by

Tindakan Bullying Bukan Solusi

-Opini-107 views

Oleh: Abrillioga
Siswa SMAN 1 Toboali Bangka Selatan

Dunia pendidikan Indonesia baru-baru ini, kembali digegerkan oleh kasus pembullyan yang terjadi pada anak SMP oleh anak SMA. Bagaimana tidak? Kejadian ini bukan merupakan kejadian yang baru pertama kali terjadi, bahkan dewasa ini kasus pembullyan seakan telah menjadi budaya yang mengakar kuat pada setiap anak-anak muda khususnya. Terlebih lagi diikuti dengan tindakan kekerasan, hujatan, makian, hentakan serta bully yang dilakukan pada mereka yang lemah.

Usut punya usut, kasus yang terjadi pada Siswi SMP ini, yang dilakukan oleh oknum anak SMA tersebut di salah satu wilayah yang terjadi di Indonesia cukup mendapatkan perhatian publik dan khalayak ramai beberapa hari ini. Hal ini diperparah lagi dengan kondisi korban yang terbaring lemah di rumah sakit dan mengalami gangguan halusinasi psikologis yang begitu berat.

Tindakan pembullyan merupakan masalah yang cukup krusial dan sangat subtansial sekali. Ini rentan sekali terjadi di kalangan anak-anak usia muda sebagai bentuk adanya rasa nonempatik yang terbentuk dalam setiap personal diri mereka. Pembullyan dapat berupa dalam bentuk kekerasan secara verbal maupun nonverbal, baik dalam kasus apapun. Kasus pembullyan tetap akan membekam para korban untuk menjadi pribadi yang rendah diri, takut, trauma dan enggan untuk bergaul karena adanya faktor tertekan dan diskriminasi yang terjadi di lingkungan pergaulan.

Menurut data yang di keluarkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dalam memperingati Hari Anak Indonesia Tahun 2018 kemarin, tercatat kasus pembullyan merupakan kasus yang banyak sekali terjadi dan diungkapkan oleh sembilan bidang penelitian sepanjang tahun 2018 itu, salah satunya bidang pendidikan.

Kasus pembullyan kerap kali terjadi pada lingkungan anak-anak sekolahan. Pembullyan akan mengakibatkan adanya gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak-anak, baik dalam kemampuan untuk beradaptasi, berpikir, pengembangan potensi serta jasmani dan rohani anak-anak itu sendiri. Penulis sendiri merasakan dampak langsung dari kasus pembullyan itu sendiri, hal ini akan membuat diri setiap korban merasa kurang dihargai akan keberadaan identitasnya pada lingkungan pergaulan, bahkan jika korban tak punya spritual yang cukup, maka akan berujung pada tindakan bunuh diri, sebab merasa begitu frustasi.

KPAI telah berusaha melakukan program sosialisasi bekerja sama dengan intansi sekolah-sekolah terkait dampak buruknya terhadap pembullyan. Sebab, jika tidak segera di atasi permasalahan ini, maka dikhawatirkan nantinya menjadi bagian dari trend bagi kalangan anak-anak muda.

Tindakan bullying bukan solusi atas adanya perbedaan, karena sebagai makhluk sosial, kita harus menanamkan sikap rasa kepedulian, empati, tenggang rasa serta saling menghargai dan menghormati antarsesama sebagaimana budaya leluhur nenek moyang kita. Penulis berharap kepada generasi muda untuk menjadi generasi yang sehat dan mampu memandang perbedaan sebagai peluang untuk menciptakan kredibilitas pada kapasitas diri masing-masing. Oleh sebab itu, mari kita Stop Bullying. Kalau bukan kita untuk melindungi yang lemah, siapa lagi?(***).

Comment

BERITA TERBARU