Tiga Bos Pupuk Saling Berkicau

  • Whatsapp

Beber Asal Muasal Barang

Read More

PANGKALPINANG – Tiga terdakwa yang terjerat dalam kasus dugaan tindak pidana mengedarkan pupuk tanpa izin edar dari Kementan RI, yakni Akon CS saling buka-bukaan alias berkicau ketika disidangkan di Ruang Garuda, Pengadilan Negeri (PN) Pangkalpinang, Senin (3/10/2017) siang sekitar pukul 13.00 WIB.
Edi Wem alias Akon (46) beserta kawan-kawan sesama bos pupuk ilegal akhirnya buka suara asal muasal memperoleh pupuk diduga palsu yang diedarkan di Bangka Belitung.
Selain Akon, juga terdakwa lainnya Handrianto Tjong alias Ahan (59) dan Suk Liang alias Aleng (62) didakwakan dalam kasus ini lantaran telah melanggar Pasal 60 ayat 1 huruf f dan i UU RI No 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman yang ancaman pidananya 5 tahun penjara dan denda Rp250 juta, serta Pasal 62 ayat 1 jo Pasal 8 ayat 1 huruf a dan e UU RI No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman kurungan penjara selama 5 tahun dan denda sebesar Rp2 miliar.
Mereka disidang dalam kasus itu dengan agenda mendengarkan keterangan saksi ada tiga orang, sekaligus juga memperdengarkan keterangan dari ketiga terdakwa yang saling membeberkan pupuk yang dijual.
Sidang perkara itu dipimpin oleh ketua majelis hakim Surono dengan hakim anggota Maju Purba dan Diah Diah Astuti Miftafiatun serta dua jaksa penuntut umum (JPU) Kejati Babel, yakni A Risol dan Yudi Istono.
Ketiga pengusaha pupuk itu didampingi oleh penasehat hukumnya, yakni Ferry Iman Halim dari kantor pengacara Halim Samosir Prasetyo (HSP) Jakarta.
Ketua majelis hakim mencoba mengorek keterangan dari terdakwa Akon yang pertama kali dimintai keterangan dalam sidang itu. Selain itu, Surono juga berusaha mencecar sejumlah pertanyaan demi menelusuri pasokan pupuk berasal darimana.
“Apa yang anda lakukan dengan pupuk palsu ini ?. Berapa banyak pupuk yang anda edarkan di Bangka Belitung ini ?. Darimana pupuk ini anda beli?,” cecar Surono.
Tak hanya sebatas itu saja, hakim ketua juga mempertanyakan kandungan atau kadar yang tertera di kemasan pupuk yang diedarkan Akon.
“Saudara baca gak kandungannya ?, kemasan pupuk ini harus sesuai gak dengan apa yang terkandung dalam pupuk ?. Kalau sepengetahuan saudara, kadar pupuk harus sesuai gak dengan yang tertera di kemasan?. Ada sertifikatnya ?. Ada surat ijin gak, surat ijin apa ?. Pabriknya dari mana ?, Saudara pernah nyoba ?,” tanyanya seraya mengingatkan, Akon harus memastikan apa yang ada dikemasan harus sesuai kandungan pupuk.
Sedangkan Akon berpura-pura mengaku bahwa dirinya sudah membaca kandungan pupuk yang telah tersebar luas di Provinsi Serumpun Sebalai itu. Ia mengungkapkan bahwa usaha yang selama ini dirintis mengantungi izin yang lengkap.
“Kadar pupuk ini sudah sesuai dengan kemasan. Ada ijinnya, ijin perdagangan, SIUP, SITU juga. Pabriknya gak tahu, di Bangka juga ada. Belum pernah nyoba. Pupuk saya ini dibeli dari Ahan alias Handriyanto,” bebernya.
Ahan alias Handriyanto ketika ditanyakan majelis hakim hanya membenarkan keterangan yang telah diberikan Akon ketika bersaksi.
“Benar Yang Mulia, pupuk ini saya beli dari Sukabumi dengan harga Rp75 ribu perkilogram. Ada ijin dari Dinas Pertanian, SIUP, SITU, ijin gudang juga ada.. Memang benar ada lima distributor,” ungkap Ahan.
Aleng juga dipertanyakan seputar pupuk yang diedarkannya di wilayah itu dan dia juga sudah mengakui dalam persidangan itu.
Sementara itu, JPU A Risol dan Yudi Istono juga menanyakan sejak kapan ketiga bos pupuk itu menjual pupuk, darimana asal muasal tempat mengambil pupuk dan harga pembelian pupuk di pabriknya berapa serta dijual dengan harga berapa.
Ketiga bos pupuk ini dijerat pidana setelah 142 ton pupuk diduga palsu, berhasil diamankan Tim Satgas Pangan Babel dibawah komando Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Babel, Kombes Pol Mukti Juharsa, Jumat (28/7/2017) sekitar pukul 09.00 Wib.(bis/6)

 

Related posts