Tiket Pesawat di Babel Mahal

  • Whatsapp
Rakor pengendalian inflasi oleh TPID Babel yang mendiskusikan langkah-langkah menekan inflasi pada Desember karena dipicu tingginya harga tiket pesawat udara, kemarin. (Foto: Nurul Kurniasih)

Dampak Lion Jatuh, Pengaruhi Inflasi
Maskapai Penerbangan Beralasan Dollar Naik

Pangkalpinang – Jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 akhir Oktober lalu yang membuat banyak masyarakat Bangka Belitung menjadi korban, ternyata sedikit banyak berdampak pada penerbangan di daerah. Tiket-tiket pesawat, baik itu Sriwijaya Air, Citilink, Nam, Lion Air maupun Garuda melejit hebat.
Bahkan harga tiket pesawat Garuda dengan rute Pangkalpinang-Jakarta atau sebaliknya tetap bertengger di harga Rp1,1 juta meski pun pemesanan dilakukan pada dua pekan kedepan. Demikian juga tiket Sriwijaya Air, Nam dan Citilink telah dipatok harga hingga diatas Rp600 ribu. Untuk Lion Air yang sebelum tragedi jatuhnya pesawat dan empat hari setelahnya tiket hanya berkisar di harga Rp335 ribu, kini melejit dengan harga termurah Rp550 ribu.
Diduga, mahalnya tiket pesawat di Babel ini dipicu dari berkurangnnya jumlah rute penerbangan Lion Air rute Pangkalpinang-Jakarta maupun sebaliknya yang semula enam rute penerbangan menjadi empat kali dalam sehari. Selain itu, dugaan lain yakni asas manfaat yang dilakukan para maskapai untuk mengambil keuntungan lebih. Sebab, harga tiket di daerah lain cenderung stabil. Bahkan untuk rute Tanjungpandan Belitung-Jakarta sebagai pemanding, masih normal diharga-harga biasanya Rp433 ribu.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Babel, Tantan Heroika tak menampik mahalnya harga tiket pesawat ini. Menurutnya, jika dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan November sudah menunjukkan pergerakan kenaikan harga tiket pesawat.
Karenanya, Tim Pengendali Inflasi Daerah Bangka Belitung (TPID Babel) mendiskusikan langkah-langkah yang bisa diambil untuk menekan angka inflasi yang dikawatirkan akan melonjak pada bulan Desember yang dipicu dari tingginya harga tiket pesawat udara dan ikan segar.
“Transportasi udara naik cukup tinggi, tetapi bisa diredam dengan penurunan harga bahan pangan, sehingga pada November deflasi 0,14 persen. Desember, inflasi diperkirakan akan naik, karena cuaca, dan akan mempengaruhi kegiatan nelayan, transportasi dan pasokan ikan menjadi terbatas,” ujar Tantan dalam rakor pengendalian inflasi yang dihadiri instansi terkait seperti BMKG, KSOP, maskapai penerbangan, OPD terkait dan lainnya.
Untuk itu, beberapa persoalan seperti terhambat distribusi bahan pangan di pelabuhan perlu diantisipasi. Situasi pasang surut terkendala, juga risiko gangguan dari produksi lokal dapat menambah tingkat inflasi.
“Tekanan inflasi angkutan udara sehubungan dengan meningkatnya permintaan di hari libur akhir tahun, ini yang perlu kita bahas bersama,” tekannya.
Penentuan tarif angkutan udara, lanjut Tantan memang diatur dalam Permenhub Nomor 14 tahun 2016 tentang mekanisme formulasi perhitungan dan penegakan tarif batas atas dan bawah. Penetapan tarif batas atas itu diatur dalam Pasal 5 ayat 2, dan penerapan tarif 100 persen untuk maskapai dengan full service. Untuk batas bawah Pasal 9 ayat 3, dimana ketentuannya sebesar 30 persen dari tarif batas atas.
“Sriwijaya Air kita pantau harga sudah naik mendekati satu juta, Lion mendekati 500 ribu rupiah dan Garuda sudah tembus 1,2 juta,” rincinya.
Ia berharap, pihak maskapai bisa mengkalkulasi tarif ini agar tidak menimbulkan gejolak dan berdampak pada inflasi.
“Tekanan di akhir tahun, bagaimana meredam agar tidak nempel di batas atas, memang enggak menyalahi aturan mendekati batas atas, dan kecenderungan sudah mendekati batas atas. Saya melihat enggak tau kalau di lapangan, sisi permintaan tinggi sehingga harus ada penerbangan baru atau bagaimana,” tandasnya.
Selain angkutan udara, yang mempengaruhi inflasi adalah ikan segar. Dia khawatir disaat musim cuaca tidak baik ini, akan mempengaruhi tangkapan ikan dan harga akan melonjak.
