Tokoh Presedium Ajak Masyarakat Babel Bersyukur

  • Whatsapp
Tokoh-tokoh Presedium Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) foto bersama usai Temu Wicara Tokoh Presedium Babel yang ada di Jakarta, Kamis (16/11/2017).(foto: hmsprov).

Temu Wicara Tokoh Presidium di Jakarta

Jakarta – Tokoh presidium pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) yang ada di Jakarta menyampaikan pendapat dan masukannya untuk Provinsi Babel kedepan menjadi lebih baik dan sejahtera.

Para Tokoh Presidium Babel ini, mengajak seluruh masyarakat Babel untuk bersama-sama bersyukur atas apa yang sudah ada, dan bekerja keras untuk menjadi lebih baik.

Salah satu, tokoh pembicara dalam Temu Wicara yang digelar di Restoran Kampoeng Bangka, Kamis (16/11/2017), adalah Usmandi Andeska, mengajak tokoh masyarakat untuk mengevaluasi ruh dari pembentukan Provinsi Babel dan memberikan saran untuk kemajuan Babel kedepan.

Mantan wartawan ini menyebutkan, ada 10 alasan Babel ingin menjadi provinsi, bukan sebatas visi misi Gubernur, tetapi yang menjadi rujukan adalah cita-cita pembentukan provinsi, mempercepat terwujudnya rakyat Babel lebih sejahtera.

“Pada dasarnya saat itu (ketika ingin memisahkan diri), Babel itu sudah sejahtera, lada bagus Timah bagus, makmur dan mandiri, pada saat itu kita sudah baik, dan ingin menjadi lebih baik lagi,” ujarnya.

Ia menambahkan, untuk visi berikutnya dalam pembentukan provinsi Babel adalah menjadikan mandiri, mengatur menggali semua potensi di wilayahnya, kemudian percepatan administrasi pemerintahan, menjadikan Babel sebagai pilot project daerah Otonom, bebas korupsi kolusi dan nepotisme, patuh hukum, kemudian mampu menelurkan birokrat handal, provinsi yang mampu memanfaatkan SDA, serta menghargai dan mengoptimalkan pemanfaatan daerah.

“Kita berharap 17 tahun ini sukses untuk semua, untuk siapa pembangunan selama ini, semestinya untuk semua,” imbuhnya.

Melalui temu wicara ini, Andeska mengungkapkan pemikirannya agar sama-sama merumuskan peta potensi wilayah dan menetapkan sebagai arah pembangunan.

“Kita punya potensi, makanya petakan wilayah yang mau dikembangkan, bagaimana satu wilayah tidak berkompetisi tetapi saling mengisi,” tegasnya.

Tokoh Belitung ini juga menyoroti, agar Babel memiliki saham di PT. Timah melalui BUMD, sebagai penggerak bukan sekedar ada.

“Harus berjuang, jangan cengeng, kalau gak bisa, Andeska yang ngurus,” imbuhnya.

Ia juga meminta, dalam penempatan pejabat, agar pemerintahan saat ini menempatkan pejabat yang sesuai kompetensinya.

“Mohon maaf, dalam penempatan pejabat pada organisasi yang sifatnya pelayanan, ditempatkan sosok birokrat yang memahami persoalan, dedikasi tinggi, bukan semata oo ini kawan tim sukses, itu kuno, persetan dengan kawan, lu punya kemampuan atau tidak, kalau enggak mampu belajar dulu,” sarannya.

Ia juga menyinggung kebijakan Gubernur Babel, Erzaldi Rosman yang membentuk staf khusus serta mengangkat beberapa pejabat dari luar Babel.

“Saya dengar Gubernur saat ini, memiliki staf khusus, dan ada pejabat yang diangkat itu mantan pejabat tinggi di pusat, angkatlah pejabat daerah yang mengerti permasalahan wilayah, putra daerah yang ada di daerah atau yang merantau, orang yang tau kondisi daerahnya, libatkan semua keterlibatan, tak perlu bawa orang luar, mantan pejabat, atau apalah, itu hanya ngabisin duit,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Andeska juga menilai, sudah saatnya Babel berbenah dan memfokuskan perhatian pada sektor pariwisata, yang ditetapkan sebagai dasar untuk membangun Babel.

“Sepakati dulu pariwisata sebagai basis, semua akan orientasi sebagai pariwisata, perluas pemahaman potensi wisata, gak sebatas hanya pantai dan laut, itulah yang dipajang dimana-mana, wisata itu tak sebatas itu, luas pemahamannya,” tukasnya yang juga menyarankan, perlu dibentuk badan percepatan pengembangan investasi di Babel.

Tokoh presidium lainnya, Imron Pangkapi juga menyebutkan, awal Babel ingin memisahkan diri adalah ingin lebih baik meskipun pada saat itu Babel sudah makmur.

