangka. Namun, penyelesaiannya di Sapat Indragiri Hilir Riau pada tahun 1332 H, Tazkiratun li Nafsi wa li Amtsali beliau ditulis di Belinyu Kabupaten Bangka bercerita tentang ilmu akhlak. Naskah ini terdiri dari 39 halaman, Jadwal Sifat dua puluh buku ini ditulis di Belinyu kabupaten Bangka, Pelajaran kanak-Kanak pada Agama Islam ditulis di Kemuja kabupaten Bangka pada 1 safar 1324 H/ 1906, dan Syarah Sittin Masalah dan Jurumiyah beliau tulis di Sungai Selan kabupaten Bangka. Asrarus Sholah min’Iddah Kutub al-Mu’tamidah ditulis di Muntok.

 Ketiga, Ia memberi saran dan menyuruh kepada murid-muridnya agar melanjutkan untuk menuntut ilmu ke kota suci Makkah, maka banyak dari orang Bangka yang “naon” di Makkah guna menuntut ilmu. Mereka inilah kemudian yang meneruskan ajaran dan pengajian menggunakan kitab-kitab beliau setelah kembali ke Bangka. Keempat, karena keluasan dan kedalaman ilmu pengetahuan tentang keislaman, keluhuran budi pekerti, kejujuran dan sebagai ulama (pewaris para Nabi) yang senantiasa melekat di hati masyarakat Bangka, namanya diabadikan menjadi nama Perguruan Tinggi Islam negeri satu-satunya di Bangka Belitung, yaitu Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung. Semoga atas segala karomahnya dan rahmat dari Yang Maha Kuasa, kita senantiasa terlindungi dari wabah Covid-19 ini. aamiin.(***).

Related posts