Tiga Teroris Bom Thamrin Ada di Bangka

No comment 1426 views

Jalani Hukuman di Bukit Semut dan Tuatunu
Dipindahkan dari Mako Brimob

SUNGAILIAT – Masih ingat dengan kejadian pengeboman teroris di kawasan Jalan MH Thamrin, Sarniah Jakarta Pusat tahun 2016 yang lalu? Ternyata, tiga orang pelaku yang terkait dengan pengeboman itu, kini berada di Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Mereka dikirim ke Bangka untuk menjalani hukuman setelah dipindahkan dari rumah tahanan (Rutan) Mako Brimob Kelapa Dua Jakarta. Satu orang terpidana bom Thamrin atasnama Muhammad Ridho Wijaya, warga Kota Malang, Provinsi Jawa Timur, ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Bukit Semut Klas IIB Sungailiat, Kabupaten Bangka dan dua terpidana lainnya mengisi Lapas Tua Tunu Pangkalpinang.
Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Klas IIB, Bukit Semut Sungailiat?, Faozul Amsori saat dikonfirmasi membenarkan hal tersebut. Menurutnya, Muhammad Ridho divonis 3 tahun kurungan penjara dan sudah mendekam di Lapas Bukit Semut.
“Ada satu orang narapidana teroris aslinya dari Malang kasus bom Thamrin menjalani masa hukumannya di LP Bukit Semut. Sementara untuk dua orang rekannya di LP Tua Tunu Pangkalpinang,” katanya, Selasa (5/12/2017).
Menurut kalapas, alasan narapidana teroris Muhammad Ridho ini ditahan di LP Bukit Semut agar yang bersangkutan tidak mengulangi lagi perbuatannya.
“Kalau dia ditahan bersama rekan rekan lainnya, dikhawatirkan mereka akan mendoktrin warga binaan lainnya dan membuat mereka menjadi kuat. Dan ini merupakan strategi dari pusat dengan membuat mereka dipecah-pecah,” ujarnya.
Selain itu kata Faozul, narapidana ini tidak mempunyai akses apapun di Bangka sehingga kemungkinan kecil hal serupa bakal diulangi lagi.
“Karena dia tidak punya akses di Bangka dan tidak tau medan dan sanak keluarga sehingga membuat dia blenk,” tukasnya.
Diakui Faozul, narapidana teroris Muhammad Ridho itu dipindahkan dari Mako Brimob ke LP Bukit Semut sudah sejak 2 bulan yang lalu dan ditempatkan di sel khusus dengan pengawasan khusus oleh pihak lapas.
“Semenjak dia di sini (lapas-red), dia mendapatkan gelar baru yakni Bang Tero (Bang Teroris) oleh warga binaan,” sebutnya.
Bahkan lanjut dia, selama menjadi warga binaan LP Bukit Semut, belum ada yang menjenguk Bang Tero ini.
“Hanya saja rencananya sanak keluarganya yakni istri pertamanya (akan besuk). Kan narapidana Muhammad Ridho ini memiliki 3 orang istri,” jelas Faozul.
Dalam kesehariannya, kata Kalapas, terpidana Ridho enggan bersosialisasi dengan warga binaan lainnya. “Dia tidak bergabung dengan penghuni disini, mulai dari sholat hingga aktifitas lainnya, dia memilih untuk sendiri,” tandasnya.
Ditambahkan dia, pihak lapas melakukan pengawasan ekstra terhadap keseharian narapidana tersebut yang dibukukan dalam sebuah catatan. “Apapun aktifitas dia, kita catat karena dia dalam pengawasan khusus,” tukasnya.
Diketahui, sebelum terlibat pengeboman, Ridho berstatus PNS di Kota Malang. Pria ini akhirnya memutuskan menjadi jaringan teroris sebagai perakit bom dalam sebuah ledakan di jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Bantah Siksa Napi