“Pada tahun 1998, itu tercatat Bangka adalah kabupaten teemakmur di Sumsel, ukuran ini dapat dilihat secara kasat mata waktu itu PAD di Bangka tertinggi di Sumsel, jamaah haji tertinggi 400-500 orang dalam lima tahun, ingin memisahkan diri karena ketidakadilan kucuran anggaran pemerintah waktu itu,” bebernya.

Ia juga melihat, dari beberapa grup WhatsApp, berisi kegelisahan masyarakat Babel, yang hampir seluruh persoalan selalu dianggap tak puas bukan hanya pada pembangunan.

“Saya melihat daftar penting yang harus diperbaiki kedepan, adalah faktor keadilan, ini tak bisa pakai angka, tetapi harus secara psikologi, buat skala prioritas dan fokus, buatkan daftar keinginan dalam skala propinsi, kabupaten kota, kemudian fokus dikerjakan,” pintanya.

Ia berpandangan, Babel dari segi sukses angka-angka tidak buruk-buruk amat, prestasi tak ketinggalan, prestasi olahraga juga tidak ketinggalan.

“Dari segi itu kita sudah harus bersyukur, kata kunci adalah apa yang sudah ada harus disyukuri,” ajaknya.

Mantan Bupati Belitung, Darmansyah Husein mengatakan, untuk membangun Babel harus saling berintegrasi.

“Kata kuncinya adalah integrasi, dari awal para tokoh presidium membentuk Babel juga karena integrasi, maka saat ini membangun Babel juga harus terintegrasi, mari sinergikan apa yang pada waktu kita perjuangkan dua kawasan ini menjadi provinsi,” jelasnya.

Dalam kesempatan ini, ia juga menyoroti beberapa hal yang menjadi permasalahan di masyarakat, salah satunya adalah penetapan WPR.

“Babel itu wilayah pertambangan, bagaimana mengatur agar bisa berjalan, integrasi pertambangan dan pariwisata, jangan kita benturkan seperti selama ini, bagaimana kalau dipadukan. WPR katanya bagus, tapi belum tentu, kalau dibiarkan siapa yang bertanggung jawab,” ulasnya.

Demikian juga dalam sistem pengembangan perkonomian perikanan kelautan, Babel dimasukkan dua wilayah mina politan baik di Bangka maupun di Belitung, pembangunan sektor yang integrasikan dengan ruangnya.
Dalam pertemuan ini, selain dihadiri tokoh presidium yang menetap di Jakarta, juga ada tokoh presidium dari Bangka, sejumlah pejabat Pemprov Babel, dan masyarakat lainnya.

 

Dengarkan Saran Sesepuh

Sementara itu, Sekda Pemprov Babel, Yan Megawandi, mengungkapkan, Pemprov Babel ingin mendapatkan saran dan masukan dari berbagai elemen masyarakat untuk membangun Babel menjadi lebih baik, termasuk dari warga Babel yang ada di Jakarta dan sekitarnya.

“Kami ingin mendapatkan saran masukan untuk perbaiki kinerja dan juga ingin melakukan evaluasi terhadap apa yang sudah dilakukan,” katanya, ketika membuka acara temu wicara tokoh presidium Babel di Jakarta, Kamis (16/11/2017).

Dalam kesempatan ini, Yan juga menyampaikan, angka indeks gini ratio Babel saat ini 0,28, dan rangking kedua indeks demokrasi Indonesia.
Ia menyebutkan, pertemuan ini sebagai ajang silaturahmi masyarakat Babel yang ada di Jakarta, karena selama merantau bisa saja jarang bertemu.

“menjalin silaturahmi karena jarang bertemu, lebih sering diwakili media sosial, dan hari ini kita bertatap muka langsung,” tukasnya.

Fikri, salah satu warga Pangkalpinang mengaku sangat bersyukur masih bisa berkumpul dengan warga Babel meskipun berada di tanah rantau.

“10 tahun saya meninggalkan Babel, senang sekali hari ini diundang dan bisa berkumpul dengan masyarakat Babel di perantauan, saling bersilaturahmi dan memberikan kontribusi untuk membangun Babel lebih baik lagi,” ujarnya yang kini menetap di Bogor.

Sekretaris Umum Ikatan Masyarakat Babel, Rudisia mengatakan, temuwicara ini dihadiri tokoh-tokoh pendiri Babel, diantaranya hadir Datuk Imron Pangkapi, Husni Effendi, Agus Tarmizi, Munir, Andeska, Darmansyah Husein, Suryadi Saman, istri mantan Gubernur Babel Noorhati Astuti, dan masyarakat lainnya.

“Acara ini diharapkan memberikan kontribusi agar Babel menjadi lebih baik lagi, sesuai keinginan para tokoh presidium ketika membentuk provinsi ini, untuk memberikan posisi yang lebih baik setelah pisah dari Sumsel,” katanya.

Acara ini, digelar di restoran Kampoeng Bangka, milik H. Fitno, yang juga merupakan warga Babel di tanah Jakarta, dalam acara ini tamu undangan dihibur dengan tarian dan lagu Babel, serta makanan khas Babel. (nov/3)

Related posts