Tertib (Sabar) Berlalu Lintas

  • Whatsapp

Oleh: Endang Trisna
Staf Ahli Hukum Komisi Informasi Provinsi Kep. Babel,
Alumni Fakultas Hukum UBB

MENGENDARAI kendaraan tentu sudah menjadi rutinitas bagi setiap masyarakat Bangka Belitung, Khususnya Kota Pangkalpinang untuk beraktivitas dan mempermudah mobilisasinya dalam bekerja. Yang dimana kita akan mengalami kesulitan apabila tidak memiliki kendaraan pribadi. Namun, dalam berkendara tentu ada ketentuan yang harus dipatuhi. Contohnya seperti memiliki SIM, menggunakan sabuk pengaman, menggunakan Helm, mentaati rambu-rambu lalu lintas, dll. Jika kita tidak mengikuti peraturan tersebut, maka kita akan mendapatkan sanksi tegas dari pihak yang berwajib.

Adapun pengertian tata tertib dan lalu lintas dapat disimpulkan bahwa tata tertib lalu lintas adalah peraturan yang harus ditaati dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada saat berkendara atau mengemudikan kendaraan, karena peraturan terdapat sanksi bagi seseorang yang melanggarnya.

Tertib berlalu lintas sangat penting bagi pengendara kendaraan roda dua dan roda empat, karena tertib berlalu lintas dapat mengurangi tingkat kecelakaan di jalan raya. Pada saat seseorang tertib dalam berlalu lintas, maka sebenarnya ia juga menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain.

Adapun yang termasuk dalam tertib berlalu lintas adalah menggunakan helm berstandar SNI, melengkapi diri dengan Surat Izin Mengemudi (SIM), menggunakan spion atau perlengkapan kendaraan khususnya kendaraan roda dua, desain motor sesuai standar pabrik, menyalakan lampu sein pada saat akan berbelok, tidak memainkan ponsel saat berkendara serta menaati rambu-rambu lalu lintas.

Perilaku melanggar ini, tatkala menjadi kebiasaan, maka terkadang dianggap hal biasa. Sikap persive terhadap pelanggaran inilah yang membuat orang semakin masa bodoh terhadap masalah lalu lintas. Fatalitas korban kecelakaan lalu lintas masih menunjukan angka yang relatif cukup tinggi.

Melihat angka fatalitas akibat kecelakaan yang cukup tinggi, pengguna kendaraan diharapkan tetap waspada, berhati-hati dan utamakan keselamatan berkendara di jalan. Sehingga, perlu adanya langkah antisipatif yang melibatkan seluruh stakeholder yang bertanggungjawab di dalam keselamatan berlalu lintas. Faktor keselamatan merupakan komponen utama pada saat mengemudikan kendaraan bermotor ataupun kendaraan roda empat.

Namun, tidak sedikit orang yang hanya memikirkan kepentingan individu, sehingga mereka menggunakan transportasi dan sarana transportasi tanpa memikirkan orang lain atau kepentingan umum. Sehingga terjadilah ketidaktertiban yang terjadi pada lalu lintas sebagai sarana transportasi, ini dikarenakan pengguna transportasi tidak tahu aturan-aturan dan disiplin dalam berlalu lintas atau mungkin bahkan sudah menganggap tidak pentingnya aturan-aturan tersebut, alih-alih dengan kepentingan yang mendesak.

Kedisiplinan dalam berlalu lintas di jalan raya, tidak hanya dilakukan di kota besar dan padat saja, tetapi di Kota Pangkalpinang yang lumayan padat ini juga diperlukan kedisiplinan dalam berkendara.

Disiplin berkendara telah diatur dalam Undang Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, dan juga rambu-rambu lalu lintas yang terpasang di sepanjang jalan, baik jalan raya, jalan kelas satu, jalan kelas dua, maupun jalan kelas tiga. Tetapi, apakah kita pernah sadar dengan adanya fasilitas yang dapat mempermudah kita tersebut justru dapat merugikan diri kita sendiri apabila kita tidak melaksanakan dengan disiplin.

Disiplin itu indah, tapi apakah kita sudah menanamkan jiwa disiplin dalam diri kita sendiri. Faktanya masih banyak ditemukan pelanggran-pelanggaran disiplin terutama dalam hal disiplin atau tertib lalu lintas.

Dari pengamatan yang didapat, adapun yang sering menjadi penyebab kecelakaan lalu lintas antara lain, ada dari faktor diri sendiri, faktor jalan dan faktor kendaraan. Contoh dari faktor dari diri kita sendiri adalah misalnya berkendara secara ugal-ugalan di jalan, berkendara dalam kondisi mengantuk atau tidak fit, dan lain sebagainya. Faktor kedua misalnya yang berhubungan dengan jalan yang masih tidak optimal, misalnya masih banyak jalan yang masih berlubang, tidak rata ataupun terlalu sempit, sehingga menyebabkan ketidaknyamanan bagi pengendara yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan. Dan faktor terakhir adalah faktor dari kendaraannya, misalnya kelengkapan kendaraan yang tidak memenuhi Standar berkendara, tidak menggunakan helm, spion motor tidak dipasang serta tidak memasang lampu sein pada saat akan berbelok.

Padahal, perintah menggunakan helm standar itu juga diatur dalam Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009, yaitu dalam Pasal 291 ayat (1) dan (2). Sepintas menggunakan helm adalah hal yang sangat sepele dan tidak terlalu penting, karena persepsi itulah sering mengabaikan memakai helm standar apalagi yang jauh dari jangkauan petugas Kepolisian Lalu Lintas. Menggunakan helm sama saja dengan menggunakan sabuk pengaman bagi pengendara mobil.

Meski Pemerintah telah merancang dan membuat peraturan berlalu lintas dengan sedemikian rupa agar dapat dipatuhi oleh masyarakat dan juga dibuat agar dapat memberikan kemudahan serta kenyamanan bagi masyarakat dalam menggunakan transportasi dan sarana transportasi, namun faktanya tidak sedikit orang yang melakukan pelanggaran-pelanggaran dalam berlalu lintas, baik itu merupakan pelanggaran yang bersifat ringan sampai dengan pelanggaran yang bersifat berat dan dapat menyebabkan kecelakaan dalam pengguna transportasi.

Biasanya, hal yang sering menjadi alasan pelanggaran seperti sedang dalam keadaan terdesak, ingin cepat sampai tujuan ataupun melanggar karena tidak ada petugas/polisi lalu lintas yang sedang berjaga. Padahal, apabila dipatuhi, maka akan tercipta tertib berlalu lintas di jalan.

Sebenarnya, berbagai cara dapat dilakukan untuk meningkatkan keselamatan sekaligus menurunkan angka kecelakaan lalu lintas di jalan, semisal pendekatan peningkatan keselamtan lalu lintas peningkatan perilaku pengguna jalan berkeselamatan dan peningkatan manajemen rekayasa lalu lintas dan sebagainya. Selain itu juga perlu dilakukan optimalasi penegakan hukum baik represif yustisial dan represif non yustisial, semisal meyelamatkan, edukasi, pembelajaran, dan pembangunan budaya tertib berlalu lintas.

Semua langkah tersebut dapat berjalan dengan baik sepanjang sinergitas seluruh pemangku kepentingan dapat bekerja dengan baik, sesuai dengan tupoksi (tugas dan fungsi) masing-masing. (***)

Related posts