Dalam kesempatan sama, Kepala Lapas Bukit Semut Sungailiat, Faozul membantah ada warga binaan mereka yang tewas karena disiksa petugas. Bantahan ini menepis beredarnya isu seorang warga binaan perkara pencabulan anak dibawah umur, meninggal dunia karena disiksa semasa berada di Lapas Bukit Semut.
Kepada sejumlah wartawan Faozul menerangkan, warga binaan atas nama Zainudin alias Dedeng (52) itu memang benar meninggal pada Sabtu malam (2/12/2017). Namun bukan karena siksaan petugas, tetapi akibat penyakit Diabetes Melitus yang kronis.
“Warga binaan kita meninggal karena penyakit yang terlalu kronis, sempat dibawa ke rumah sakit ternyata tidak tertolong lagi,” jelas Faozul didampingi Kasi Pembinaan Lapas Bukit Semut, Al Ihsan.
Dijelaskan dia, warga binaan ini sudah inkrah dalam perkara asusila dengan korban anak-anak dan divonis pengadilan pidana penjara 6 tahun. Saat Dedeng meninggal, diketahui sekitar jam 10 malam, dan pihaknya mencatat lengkap rekam medis hingga berita acara kematiannya dari rumah sakit.
“Penyerahan dari kami ke keluarga juga sudah diketahui. Keluarganya tahu persis memang dia sakit. Dalam pertolongan kita langsung bawa ke rumah sakit,” ujarnya.
Disebutkan dia, Dedeng meninggal pun sebelumnya telah rutin melakukan kontrol ke rumah sakit terkait penyakitnya selama di dalam Lapas. Termasuk 2 hari sebelum meninggal sempat melakukan kontrol ke rumah sakit.
Sesaat sebelum meninggal dunia, almarhum mengalami sakit sesak nafas dampak dari penyakit yang dideritanya. Sempat dipanggilkan perawat dari lapas untuk mengecek. Untuk itu Faozul memastikan tidak ada kekerasan yang menyebabnya meninggal dunia.
“Sama sekali tidak benar, tidak ada kekerasan itu. Karena saya larang keras, apalagi orang sakit, orang sehat pun enggak. Itu berita dari mana itu, tidak benar. Keluarganya sering tiap hari besuk, tau kondisinya,” papar Faozul.
Pihaknya kata kalapas, mengantisipasi bila ada warga binaan yang sakit dengan melakukan cek secara rutin kesehatannya. Selain itu, melalui kepala kamar warga binaan yang sakit, terus melapor.
“Siapa yang sakit berobat, malam juga kita kontrol siapa tahu ada yang sakit. Nanti dari sisi kesehatannya ada yang akan menjelaskan,” tutupnya.
Sementara itu, Kasubsi Perawatan, Budi Islam menerangkan, warga binaan atas nama Zainudin pada tanggal 2 Desember lalu sekitar pukul 22.30 meninggal dunia di RSUD Sungailiat. Dengan riwayat sakit utama diabetes. Sebelumnya tanggal 30 November 2017, alhmarhum telah dirujuk ke rumah sakit dan saat diperiksa ada luka di kaki sebelah kanan dengan kondisi bengkak. Hal ini diperparah dengan sakit diabetes yang diderita.
“Karena dia ada riwayat DM, karena luka yang biasanya kecil bisa parah. Setelah ada rujukan memang kita sempat dapat telepon kondisinya lemah, tapi masih bisa komunikasi. Lalu datang petugas medis kami dan setelah diperiksa kondisinya stabil,” jelasnya.
Karena disimpulkan tidak perlu dirujuk ke rumah sakit, akhirnya ditangani. Namun, pada malam harinya kemudian kembali terjadi kondisi yang lemah pada almarhum sehingga kemudian dirujuk ke rumah sakit dan akhirnya meninggal dunia. (2nd/1)

No Response

Leave a reply "Tiga Teroris Bom Thamrin Ada di Bangka"