Tiga Kapal Isap “Hajar” Laut Rebo

  • Whatsapp
KAPAL ISAP – Tampak dua dari tiga unit kapal isap menambang pasir timah di laut Rebo dan dikeluhkan nelayan setempat. Ribuan nelayan menandatangani petisi untuk menolak keberadaan kapal isap itu dengan alasan laut rusak dan tangkapan ikan menurun. (Foto: Zuesty Novianti)

Ribuan Nelayan Mengeluh dan Kecewa
Ngaku Hasil Tangkap Turun Drastis

SUNGAILIAT – Kegiatan penambangan pasir timah menggunakan Kapal Isap Produksi atau KIP, kembali dikeluhkan masyarakat nelayan tradisional Desa Rebo, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka. Bagaimana tidak, sudah sebulan ini sebanyak tiga unit KIP asyik menambangi di laut Rebo yang menjadi tempat nelayan mencari ikan.

Penambangan yang dilakukan para pengusaha timah dengan kapal isap ini nekat dilakukan, meski diketahui ribuan warga nelayan setempat selalu menyatakan menolak aktivitas itu, karena menilai akibat penambangan timah di laut membuat hasil tangkapan ikan nelayan menjadi terpuruk.

Sun Tjun Tjiong alias Achiong (64) bersama rekan-rekannya sesama nelayan yang ditemui Rakyat Pos di pesisir Pantai Rebo, mengeluhkan keberadaan 3 unit KIP yang menggasak kawasan tangkap ikan mereka.

“Sudah mau satu bulan (kapal isap itu beroperasi-red). Tidak ada minta izin, langsung datang ke sini (Laut Rebo). Tiap tahun masalah kami ini nolak KIP terus. Kalau sudah ditolak, pasti ada saja KIP mau masuk laut kami. Sampai mati pun kami tolak KIP di sini. Ini lah laut untuk kami mencari nafkah dari zaman nenek moyang kami,” tegas Achiong, Rabu (26/6/2019).

Menurutnya, tak tanggung-tanggung akibat aktivitas penambangan KIP sebulan ini sudah menurunkan hasil tangkap nelayan secara drastis. Bahkan para nelayan mengaku 50% hasil tangkapannya berkurang.

“Sepi sekarang ini yang turun ke laut. Bagaimana mau turun alur lalu lintas kami terganggu. Kami ini nelayan kecil. Pergi pagi pulang sore. Atau pergi sore pulang pagi. Jadi wilayah tangkap kami berbenturan dengan keberadaan KIP yang meninggalkan limbah. Belum lagi kalau mereka (KIP) ganti oli. Berhamburan oli bekasnya (di laut) bikin ikan lari,” keluh nelayan lainnya.

Tak hanya nelayan perahu. Nelayan bagan juga mengeluhkan hal yang sama. Lokasi bagan yang ditancap nelayan sekitar 5-7 mil pun berbenturan dengan keberadaan ketiga KIP itu. Dampaknya, nelayan enggan turun ke laut lantaran hanya akan menghambiskan biaya operasional tanpa membawa hasil tangkapan.

“Cemane nek nangkep ikan. Ikan ge lari takut kek limbah e. Jadi cem ni la sekarang sepi. Disini ade seribu lima ratusan nelayan dari beberapa desa. Kami nek KIP ne lari. Jangan begawe deket sini. (Bagaimana mau menangkap ikan. Ikan pun lari takut dengan limbahnya. Jadi beginilah sekarang ini sepi). Disini ada seribu lima ratusan nelayan dari beberapa desa. Kami mau KIP ini lari. Jangan menambang dekat sini),” pintanya.

Disampaikan Achiong, ribuan nelayan sudah menandatangani pernyataan penolakan KIP tersebut. Rencannya, perjuangan menolak tambang di laut itu akan terus dilakukan dengan cara apapun hingga kapal-kapal tambang itu hilang. Mirisnya, isu yang beredar menyebutkan akan ada dua unit KIP lagi yang hendak menambang di laut Rebo.

“Ni kate e nek nambah agik KIP disini. Nek jadi ape laut kami pon dak de yang peduli kek nasib nelayan di sini. (Ini katanya mau bertambah lagi KIP di sini. Mau jadi apa laut kami kalau tidak ada yang peduli dengan nasib nelayan di sini),” gerutunya.

Diakui Achiong, laut Rebo yang dulunya menjadi surga bagi para nelayan sudah rusak sejak beroperasi Kapal Penambangan Timah bernama Mercusuar. Menurutnya, saat itu Kapal Mercusuar yang beroperasi di era Presiden Soeharto sempat menambang di laut Rebo selama 6 bulan. Namun yang ditinggalkan hanyalah limbah dan laut Rebo pun menjadi rusak parah.

“Kapal Mercusuar dulu pernah di sini. Itu lah mulai rusaknya laut kami. Waktu itu kami warga nelayan menghentikan aktivitas penambangan lantaran pihak perusahaan melanggar perjanjian dengan masyarakat nelayan. Jadi kami minta berhenti. Setelah itu, tiap tahun ada terus masalah penambangan begini. Tidak pernah selesai. Tiap tahun pasti ada yang datang mau merayu kami. Jadilah, kami sudah tidak mau lagi. Kami cuma mau menggunakan laut kami untuk cari ikan,” tandasnya.

Saat ini, disebutkan Achiong perjuangan para nelayan Rebo sudah diakomodir oleh koordinator nelayan. Mereka berharap perjuangan kali ini dapat membuat KIP-KIP berhenti menambang dan tidak lagi menganggu aktivitas hilir mudik perahu nelayan.

Serahkan Petisi Penolakan

Terpisah, Kepala Desa Rebo, Fendi saat dihubungi via ponsel Rabu petang (26/6/2019), membenarkan ada penolakan para nelayan desanya terhadap penambangan timah oleh tiga unit kapal isap tersebut.

Bahkan, hari ini, Kamis (27/6/2019) nelayan Rebo akan menyerahkan petisi penolakan beroperasinya KIP di perairan Rebo kepada Gubernur Bangka Belitung, DPRD dan PT Timah, Tbk.

Fendi sendiri mengaku hingga saat ini tidak mengetahui izin operasional 3 unit KIP tersebut. Sebab pihak perusahaan pengelola kapal tidak melaporkan keberadaannya kepada pihak desa.

“Gak tau apa nama KIP nya. Dari mana asalnya kami juga tidak tau. Karena tidak ada laporan ke desa. Mitra PT. Timah atau bukan pun kami tidak tahu,” tukasnya.

Tapi menurut dia, sebelumnya ada 1 kali sosialisasi dilakukan perusahaan penambangan ke masyarakat. Namun saat itu belum ada persetujuan yang diberikan nelayan dan masyarakat kepada pihak perusahaan.

“Sosialisasi hanya satu kali, pas sosialisasi itu belum ada persetujuan nelayan dan masyarakat,” ujarnya sembari mengaku tidak mengetahui akan ada penambahan jumlah KIP seperti kabar yang beredar di masyarakat. Karena tidak ada berkas atau laporan apa pun dari pihak perusahaan kepada pihaknya. (2nd/1)

Related posts