“Faktor penahan inflasi diantaranya pasokan bahan pangan dari sentra luar Babel masih terjaga, efek lanjutan implementasi peraturan eceran tertinggi di beberapa komoditas. Peran aktif TPID dan Satgas Pangan untuk menjaga agar tidak terjadi lonjakan inflasi,” jelasnya.
Tantan menyebutkan, sejak akhir 2018, inflasi dua kota di Babel sudah mulai turun dan tidak lagi menduduki rangking tertinggi di Indonesia. Hal ini kata dia, berkat kerja keras TPID Satgas Pangan dan stakeholder.
“Januari-November 2018, inflasi itu berada pada angka 1,65 persen, lebih rendah dibandingkan nasional sekarang 2,32 persen. Secara tahunannya 3,07 persen dan nasional 3,23. Inflasi di Babel lebih baik, bahkan se Sumatera kita berada di urutan 4 tertinggi, dibandingkan Lampung sudah 2,5 persen,” bebernya.
Sementara Sekretaris Daerah (Sekda) Babel, Yan Megawandi menyebutkan, solusi dan upaya menjaga inflasi ini tidak akan putus hari ini saja. Ia menginstruksikan Dinas Kelautan dan Perikanan, Biro Perekonomian, Disperindag untuk mendata ikan yang menyumbang inflasi. Sedangkan untuk tiket pesawat, tim baru pada tahap imbauan, dan akan segera berkirim surat kepada maskapai penerbangan.
“Kami mengingatkan stakeholder perhubungan udara baik dari Bangka dan maupun Belitung, mohon kerjasama untuk meringankan beban publik, termasuk menambah armada, jangan sampai bikin bangkrut teman-teman ini,” pintanya dalam diskusi.
Menanggapi warning Sekda itu, Branch Manager Garuda Indonesia Pangkalpinang Puji menyebutkan, paska kecelakaan Lion Air trafik penerbangan di Bandara Depati Amir menurun 10-12 persen. Menurutnya kalangan traveler secara kuantifikasi biasanya bisa menekan harga lebih rendah.
“Di Oktober kita sudah kumpulkan data, Garuda jika fokus Jakarta-Pangkalpinang, jangan melihat high price, tapi berapa efeknya, berapa alokasi promo yang disiapkan jauh hari. Jika data kita rute Pangkalpinang-Jakarta di angka 48 U$D atau Rp680 ribu rupiah, Sriwijaya Rp502 ribu, Citilink Rp550 ribu, sebetulnya harga yang dijual komposisi kelas promo tidak setinggi yang terlihat,” jelasnya.
Namun memang diakui Puji, pada saat tingginya permintaan seperti bulan November, Desember hingga Januari, untuk tiket promo sudah habis terjual. Sehingga untuk yang baru melakukan pemesanan, akan dikenakan tarif normal.
“November banyak penerbangan, market akan tersentral pada satu flight number, meruncing pada satu jadual. Memang kita buka kelas normal, kita gak bisa bohong untuk buka kelas bisnis,” tukasnya.
Kenaikan tiket ini, lanjut Puji juga dikarenakan kenaikan bahan bakar, dimana beberapa waktu lalu kurs rupiah melemah hingga akhirnya pengeluaran pesawat yang semuanya berkaitan dengan dollar akhirnya menjadi besar jika dikalkulasikan dengan rupiah.
“Bahwa kenaikan, naik 30 persen dari aspek operasional goyang 80-90 persen dalam dolar, sedikit banyak enggak ballance, sehingga menaikkan harga,” imbuhnya.
Ia menyebutkan untuk bulan ini, Garuda mengurangi tiket kelas promo guna menutupi biaya operasional.
“Dulu Januari-Oktober setengah dari pesawat itu tiket promo, ini enggak bisa apalagi high seasson seperti ini,” tegasnya.
Senada dengan Garuda, District Manager Sriwijaya Air Pangkalpinang, Kian Se menyebut, pada November memang ada kenaikan permintaan dan dari harga pun sesuai dengan sub kelas. Hal ini karena ada kenaikan permintaan dari penumpang sehingga harga promo yang sudah dibuka jauh hari full booked dan hanya tersisa kelas lainnya.
“Oktober dengan kenaikan kurs Dollar Rp15 ribu, dimana biaya kami terbesar ada di maintenance-nya. Harga promo ada di November, tapi harga rendah sudah full booked sehingga tinggal ada menengah dan tertinggi,” jelasnya
Sedangkan Pjs Airport Manager Lion Air, Dedy Setiawan mengatakan, paska musibah yang menimpa Lion Air pihaknya memang mengalami sedikit masalah dalam operasional. Sehingga beberapa operasional dan penerbangan dikurangi.
“Memang bisa tidak ada kenaikan, harga sesuai batas tidak ada pengurangan, tapi operasional pengurangan terkait insiden kemarin. Memang dalam proses masa pemulihan, beberapa pengurangan jadual penerbangan tapi harga masih dalam daftar,” pungkasnya. (nov/1)

Related posts