Tiga Hotel di Belitung Dilapor Pemalsuan Surat?

  • Whatsapp

Kafe dan Beberapa Warga Juga Dilaporkan
CV. Arjuna Bahria & Co Juga Diancam Dilapor Balik

Tanjungpandan – Klaim kepemilikan tanah oleh CV. Arjuna Bahria & Co di Desa Lesung Batang, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tepatnya di Jalan Keramik pada akhir pekan kemarin, sepertinya berbuntut panjang. Selain klaim itu menyasar pada lokasi pemukiman penduduk, tapi ternyata juga merambah hingga lokasi-lokasi stratgis di pusat Kota Tanjungpandan, Kabupaten Belitung.
Toko Sang Surya, Hotel BW Inn, Hotel Dewi, Hotel Belitong, Cafe Tania, Sobri, rumah Arifin, Sulaiman, Purnama Sitorus, Yan dan pihak lain, rupanya masuk dalam objek klaim CV. Arjuna Bahria & co. Dan objek itu masuk dalam daftar sebagai terlapor ke Polda Kepulauan Bangka Belitung berdasarkan laporan pengaduan Nomor : 001/002/PK/VIII/2019, tanggal 21 September 2019 yang dilaporkan oleh Marhadi.
Pelapor Marhadi diketahui selaku kuasa CV. Arjuna Baharia & Co yang beralamat di Kampong Juru Seberang RT. 002, dengan terlapor Dewi Dkk. Dalam laporan, para terlapor dituduh dengan pidana pemalsuan surat, penyerobotan tanah dan menempati tanah tanpa adanya izin dari yang berhak atau kuasa sah, sehingga CV. Arjuna Bahria & Co merasa dirugikan.
Marhadi menyatakan, aset-aset CV. Arjuna Bahria & Co yang berada di Kabupaten Belitung berdasarkan Sertifikat Hak Guna Bangunan, dan Sertifikat Hak Pakai. Namun lahan yang berstatus Sertifikat Hak Guna Bangunan itu diklaim dan dikuasai oleh pihak-pihak terlapor.
Karena itu, jika lewat dua hari dari dead line 3 x 24 jam waktu yang diberikan CV. Arjuna Bahria & co, untuk mengosongkan lokasi yang diklaim miliknya, dan atau sejak spanduk pemberitahuan dipasang, Kamis (24/06/2020) belum ada tanda-tanda akan eksekusi mengosongkan lokasi dari pihak CV. Arjuna Bahria & Co.
Yoga Pranata, selaku kuasa Direksi Hotel BW Inn mengatakan klaim CV. Arjuna Bahria & Co adalah klaim sepihak. Menurut Yoga yang berwenang untuk memasang spanduk pengosongan lokasi adalah pengadilan. Pihak Hotel BW Inn merasa dirugikan akibat adanya pemberitahuan dari CV. Arjuna Bahria & Co untuk mengosongkan lokasi yang klaim miliknya.
“Mereka sudah menempuh jalur hukum, kami pun akan menempuh jalur hukum secepatnya. Kita akan lapor balik,” kata Yoga, Selasa, (30/06)2020).
Apalagi ia menyebutkan, di atas tanah yang dibangun Hotel BW Inn sudah bersertifikat. “Kita siap adu surat,” ujar Yoga.
Hal senada juga dikatakan pemilik Toko Sang Surya di deretan pusat perbelanjaan di Jalan Endek Kota Tanjungpandan. Orang yang mengaku sebagai keponakan dari pemilik toko mengaku kaget ketika ada sekelompok orang yang menempelkan pemberitahuan di tokonya untuk mengosongkan lokasi yang sudah puluhan tahun ditempati tanpa permisi pada Kamis, (24/06/2020) lalu. “Kagetlah,” kata dia, kemarin.
Pihak Toko Sang Surya, kata dia masih menunggu kedatangan pihak CV. Arjuna & Co untuk eksekusi.
“Kalau pihak CV. Arjuna datang untuk ekskusi kita akan lapor polisi,” tandasnya.
Dilansir kemarin, warga Desa Lesung Batang, Kecamatan Tanjungpandan, tepatnya di Jalan Keramik, akhir pekan kemarin mulai resah. Pasalnya, warga dikagetkan dengan segerombolan orang yang memasang spanduk pengumuman berisi pemberitahuan untuk mengosongkan lahan pada Jum’at (25/06/2020).
Tidak hanya memasang spanduk di sejumlah halaman rumah warga, warung makan di dekat Jalan Keramik pun ditempeli pamplet pemberitahuan serupa.
