by

Tiket Pesawat Mahal, Rumahkan Pekerja UMKM

-NEWS-636 views

Toko Makanan Khas Babel Sepi Pembeli
Pengusaha Hotel Juga Mulai Merugi

Pangkalpinang – Aksi pemecatan atau merumahkan karyawan secara massal, bakal terjadi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam waktu dekat. Hal ini sebagai akibat dari mahalnya harga tiket pesawat dan pemberlakukan bagasi berbayar oleh maskapai penerbangan nasional untuk rute Pangkalpinang-Jakarta atau sebaliknya, maupun Jakarta-Tanjungpandan dan sebaliknya.
Saat ini saja, beberapa pelaku usaha terutama yang terlibat dalam bisnis pariwisata di Babel sudah mulai merumahkan pekerjanya. Pengusaha yang menyediakan berbagai macam makanan khas Bangka Belitung pun, sudah merugi dan mengurangi pekerjanya. Demikian juga pengusaha perhotelan di Pulau Belitung, sudah ada yang terpaksa harus merumahkan karyawannya
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Babel, Elfiyena mengaku telah menerima beberapa laporan dari pelaku usaha yang telah merumahkan karyawannya ini. Hal itu terjadi karena drastisnya penurunan omzet dari toko-toko yang menjual snack dan makanan khas Babel yang sebelumnya begitu diminati wisatwan.
Namun saat ini, sepinya kunjungan wisatawan ke Babel, ditambah lagi keengganan penumpang membawa terlalu banyak barang di pesawat lantaran takut dikenakan charge bagasi yang mahal, membuat toko-toko makanan dan oleh-oleh khas daerah sepi pembeli, sehingga merugi.
“Yang paling merasakan dampaknya adalah industri rumahan dan juga toko oleh-oleh. Sudah ada lima pelaku usaha yang menyampaikan ke saya mereka terpaksa merumahkan pegawainya, kebanyakan makanan,” kata Elfie saat ditemui Rakyat Pos, Senin (11/2/2019).
Yang membuat pelaku usaha makanan khas merugi, selain karena sepinya pembeli juga lantaran produk makanan memiliki batas waktu penyimpanan, seperti kue-kue basah dan lainnya, sehingga apabila terlalu lama dipajang di toko, juga akan mempengaruhi kualitas produk.
Atas kondisi ini, Elfi menegaskan, pihaknya sudah menjajaki kerjasama dengan perusahaan ekspedisi, agar memberikan diskon bagi pengiriman produk-produk UMKM. Kerjasama itu dimaksud jika wisatawan hendak mengirimkan bahan makanan yang dibeli dari UMKM, namun khawatir dengan bagasi berbayar.
“Kami juga melakukan berbagai upaya agar pelaku UMKM di Babel tetap bertahan, seperti menjalin kerjasama dengan ekspedisi untuk memberikan diskon bagi UMKM yang ingin mengirimkan barang,” sebutnya.
Jika telah ada kesepakatan diskon pengiriman produk UMKM, nantinya akan dituangkan dalam Memorandum of Understanding (MoU).
“Kemarin JNE sudah respon ini kita akan MoU kan berapa besaran diskonnya,” imbuhnya.
Selain kerjasama dengan ekspedisi, pelaku usaha juga disarankan untuk mengirim produk melalui jasa angkutan kapal laut. Walaupun diakuinya untuk produk makanan akan cepat basi, karena lamanya waktu pengiriman.
Selain itu, pemerintah mendorong pelaku UMKM lebih berinovasi dalam pengembangan produk. Misalnya minuman sari jeruk kunci, yang tadinya dikirim siap minum dalam kemasan botol dengan ukuran 100 ml atau lainnya, diinovasikan agar dikemas dalam bentuk bubuk sehingga lebih ringan ketika dibawa.
“Gimana caranya oleh-oleh nantinya hanya bentuk bubuk tanpa mengurangi rasa tapi bisa mudah dibawa, jadi orang enggak mikir bawanya apalagi bagasi berbayar sekarang. Seperti lada butir, bisa jadi lada bubuk, sirup jeruk kunci menjadi bubuk sirup,” tukasnya.
Dengan beberapa upaya yang dilakukan ini, Elfi berharap bisa menyelamatkan usaha UMKM di Babel. Dan dia berharap ada kebijakan baru dari pemerintah pusat terhadap mahalnya tarif tiket pesawat dan bagasi berbayar ini.
Sementara itu di Pulau Belitung, beberapa pelaku usaha perhotelan juga sudah mulai merumahkan sebagian karyawannya karena terdampak mahalnya harga tiket pesawat rute Jakarta-Tanjungpandan dan sebaliknya. Keputusan pahit ini diambil pengusaha, mempertimbangkan operasional hotel yang sudah merugi sejak dua bulan terkahir, akibat sepinya keterisian hotel.
“Sudah dua bulan ini hotel sepi. Kamar hotel tidak pernah lagi terisi penuh. Kerjasama dengan travel-travel juga sudah terhenti, karena tiket pesawat mahal seperti ini. Manajemen kita sudah rugi, jalan satu-satunya untuk bertahan ya terpaksa merumahakan karyawan untuk sementara sambil menunggu kondisi membaik,” ungkap salah satu pengusaha hotel yang tidak bersedia namanya ditulis saat dihubungi Rakyat Pos.
Menurutnya, sudah beberapa hotel di Belitung yang merumahkan karyawannya karena sepinya hotel. Bahkan, ada dua hotel yang baru berdiri dan beroperasi telah lebih dulu mengambil jalan itu. Karyawan yang baru bekerja di bagian tenaga pengamanan atau security dan room service terpaksa harus diberhentikan.
“Mau bagaimana lagi kalau hotel rugi, dapat dari mana membayar gaji karyawan kalau terus-terusan begini. Imlek biasanya hotel penuh, sekarang juga sepi, padahal kita tidak menaikan tarif kamar. Namun oleh karena untuk terbang ke Belitung lebih mahal daripada ke Jogjakarta, orang lebih memilih berlibur Imlek ke sana. Ke Jogja cuma Rp350 ribu, ke Belitung Rp700 ribu, wisatawan pasti berlaih ke sana,” keluhnya.
Pengusaha ini berharap, pemerintah daerah baik itu Pemerintah Provinsi Babel maupun Pemkab Belitung untuk dapat mencari solusi terhadap masalah ini. Jangan hanya menunggu keputusan pemerintah pusat.
“Gubernur, bupati kami minta pikirkanlah. Kami menyediakan pekerjaan kepada masyarakat, membantu memajukan daerah dan pariwisata, tetapi ketika kami tidak didukung ya paling kita tutup usaha dan pindah ke daerah lain saja. Masalah tiket pesawat ini bukan nasional, tapi karena kebijakan. Buktinya ke Jojgajakarta ke Bali bisa murah. Kenapa ke Belitung ke Bangka dari Jakarta harus mahal? Afturnya sama, bahan bakarnya sama, malah jarak tempuhnya lebih dekat ke Babel tapi tiketnya mahal. Saya melihat ini ada monopoli grup penerbangan besar, karena mendominasi rute penerbangan ke Babel. Kalau ke Jojga, Bali grup maskapai besar bersaing dengan maskapai lain sehingga harga tiket murah,” tandasnya tanpa menyebutkan grup maskapai besar yang dimaksudnya. (nov/red/1)

Comment

BERITA TERBARU