Tolak KIP, Tapi Izinkan TI Tower

  • Whatsapp
Meski menolak aktivitas tiga unit kapal isap, nelayan Rebo ternyata mengizinkan 52 unit ponton TI Tower menambang pasir timah di laut Rebo. Terlihat pemandangan perahu nelayan dan puluhan ponton TI di pesisir Pantai Rebo. (foto: Zuesty Novianti)

Diakui 52 Ponton TI “Berkontribusi”

SUNGAILIAT – Disisi lain ada yang menarik dalam penolakan penambangan pasir timah menggunakan tiga unit Kapal Isap Produksi (KIP) di laut Rebo, Kabupaten Bangka.

Ternyata, masyarakat dan nelayan Rebo hanya anti terhadap penambangan kapal isap saja dan menolak keberadaannya di laut setempat. Tetapi mereka mengizinkan tambang pasir timah menggunakan ponton tower atau kerap disebut Tambang Inkonvensional (TI) Tower.

Terbukti, pemandangan puluhan unit ponton TI tower mewarnai pesisir Pantai Rebo. Asap dari mesin-mesin tambang di atas ponton drum plastik, membumbung tinggi dengan limbah tambang hasil pencucian tanah untuk mengambil pasir timahnya, dibuang ke laut.

Sun Tjun Tjiong alias Achiong (64), nelayan Desa Rebo yang ditemui wartawan Rabu (26/6/2019) kemarin mengakui bahwa mereka memang memberikan izin bagi para penambang TI Tower untuk beraktifitas.

Namun, izin tersebut tak seenaknya diberikan, atau dengan syarat tertentu. Salah satunya para penambang harus berkontribusi.

Menurut Achiong, hingga saat ini terdapat sebanyak 52 unit ponton TI Tower yang menambang timah di laut Rebo. Jumlah tersebut tidak lagi dapat ditambah, lantaran sudah menjadi kesepakatan antara koordinator nelayan dengan koordinator TI Tower.

Selain itu, antara Koordinator TI  dan nelayan sudah ada kesepakatan wilayah kerjanya sesuai penataan yang disepakati sejak awal.

“Ada 52 TI di sini. Tapi tidak bisa tambah lagi. Kalau ada yang nambah akan kami protes koordinator TI nya. Para penambang itu masyarakat Rebo juga. Mereka dak boleh nambah dan boleh juga keluar dari wilayahnya. Kalau ada pelanggaran akan ramai nelayan memprotes. Itu sudah berlangsung sejak lama,” akunya.

Selain itu, keberadaan penambangan TI Tower disebutkan Achiong, telah membantu kebutuhan masyarakat kurang mampu di Desa Rebo. Karena apabila ada warga miskin yang sakit, maka pihak koordinator penambangan akan memberikan bantuan biaya pengobatan. Termasuk ada juga memberikan bantuan lainnya langsung ke masyarakat.

“Kalau ada warga kami yang kurang mampu sakit, nanti pihak koordinator TI akan memberikan bantuan. Terus ada bantuan-bantuan lainnya untuk warga Rebo yang kurang mampu,” ujarnya.

Secara realnya, Achiong mengatakan keberadaan TI Tower ini memang menganggu kualitas air laut Rebo. Namun sejauh para penambang mengikuti aturan yang telah disepakati, maka hal tersebut menjadi masalah yang dapat ditolerir.

“Kalau ditanya ganggu atau gak? Keberadaan TI yah pasti ganggu. Tapi kalau mereka (penambang-red) mengikuti aturan, yah kami bisa berdampinganlah,” pungkasnya. (2nd/1)

Related posts