by

Tersangka Penista Agama Minta Maaf

-NEWS-275 views

Motif, Diskusi WA Sering Diejek Teman

PANGKALPINANG – Daud Rafles (26), tersangka penista Alquran Surat Ad-Dhuha dan mengumandangkan azan yang dirubah ke bahasa Indonesia, meminta maaf kepada seluruh umat muslim karena keteledorannya. Dia mengaku tidak mempunyai motif apapun dalam melakukan dugaan penistaan itu, sehingga membuat geram umat Islam di Bangka Belitung (Babel).
“Saya meminta maaf kepada saudara-saudara yang merasa tersakiti dengan video tersebut,” ungkapnya, di Mapolda Bangka Belitung, Selasa (9/4/2019).
Menurut warga Dusun Sungai Tanggok, Desa Sekar Biru, Kecamatan Parit Tiga, Kabupaten Bangka Barat ini, tidak ada niatannya untuk menistakan agama Islam. Ia berdalih merekam video sendiri dengan menista itu untuk lelucon ke teman-temannya di grup WhatsApp alumni SMK-nya.
“Saya tidak pernah berpikir untuk melakukan itu. Itu hanya sebuah lelucon yang ada di grup kita,” imbuhnya.
Untungnya Daud cepat ditangkap polisi setelah diserahkan warga yang menjemput ke rumahnya. Sedangkan video pelecehan terhadap agama yang dibuatnya sempat viral di media sosial.
Kapolda Bangka Belitung, Brigjen Pol Istiono menyebut, terduga melakukan penistaan agama ini telah ditetapkan sebagai tersangka. Motifnya melakukan hal itu, lantaran sering diejek oleh teman-temannya di WhatsApp Grup (WAG).
“Yang bersangkutan itu sering berdiskusi sama temannya yang menghina. Jadi, saling menjelekkan dan saling mengejek di media sosial. Rupanya dia langsung balas dendam di video itu dan dipublikasikan,” tuturnya.
Dijelaskan Kapolda, ada delapan saksi yang telah diperiksa guna membuktikan perbuatan tersangka untuk dijerat dalam kasus dugaan penistaan agama.
“Kita periksa semuanya. Ada 36 rangkaian orang-orang yang berkomunikasi dengan dia di WA dan sudah kita bongkar semua,” sambungnya.
Istiono menegaskan, tersangka melakukan penistaan agama ini tidak mengandung unsur politis, tapi murni hanya terpancing ejekan teman.
“Untuk sementara ini tidak ada sama sekali unsur politis, hanya diolok-olok oleh temannya sendiri,” ungkapnya.
Ditegaskan Kapolda, akibat perbuatannya itu tersangka dijerat melanggar Pasal 45 a ayat 2 juncto Pasal 28 ayat 2 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2006 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE).
“Ini ancamannya selama enam tahun kurungan penjara dan harus ditahan,” tegasnya.
Diberitakan sebelumnya, Daud merekam dirinya dan mengolok-olok Alquran Surat Ad-Dhuha dalam postingan video. Pengangguran yang melakukan ujaran kebencian atau hate speech ini berhasil ditangkap dan diamankan aparat kepolisian, Senin (8/4/2019). Alumni SMKN 4 tahun 2011/2012 ini, kini telah ditahan di Polda Babel.
Kapolda Babel dalam konferensi pers dengan menghadirkan tersangka berikut barang bukti di Mapolda Babel, Selasa (9/4/2019) menuturkan bahwa sejak mendapat laporan adanya dugaan penistaan agama, polisi langsung bergerak cepat dan menangkap tersangka di rumahnya di Dusun Sungai Tanggok.
“Saya perintahkan untuk ditindak tegas langsung sore, malam itu dibawa ke polres dan diperiksa. Setelah diperiksa, saya minta masalah itu segera ditangani oleh Polda saja agar mudah menyelesaikan karena sebagian saksi ada di sini,” katanya.
Diakuinya, polisi bergerak cepat dan hingga pukul 05.00 WIB kasus tersebut berhasil diselesaikan.
“Tadi malam (Senin malam), kita kerja sampai pagi jam lima untuk menuntaskan kasus ini. Alim ulama, tokoh masyarakat juga ikut menenangkan masalah ini,” imbuhnya.
Oleh karena itu, ia menghimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak khawatir dengan kasus dugaan ujaran kebencian ini. Karena Polri akan berupaya melakukan penegakan hukum secara profesional.
“Kemarin sampai hari ini, Polri bekerja keras menindak tegas pelaku hate speech penistaan agama. Teman-teman, alim ulama, tokoh agama dan kelompok serta organisasi masyarakat banyak yang mensupport dan memberikan dukungan moril kepada kita untuk menuntaskan kasus ini secara profesional dan tegas,” tukas Kapolda.
Jenderal bintang satu ini mengucapkan terimakasih kepada tokoh agama, tokoh masyarakat dan organisasi masyarakat yang memberikan support dan kepercayaan kepada polisi dalam menangani persoalan ini.
“Terimakasih kepada mereka yang telah datang dan mensupport apa yang telah kita lakukan. Beliau-beliau semua yang telah membantu kita menginformasikan dan mendinginkan suasana ini,” ucapnya.
Selain itu, lanjut Istiono, MUI, FKUB dan kelompok agama lain ikut mengecam tindakan yang bersangkutan.
“Kita keberagaman di sini harus tetap terjaga, tidak boleh saling menyakiti dan tidak boleh saling menghina. Kerukunan harus betul-betul kita pelihara,” ujarnya.
Tindakan penistaan agama yang dilakukan Daud Rafles, Kapolda menambahkan, sungguh sangat mencederai keberagaman rasa persatuan dan kesatuan masyarakat.
“Ini mencederai keberagaman kita. Rasa persatuan dan kesatuan yang harus kita pelihara bersama-sama,” tukasnya.
Kapolda mengaku, perkara dugaan penistaan agama ini sudah kali kedua terjadi di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
“Kita sudah berkali-kali mengadakan dialog publik, juga memberikan selebaran-selebaran dan publikasi-publikasi, sosialisasi tentang Undang-undang ITE ini. Tapi, ini sebuah dinamika ya padahal kita sudah berupaya maksimal namun masih ada satu, dua yang melakukan,” sesalnya.
Tersangka Daud ini pun ternyata sudah pernah menjadi tahanan di Mapolres Bangka Barat. Resedivis ini baru bebas dari tahanan sejak Desember 2018 silam lantaran terlibat dalam kasus pengeroyokan dan dihukum 8 bulan penjara. (bis/1)

Comment

BERITA TERBARU