by

Tim PWI-SMSI Babel ke Pesisir Barat Donggala Bantu Pengungsi

-NEWS-292 views
Tim PWI dan SMSI Babel Peduli yang menyalurkan langsung bantuan untuk korban gempa tsunami di Donggala, Sulteng, Rabu sore (10/10/2018). (Foto: Istimewa)

DONGGALA – Hari kedua berada di Palu dan Donggala Provinsi Sulawesi Tengah, tim PWI dan SMSI Provinsi Bangka Belitung (Babel) Peduli yang terjun langsung menyalurkan bantuan wartawan dan masyarakat Babel untuk korban gempa, tsunami mulai bergerak.

Setelah tiba di Bandara Mutiara SIS Al Jufrie Palu, bertemu pengungsi, serta memetakan wilayah korban gempa yang belum tersentuh bantuan, Tim PWI dan SMSI Babel Peduli diperkuat juga tim Pramuka, Rabu sore (10/10/2018) bergerak ke pesisir barat Donggala sekitar 30 km dari Palu. Rencananya, tim akan bermalam di Desa Pontoloan. 

Nico Alpiandy, Ketua SMSI Babel didampingi Sekretaris Romlan mengatakan, perwakilan tim PWI dan SMSI Babel yang turun ke Donggala sebanyak tujuh orang. Selain mereka, ada Ketua Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI Babel Rudy Syahwani yang membawa anggota PWI Nopriansyah, Mirwanda dan Reza Fahrozi, serta Wakil Ketua SMSI Donny Fahrum. 

Menurutnya, bantuan yang mereka bawa sore tadi dan disalurkan saat ini kepada tenda-tenda pengungsi di lapangan bola Pantoloan hingga ke pesisir barat Donggala, merupakan bantuan tahap pertama dari wartawan dan masyarakat Bangka Belitung yang dhimpun PWI-SMSI.

“Saat ini kita sedang berada di tenda-tenda pengungsi. Kondisinya memprihatinkan, hanya beralaskan tikar dan tenda seadanya. Bantuan mulai kita salurkan,” ujar Nico yang dihubungi rakyatpos.com pukul 19.30 Wib. 

Ketua SMSI Babel Nico Alpiandy menyerahkan paket bantuan kepada pengungsi korban gempa tsunami di tenda pengungsian Donggala tadi malam. (Foto: Istimewa)

Ia menyebutkan, penyaluran bantuan itu akan terus berlanjut hingga besok. Setidaknya sepekan kedepan tim PWI dan SMSI Peduli Babel masih akan berada di Palu dan Donggala. 

“Sembari menunggu bantuan lain yang tengah menuju Palu dari Jakarta yang sudah kita kirim, kami menyalurkan paket-paket bantuan tahap awal berupa beras, susu dan makanan bayi, pempers, pembalut dan makan instan lainnya yang sudah kami beli kepada para pengungsi,” imbuhnya.

Sementara Sekretaris SMSI Sulawesi Tengah, Heru, yang memfasilitasi tim PWI-SMSI Babel untuk penyaluran bantuan, mengarahkan tim ke daerah sepanjang pesisir pantai barat Donggala. “Sebelumnya kita sudah assesment dulu. Lihat apa kebutuhan mendesak warga di sana,” kata Heru.

Daerah pesisir barat Donggala yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Palu, menurutnya adalah kawasan yang terdampak parah gelombang tsunami. Sepanjang melewati jalan di sana, area nampak kosong. Rata dengan tanah. 

Beberapa mobil terlihat hancur. Kapal juga tampak hancur, terseret lebih dari seratus meter dari bibir pantai. 

“Tadinya ini kawasan padat penduduk. Semua rumah jadi rata. Penduduk yang selamat, pergi mengungsi,” jelas Heru.

Perkiraan Heru untuk membawa tim PWI-SMSI Babel ke pesisir barat Donggala, sudah tepat. Sasaran pertama yang dituju adalah pengungsi di Desa Pantoloan yang berkumpul mendirikan belasan tenda di lapangan sepakbola.

“Kami butuh beras, Pak. Juga susu untuk anak-anak,” kata Eka, salah seorang pengungsi ketika berbincang dengan tim. 

Di desa ini, tim Pramuka Babel yang ikut dalam rombongan PWI – SMSI Babel, sempat pula memberikan obat-obatan ringan kepada beberapa pengungsi.

Dari sini, tim lalu bergerak menuju Desa Lero Tatari yang berjarak sekitar 10 km dari Desa Pantoloan. Tim berhenti di lapangan SMP Negeri 2 Sindue, yang menjadi tempat puluhan kepala keluarga mengungsi.

Kepala Desa Lero Tatari, Arlin, menyambut hangat kehadiran tim PWI-SMSI Babel. Ternyata, di desa itu tak cuma puluhan KK saja yang menjadi pengungsi. Kepala desa mengajak tim untuk berjalan menyusuri jalan di area perkebunan belakang sekolah. Sekitar 500 meter, di perkebunan itu berdiri puluhan tenda. Ada ratusan orang yang mendiaminya. 

Terlihat bahan peneduh sangat seadanya. Misalnya, seprei ada yang dijadikan fungsinya sebagai terpal penutup. Begitu memprihatinkan.

“Kita bisa lihat sendiri, di sini para pengungsi perlu terpal untuk tenda,” kata kepala desa.

Melihat kondisi itu, tim PWI – SMSI Babel Peduli langsung menyerahkan paket bantuan. Tim juga memberikan puluhan terpal. 

Tim tiba di Bandara Mutiara SIS Al Jufrie, Palu pada Senin dan Selasa. Tim langsung disambut pengurus SMSI dan PWI Sulteng hingga diajak untuk bertemu warga yang terdampak bencana gempa bumi dan tsunami.

Daerah yang dituju adalah daerah pinggiran, jauh dari kota. Pertimbangannya sederhana, kemungkinan bantuan menjangkau mereka, lebih kecil dari korban di kota. Hingga tadi malam tim relawan PWI dan SMSI masih mendistribusikan bantuan dari masyarakat Babel. (rls/red/1)

Comment

BERITA TERBARU