TIMAH, Solusi Memerdekakan Bahasa Daerah

  • Whatsapp

Oleh : ARES FAUJIAN
Pengurus Asosiasi Guru Penulis Indonesia/AGUPENA Babel

Merdeka! Satu kata berjuta makna yang menggambarkan kondisi Ibu Pertiwi saat ini. Dengan genap 74 tahun Indonesia merdeka di tahun 2019. Merdeka pula Bangsa Indonesia dari segala bentuk penjajahan zaman kolonial atau ‘jaman old’-nya.

Perjalanan kemerdekaan Indonesia telah lebih dari usia emas. Namun, apakah esensi ‘merdeka’ ini sudah kita dapatkan secara hakiki? Mengingat, walau kita sudah dan terlihat merdeka, namun secara terselubung sebenarnya kita masih dalam jajahan bangsa asing dan bangsa kita sendiri. Hal ini dibuktikan dengan fenomena globalisasi sebagai gerbang masuknya budaya asing dan ego manusia yang ‘lebay’ kekinian sebagai realitas yang tak terbantahkan. Termasuk memenjarakan beberapa bahasa daerah di negerinya sendiri hingga ada yang membuatnya punah dari muka bumi ini. Miris!

Keragaman bahasa daerah dengan kondisi Indonesia yang multikulturalisme ini patut dijaga kelestariannya. Keberadaan 719 bahasa daerah dengan 12 bahasa punah dan 707 bahasa masih hidup di Indonesia (www.ethnologue.com, 2019) merupakan catatan penting betapa lemahnya kita dalam menjaga eksistensi bahasa daerah. Bukan hanya karena alasan sejarah dan budaya semata. Namun, bahasa daerah ini menjadi penting dilestarikan karena memiliki esensi nilai karakteristik unik dari suatu kearifan lokal daerah, nilai etika dalam berbahasa daerah, nilai estetika dalam kesusastraan daerah, nilai edukasi lokal dalam kearifan lokal, hingga bernilai finansial ketika berbicara daya tarik wisata level nasional hingga internasional.
Melestarikan bahasa daerah takkan cukup hanya bermodal niat tanpa aksi dan komitmen yang kuat. Strategi pencapaian dengan TIMAH bisa diterapkan sebagai langkah-langkah konkret dan kekinian sebagai upaya mewujudkan kekuatan lokalitas sebagai karakteristik identitas yang memiliki ciri yang khas. Di mana, TIMAH bisa dijadikan solusi dalam memerdekakan bahasa daerah menjadi karakter unik kearifan lokal dan sebagai proses memperkuat eksistensi suatu kedaerahan dan bahasa daerah itu sendiri.

TIMAH? Lho, kok bisa? Apakah itu akan memperparah ekosistem Babel yang memang sudah siap tenggelam ketika hujan berhari-hari tiba? Atau, TIMAH hanya memperkaya ‘tuan kuase’ kapitalisme dan para budak penikmat uang sesaat?

Baiklah, TIMAH yang dimaksud ini adalah komponen-komponen dalam formulasi yang dirancang sebagai salah satu upaya memperkaya daerah dengan kekuatan/potensi yang dimiliki daerah tersebut. Formulasi TIMAH ini adalah strategi yang diharapkan dapat memberi ruang bebas kepada bahasa daerah agar bisa berkembang dan menjadi produk lokal warisan sejarah-budaya dari suatu suku bangsa, serta sebagai karakteristik unik kebanggaan suatu daerah dan khazanah masyarakat Indonesia yang multikultural.

Solusi tentang TIMAH dalam ihwal yang dimaksud antara lain; 1) Teknologi. Teknologi merupakan jalur yang wajib ditempuh agar bahasa daerah bisa terus eksis dan dilestarikan, terutama di abad 21. Komponen formuliasi yang bernama ‘Teknologi’ menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan jika kita berbicara tentang era ‘jaman now’ dengan arus globalisasi yang kian ‘wow’. Tentunya jika ingin menyentuh anak-anak dan remaja sebagai target regenerasi mewariskan bahasa daerah. Peran teknologi menjadi sangat penting sebagai upaya edukasi dan menyosialisasikan keberadaan bahasa daerah dengan media (teknologi) yang tepat sesuai zamannya.

Pemanfaatan ‘Teknologi’ bisa diterapkan dengan membuat sarana era milenial agar bisa mudah dinikmati oleh masyarakat saat ini. Adanya website atau aplikasi kamus resmi bahasa daerah merupakan produk yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya sebagai langkah awal dan wujud pedoman dalam berbahasa daerah yang dibutuhkan kaum milenial termasuk jika ada turis yang berkunjung. Selain itu, saluran TV lokal, kompetsisi multimedia kearifan lokal (video, blog, dll), dan aplikasi game berbasis budaya dan bahasa lokal juga sangat dibutuhkan sebagai media informasi, media pembelajaran, media kreativitas, dan media edutainment bagi anak serta masyarakat.

Formulasi TIMAH yang selanjutnya adalah 2) Integrasi. Integrasi (KBBI) adalah pembauran hingga menjadi kesatuan yang utuh dan bulat. Pembauran yang dimaksud adalah terjadinya kesesuaian dan bersatunya elemen-elemen penting yang dibutuhkan agar tercipta kesepahaman hati dan pikiran dalam pelestarian bahasa daerah. Elemen-elemen yang dimaksud adalah pemerintah, sekolah, masyarakat dan keluarga.