Dari pantauan wartawan, spanduk yang bertebaran di empat titik di Jalan Keramik RT. 008/004 Desa Lesung Batang itu mengklaim kepemilikan lahan seluas 3 hektar lebih. Spanduk dengan nama pemilik yang sama juga terpasang di dua titik lainnya di Jalan Sriwijaya, dan Jalan Veteran Tanjungpandan.
“Pemberitahuan, tanah seluas 30.440 M2 Jalan Keramik, sertifikat Hak Pakai No. 426, berdasarkan data aset jaminan dan bukti surat-surat jaminan yang diterima oleh PUPN (Panitia Urusan Piutang Negara) sekarang KPKLN yang dinyatakan lunas dan sah milik CV. Arjuna Bahria & Co (Bahara bin Japal Alm) ahli warisnya Abdul Muis Muhadi/Bahriah Nengsih, serta berdasarkan PP No. 40 Tahun 1996. Untuk segera mengosongkan lokasi tersebut (3 x 24 jam). Permasalahan ini sedang dalam proses penyelidikan Ditreskrimum Polda Provinsi Bangka Belitung.”
Demikian bunyi spanduk yang terpajang di pinggir Jalan Keramik Tanjungpandan dan ditempel di dalam salah satu warung penjual makanan.
Tak pelak, spanduk yang berisi pemberitahuan untuk mengosongkan lokasi dalam jangka waktu 3 x 24 jam itu menimbulkan keresahan warga. Pemberitahuan yang bernada perintah itu, tidak hanya menyasar permukiman warga yang terdampak, tetapi ada beberapa orang yakni AM, HW, dan MD yang diinformasikan memiliki tanah di wilayah klaiman CV. Arjuna Bahria & Co.
Selain itu, tanah dimaksud juga diklaim dimiliki oleh FF. Dari sumber informasi yang berhasil dihimpun Rakyat Pos, tanah yang disengketakan itu sudah inkrah sejak tahun 2013 lalu.
Salah seorang ahli waris pemilik tanah FF menuturkan, tanah itu adalah warisan orangtuanya berdasarkan akta jual beli diatas kertas segel tahun 1944.
“Sudah ada putusan dari pengadilan hingga putusan MA, sudah dieksekusi pada tahun 2013 oleh pengadilan,” kata FF melalui sambungan telepon, Sabtu, (27/06/2020).
Namun FF mempersilahkan jika ada pihak-pihak yang mengklaim sebagai pemilik tanah sah. Terkait adanya pemberitahuan untuk mengosongkan tanah, FF mengaku tak perlu menanggapi. Karena menurutnya, yang berhak memasang spanduk untuk mengosongkan tanah itu adalah pihak pengadilan. Apalagi yang tertera di spanduk pemberitahuan itu alas haknya adalah sertifikat Hak Pakai. “Artinya mereka sewa, bukan pemilik tanah,” ujar dia.
Ketua RT. 008/004 Desa Lesung Batang, Kecamatan Tanjungpandan, Marzuki tak menyangkal jika tanah yang diklaim milik CV. Arjuna Bahria & Co ada juga tanah milik Rusni.
Ketika disinggung terkait CV. Arjuna Bahria & Co, Marzuki yang sudah belasan tahun menjabat Ketua RT mengaku pernah mendengarnya.
“Dulu kantornya di sekitar Pelabuhan Tanjungpandan dan pernah punya pabrik es di sekitar lokasi yang disengketakan ini,” jelasnya kepada wartawan, Minggu (28/06/2020).
Tapi sayangnya , Marzuki yang diminta ikut mendampingi perwakilan CV. Arjuna Bahria & Co memasang spanduk pemberitahuan, mengaku tidak diberitahu batas-batas tanah yang diklaim dengan Hak Pakai tersebut.
“Tidak ada patoknya,” kata Marzuki yang memperkirakan klaim CV. Arjuna Bahria & Co sebagai pemilik sah tanah di Jalan Keramik seluas 41.875 M2 berdasarkan sertifikat Hak Pakai Nomor 426 dan 427, maka yang akan berdampak adalah pemukiman warga.
“Kemungkinan masuk ke pemukiman warga. Pemda harus turun tangan,” tambah lelaki yang sudah tinggal di RT. 008/004 sejak tahun 1981 ini.
Sementara itu, hingga berita ini dirampungkan tadi malam, Rakyat Pos belum berhasil mengonfirmasi terkait hal ini kepada CV. Arjuna Bahria & Co. (yan/1)

Related posts