by

Tersangka Korupsi Komputer & Laptop Ditetapkan

-NEWS-620 views
UANG KORUPSI – Kajari Beltim, Widagdo didampingi Kasi Pidus, Kasi Intel dan Kasi Datun Kejari, tampak memegang uang korupsi senilai Rp170 juta hasil pengembalian tersangka dari proyek pengadaan Komputer Jaringan dan Laptop yang tengah disidik saat ini. Pihaknya telah menetapkan beberapa tersangka dalam dua kasus itu. (Foto: mgt/Bastiar Riyanto)

Diumumkan Kejari Beltim saat Berkas Lengkap
Selamatkan Uang Negara Rp170 Juta

Manggar – Kasus dugaan penyimpangan uang negara pada kegiatan Pengadaan Laptop di Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) yang dulunya Badan Keuangan Daerah (Bakuda) Kabupaten Belitung Timur tahun 2015 senilai Rp3 miliar, terus disidik pihak Kejaksaan Negeri Belitung Timur (Kejari Beltim). Hasilnya, penyidik Pidsus Kejari telah menetapkan lebih dari satu tersangka terhadap kasus itu.
Demikian juga pada kasus dugaan korupsi pengadaan Komputer Jaringan melalui E-Katalog di Dinas Pendidikan Kabupaten Beltim tahun 2016 senilai Rp2,2 miliar, penyidik Kejari pun telah menetapkan tersangka.
Sebelumnya, pihak kejaksaan telah menyelidiki dan memeriksa beberapa oknum ASN (aparatur sipil negara) serta kontraktor yang terkait dalam kegiatan tersebut. Hasil dari pendalaman kasus itulah Kejari Beltim kemudian menetapkan lebih dari satu orang tersangka, baik itu dalam pengadaan komputer maupun laptop.
“Kami melakukan penyelidikan masalah komputer di Diknas Beltim, kemudian dari penyelidikan intelijen ditemukan satu kasus yaitu pengadaan laptop di DPKAAD Beltim, semuanya kita tingkatkan menjadi penyidikan. Yaitu dari Dinas Pendidikan dan DPKAAD itu penuntutan dua perkara, dan mengeksekusi dua perkara,” ungkap Kepala Kejari Beltim, Widagdo, SH, MH dalam pers release Jumat (8/12/2017).
Menurutnya, penanganan terhadap dua perkara tersebut baik dari penyidikan dan penuntutan maupun eksekusinya, pihak Kejari telah menyelamatkan uang negara atau uang pengembalian yang diserahkan para tersangka sebesar Rp170 juta. Uang sebagai barang bukti itu mengisyaratkan semakin jelasnya bahwa proyek tersebut dikorupsi.
“Dari tindak pidana korupsi di Dinas Pendidikan dengan modus pengiriman server ke sekolah-sekolah, namun itu tidak konek dengan sekolah-sekolah yang ada. Sehingga terpaksa sekolah tersebut membeli perangkatnya masing-masing agar siswanya bisa mengikuti ujian menggunakan komputer. Proyek ini sumber dananya dari DABA (Dana Bantuan Provinsi Bangka Belitung ke Pemkab Beltim) 2016,” terangnya.
Kemudian kata Widagdo, meski sudah menyita uang tunai sebesar Rp170 juta yang diserahkan tersangka, pihaknya kini masih menunggu hasil perhitungan resmi dari ahli Badan Pemeriksa Keuangan Pembangunan (BPKP) terhadap kerugian negara dalam dua proyek pengadaan tersebut.
“Kerugian negaranya telah disita sebesar uang tunai Rp170 juta. Kami juga menunggu hasil perhitungan ahli Badan Pemeriksa Keuangan Pembangunan (BPKP), mungkin bulan Desember ini akan keluar dan untuk itu terhadap penanganan perkara pengadaan komputer di Dinas Pendidikan ini untuk sementara kami telah menetapkan lebih dari satu tersangka. Kami menunggu juga hasil dari ahli, perkara akan segera kami limpahkan awal tahun 2018,” paparnya.
Saat ditanya siapa saja tersangka yang telah ditetapkan pihak kejaksaan termasuk identitas lengkap pelaku, sayangnya Kajari belum mau mengungkapkannya ke publik.
“Nanti akan kami kasih keterangan lanjutan siapa para tersangka tersebut. Kami mengikuti SOP tersendiri, karena jika kami sampaikan dari sekarang ini kami belum menerima laporan dari ahli,” tukasnya.
Untuk penyimpangan uang negara pada pengadaan Laptop, Widagdo menjelaskan adanya dugaan persengkongkolan antara panitia pelelangan, pokja dan kontraktor. Sehingga ada laptop yang diadakan tidak sesuai spek. Jika pun sesuai spek, kontraktor seolah menentukan spek mana yang harus digunakan untuk direkomendasikan dalam pelelangan, dengan tujuan hanya kontraktor tersebut yang dapat memenangkan pelelngan.
“Pengadaan laptop di DPKAAD, itu modusnya ada beberapa susunan panitia baik itu pengadaan, pralelang, lelang, sampai nanti penerima anggaran itu semua kan pasti ada panitia tersendiri sesuai dengan Keppres. Disitu ada beberapa hal yang tidak dilalui, sehingga ada beberapa laptop begitu diterima tidak seauai dengan spek. Artinya memang ini sudah sesuai, begitu dicek lagi tidak ada legalitas, dan kerugian keseluruhannya diperkirakan lebih kurang Rp300 juta,” ujar Widagdo seraya menambahkan pihaknya juga menunggu penghitungan dari ahli BPKP untuk menentukan kerugian negaranya.
“Tapi sudah sepakat semua, ahli juga sudah menghitung kerugiannya kurang lebih Rp300 juta. Kami juga tetapkan tersangka lebih dari satu orang. Untuk detailnya nanti kalau kami sudah limpahkan akan kami sampaikan,” pungkas Widagdo.
Kasi Pidsus Kejari Beltim, Samsi Thalib, SH, MH menambahkan, kesalahan dalam pengadaan Komputer Jaringan di Dinas Pendidikan Kabupaten Belitung Timur, lebih kepada barang berupa server yang diadakan kontraktor dikirim tidak sesuai dengan petunjuk teknis pengadaan.
“Sesuai dengan juknis, server itu harus memiliki dua langkat, namun barang yang dikirim itu hanya satu langkat. Sehingga kepala sekolah untuk menggunakan itu harus membeli alat lagi. Sehingga tidak sesuai dengan tujuan pengadaan. Karena pengadaan itu bertujuan untuk pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer. Dari kasus itu kita telah menyelamatkan uang negara senilai seratus tujuh puluh juta rupiah, tapi kemungkinan bisa lebih dan kemungkinan bisa kurang juga, tergantung hasil pengitungan kerugian negara dari BPKP. Ini hanya uang titipan,” beber Samsi.
Dari hasil pemeriksaan penyidik, lanjut Samsi bahwa pengadaan Laptop tersebut diduga terdapat pengarahan panitia lelang kepada salah satu perusahaan pemenang lelang kegiatan, atau persekongkolan.
“Untuk kasus laptop, itu pengadaan laptop kasusnya dia dibuat spek, membuat spesifikasi itu yang tidak ada di merk apapun, jadi spesifikasi ini spesifikasi yang dibuat-buat, sehingga salah satu dari rekanan memenangkan kegiatan ini. Membuat spesifikasi yang tidak ada di distributor manapun. Sehingga dari awal sampai akhir itu sudah terkesan diarahkan ke satu perusahaan,” tandasnya. (mgt/yan/1)

Comment

BERITA TERBARU