Bagaimana mengintegrasikan seluruh elemen tersebut agar satu hati membangun bahasa negerinya sendiri? Integrasi yang bisa dicapai dan menjadi pedoman mengikat masyarakat secara umum dan menyeluruh adalah dengan membuat peraturan perundang-undangan (UU, PP, Permen, Perda, dll) berkenaan gerakan perlindungan/pelestarian bahasa daerah. Dengan peraturan perundang-undangan, seluruh elemen yang diharapkan akan terintegrasi dan terarah secara konstitusi menuju kondisi yang diharapkan, tergantung tingkatan peraturan tersebut (kabupaten/kota/provinsi/nasional).

Selanjutnya adalah 3) Manajemen. Manajemen merupakan suatu proses yang bertahap mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian hingga pengontrolan sumber daya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Dengan ‘Manajemen’ yang baik, dalam hal ini pemerintah dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) termasuk sekolah. Maka akan terealisasi program kerja dan evaluasi pencapaian kerja yang disesuaikan dengan visi-misi kedaerahan dan peraturan perundang-undangan yang telah digalakkan.

Selain formulasi Teknologi, Integrasi dan Manajemen. Unsur 4) Asosiasi juga memiliki peran sentral yang patut diperhatikan sebagai suksesi spesifik berkenaan gerakan perlindungan/pelestarian bahasa daerah. Di mana wujud ‘Asosiasi’ ini adalah dengan membentuk SKPD seperti Lembaga/Badan Bahasa Daerah atau dalam wujud yang lebih kecil yaitu bidang bahasa daerah pada Balai/Kantor Bahasa (kabupaten/provinsi/wilayah), termasuk komunitas perlindungan/pelestari bahasa daerah.

Dengan spesifikasi bidang pada OPD dan asosiasi kelompok komunitas. Maka program gerakan perlindungan/pelestarian bahasa daerah akan lebih terarah, jelas, rinci dan dilaksanakan oleh tenaga yang benar-benar ahli dan minat pada bidangnya. Pelaksanaan festival bahasa daerah hingga riset berkelanjutan tentang bahasa daerah menjadi contoh program kerja yang seharusnya bisa meregenerasi warisan kedaerahan termasuk kemungkinan penemuan-penemuan baru yang penting bagi sejarah, budaya dan bahasa lokal daerah setempat.

Formulasi TIMAH terakhir adalah 5) Habituasi. Habituasi (KBBI) adalah pembiasaan pada, dengan, atau untuk sesuatu; penyesuaian supaya menjadi terbiasa (terlatih) pada habitat dan sebagainya. Habituasi pelestarian bahasa daerah bisa dilakukan dengan program-program pemerintah seperti program pembiasaan melalui gerakan literasi kedaerahan, misalnya Gerakan Literasi Melayu Bangka Belitung. Penjabaran gerakan literasi ini yaitu dengan membuat mata pelajaran bahasa daerah, muatan lokal kedaerahan, kamus bahasa daerah, road show tentang pentingnya bahasa daerah, even/lomba literasi kedaerahan seperti puisi, pantun, cerita rakyat, drama, poster, hingga lomba cepat-tepat tentang kedaerahan.

Selain itu, satu hari wajib berbahasa daerah dengan program Hari Berbahasa Daerah (HBD) pada lingkungan sekolah (KBM di kelas) dan pemerintah daerah (rapat dan dialog sehari-hari). Menjadi program yang bisa mendukung terwujudnya habituasi dan bahkan enkulturasi (pembudayaan) suatu bahasa daerah. Program habituasi ini pun juga bisa didukung dengan ragam poster/tulisan berbahasa daerah di lokasi strategis agar mudah dibaca dan diingat seperti di sekolah, jalanan, komplek perkantoran, tempat hiburan masyarakat, dsb.

Selain dengan program-program yang tepat, peran penghargaan dalam wujud pemberian predikat dan trofi/sertifikat menjadi penting sebagai budaya apresiasi dan penyemangat masyarakat dalam habituasi bahasa daerah/kedaerahan. Misalnya wujud penghargaan tersebut seperti pemilihan duta bahasa daerah (usia SMA-dewasa), duta cilik bahasa daerah (usia SD-SMP), kampung literasi kedaerahan, sekolah model berbasis kedaerahan/kearifan lokal, instruktur/fasilitator literasi kedaerahan, keluarga inspirasi kedaerahan, hingga penghargaan kepada pegiat dan pemenang lomba berbasiskan kedaerahan.

Itulah formulasi TIMAH sebagai strategi/solusi memerdekakan bahasa daerah dan memperkaya pesona kedaerahan yang selayaknya dimiliki oleh daerah itu sendiri. Dengan kompilasi Teknologi, Integrasi, Manajemen, Asosiasi dan Habituasi yang baik. Maka akan terwujud masyarakat berkarakter asli wilayah yang mampu melestarikan kearifan lokal daerahnya di tengah arus globalisasi yang terus-menerus mendera. Selain masyarakat tersebut mampu menghargai sejarah dan budaya lokalnya. Proses identifikasi dan pelestarian bahasa daerah ini memungkinkan terjalinnya hubungan persaudaran dan kerjasama antaretnis apabila terdapat benang merah sejarah yang mendeskripsikan asal-usul nenek moyang yang sama.

Semoga kita bisa memaknai secara positif intuisi kekuatan lokalitas sebagai karakteristik identitas kedaerahan ini. Toleransi, empati dan rasa nasionalisme antaretnis tetap dibutuhkan sebagai fondasi dalam menjaga keutuhan NKRI yang multikultural ini. Live locally grow globally! Utamakan Bahasa Indonesia, lestarikan Bahasa Daerah, dan kuasai Bahasa Asing. Kita, Indonesia!.(***).

Related posts