by

Tidak ada Anak yang Bodoh

-Opini-360 views

Oleh: Wahyudi, S. Kom
Guru SMK Negeri 1 Kelapa, Bangka Barat

Mitos yang terjadi di masyarakat sekarang, bahwa kepintaran seorang anak diukur dari satu sisi saja yaitu otak kiri. Benar tidak demikian? Jangan sampai salah menterjemahkan pola pikir anak. Para orang tua kebanyakan selalu menilai anak dari sisi akademis. Sebagai contoh, ranking dan nilai di rapor anak di sekolah menjadi ambang batas sebesar mana kepintaran anak. Padahal alat ukur dalam evaluasi belajar di sekolah kebanyakan masih menggunakan pengukuran otak kiri. Bisa terlihat ketika anak lagi mengerjakan soal-soal test. Soal-soal yang diberikan kepada anak masih berupa hafalan yang sifatnya logis dan matematis yang semuanya condong kepada pengukuran otak kiri. Mitosnya kalau anak egak ranking, maka anak itu terbilang kurang cerdas dan kurang pintar.
Akibat terlalu banyak mengexplore otak kiri, keterbatasan kecerdasan yang dimiliki seorang anak makin terabaikan. Anak menjadi minder dan susah untuk bergaul, karena merasa ia paling bodoh. Anak cendrung suka menilai dirinya sendiri bahwa “saya bodoh” dari kawan-kawannya yang lain. Tidak pernah berpikir mau maju, karena anak berpikir bahwa ia tidak pernah maju. Kemudian anak menjadi pasrah menerima nasib apa adanya pada dirinya sendiri. Itu semua merupakan energi negatif yang dipancarkan ke anak yang sesuai dengan sugesti pemikiran anak itu sendiri.
Anak yang tidak ranking bukan berarti ia bodoh. Anak yang tidak ranking sebagian besar adalah anak yang sulit konsentrasi dalam belajar. Anak tersebut biasanya aktif dan tidak bisa diam. Diluar sana kemungkinan anak tersebut mengusai bidang tertentu dan lebih bisa dari anak yang dibilang ranking di kelas. Anak tersebut bisa jadi mempunyai kecakapan berkomunikasi yang hebat pada saat diluar. Kemampuan mempengaruhi orang dan berkomunikasi adalah salah satu kecerdasan sosial anak. Hanya saja kecerdasan tersebut tidak dikonversikan ke angka nilai rapot dan tetaplah dianggap anak tersebut bodoh. Terkadang seorang guru menilai keaktifan anak karena terlalu over, maka akan di cap anak nakal. Sehingga mempengaruhi proses penilaian seorang guru.
Guru harus selektif menilai, jangan selalu mengangap anak nakal itu bodoh. Namun, guru harus melihat dari perspektif lain masih ada potensi kecerdasan yang dimiliki anak yang super aktif tersebut. Tidak sedikit para orang tua mengetahuinya. Siapa yang tidak kenal Thomas Alva Edison, Albert Einstein, Isaac Newton, Winston Churchiil, Aristoteles Onassis. Mereka semua adalah ilmuan terkemuka yang dikenal masa kecilnya terbilang anak bodoh. Fakta sejarah telah membuktikan bahwa mereka orang pintar dan menjadi seorang ilmuan yang sampai sekarang teori keilmuanya masih digunakan orang yang belum ditemukan tandingannya.
Thomas edison menemukan bola lampu, isaac newton yang dinobatkan sebagai bapak fisika modern. Albert Einstein yang dianggap gurunya tidak bisa bergaul dan seorang penghayal tolol, namun ternyata beliau menemukan teori relativitas kesetaraan massa-tenaga yang di kenal dengan rumus E=MC2. Aristoteles yang menjadi penjelajah dunia dan pengusaha sukses. Dan masih banyak lagi sejarah orang-orang yang cerdas pada awalnya di cap bodoh dan aneh, malah meraka menjadi istimewa karena mendapatkan energi positif luar biasa. Penyaluran energi positif ini, dapat melalui orang tua dan keluarganya, kerabat terdekat, guru, teman, atau siapun yang paling mempengaruhi hidupnya.
Katakan tidak ada anak yang bodoh. Seimbangkan anak dengan penggunaan secara adil otak kiri dan otak kanan. Agar anak memperoleh kepintaran dan kercerdasan yang optimal. Pintar dan cerdas merupakan sesuatu yang berbeda. Pintar itu butuh proses, sedangkan cerdas memang bawaan dari lahir pada anak. Pintar didapat dari proses penalaran akademis, karena pintar merupakan penalaran mengetahui, pandai, dan memiliki ilmu. Tak heran jika pintar selalu dikaitkan dengan prestasi akademik di sekolah. Sedangkan cerdas merupakan ketajaman berpikir seorang anak. Anak cerdas akan lebih bisa mengaktualisasi diri dan berimprovisasi lebih kreatif dalam melakukan sesuatu. Kemampuan berfikir orang cerdas sangatlah cepat, sehingga ia sangat mudah mengerti, memahami, dan menangkap sesuatu yang tak lazim orang lain miliki. Anak cerdas biasanya menguasai banyak bidang dan cendrung emosinya lebih stabil. Bisa saja anak tersebut mempunyai kecakapan di bidang seni ataupun olahraga.
Untuk mebangun kepintaran dan kecerdasan anak di sekolah dalam menelusuri bakat dan minat anak, maka sekolah harus membuat program yang dikerjakan oleh guru bimbingan dan konseling. Guru di Sekolah bisa memberika bimbingan bagi anak cerdas dan berbakat tersebut. Teknik bimbingan merupakan alternatif yang dapat diterapkan dalam mengembangkan kemampuan anak cerdas berbakat. Guru bisa menelusuri dengan menyeleksi kemampuan anak dengan cara melihat perkembangan fisik anak, perkembangan kognitif, pekembangan emosinal, dan perkembangan sosial seorang anak. Dari hal tersebut diharapkan bagi anak supaya menjadi anak yang cerdas berbakat serta memiliki taraf intelegensi yang sangat tinggi, memiliki tingkat kreativitas yang tinggi pula, dan dengan kemampuannya memungkinkan bagi dirinya berhasil dengan baik dalam pekerjaan atau karirnya nanti.
Dengan demikian, jika definisi pintar dinilai dari otak kiri, kasihan dengan anak yang diangap bodoh, tidak mendapat ranking di sekolah, nilai rapornya selalu merah, anak nakal, bahkan tidak naik kelas. Janganlah orang tua menilai anaknya seperti orang bodoh. Karena masa depannya masih panjang. Masih banyak potensi diri yang belum di bentuk. Peluang masih tentu ada. Serapkan energi positif pada anak, supaya bisa membangkitkan serapan anak lebih maju dan tidak terkebelakangan. Berikan kekuatan dan motivasi, bangkitkan semangat terutama kejiwaan anak, ingat orang tua, kerabat, teman-tamannya merupakan sumber energi dasyat bagi anak-anak. Jadikan momentum tersebut ajang untuk mengenali potensi anak. Untuk itu, sudah jelas tidak ada anak yang bodoh. Semua anak pasti cerdas. Temukan dan telusuri potensi anak. Sekali lagi janganlah mengecap anak itu bodoh.(***).

Comment

BERITA TERBARU