Terkait Beasiswa Mahasiswa STPN Disunat, Kadisdikbud Panggil Pegawai dan Periksa Berkas

  • Whatsapp

Diduga Beasiswa UPI Juga Janggal
Andi: Sabar ya, Saya Periksa Dulu

SUNGAILIAT – Setelah mendengar laporan alumni mahasiswa STPN tahun 2017 Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bangka, Andi Hudirman segera memanggil staff dan pegawai yang menangani pencairan dana program beasiswa pada tahun tersebut.
Kepala Dinas yang baru 10 hari menjabat itu mengaku kaget ketika ada laporan tentang hal yang tidak mengenakan telinga ini. Ia meminta stafnya untuk menunjukan berkas-berkas penerima beasiswa pada tahun 2016 tersebut.
“Bapak belum bisa kasih keterangan. Ini baru bapak panggil staf yang mengurus program tersebut. Bapak mau lihat datanya. Mau tau apa masalahnya. Sabar ya. Bapak baru 10 hari disini. Ruangan aja belum hapal,” ujarnya saat dikonfirmasi via ponsel Selasa sore (21/5/2019).
Andi berharap apabila ada program beasiswa yang dinilai janggal pada tahun-tahun sebelumnya dapat menginformasikan kepada dirinya sehingga ia dapat memeriksa permasalahan yang terjadi.
“Bapak malah butuh info-info kalo memang ade yang aneh. Jadi sabar ok. Bapak periksa dulu. Biar bapak panggil staf e. Jadi kite tahu ape masalah e,” jelasnya.
Namun kasus kejanggalan beasiswa ini sepertinya tak hanya dialami alumni STPN saja. Sebanyak 30 lebih Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang lulus pada tahun 2017 pun mengeluhkan teknis pencairan beasiswa yang nilainya berubah ubah dan waktu pencairan tak jelas.
“Kami itu dapatnya uang saku Rp.10.500.000 per semester. Dan katanya uang semester juga yang langsung disetor dinas ke kampus. Ada yang bilang uang semester itu Rp.10 juta tapi pas kami cek di BAAK ternyata uang semester kami Rp.3.5juta. Keluhan lainnya pada semester-semester 6 ke atasnya. Pencairan sudah gak jelas lagi. Tersendat – sendat dan makin mengecil jadi ada yang Rp.7 juta dan ada yang Rp. 6 juta. Awalnya yang ambik dana beasiswa itu orang tua. Orang tua disuruh tanda tangan dan ambil uangnya. Lama – lama pencairan langsung ke rekening mahasiswa. Ya sebenernya kami juga sudah terima kasih karena sudah dibiayai pemerintah hingga selesai kuliah. Tapi kami cuma mempertanyakan saja. Bahkan ada salah orang tua kami yang marah-marah karena dana beasiswa mulai tersendat-sendat,” papar alumni UPI yang lulus tahun 2017 ini.
Dilansir, sebanyak 11 alumni Mahasiswa Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) yang mendapatkan beasiswa utusan daerah dari APBD Kabupaten Bangka tahun 2016 mempertanyakan kejelasan dana senilai Rp40 juta yang mereka dapat. Pasalnya hingga lulus tahun 2017 silam, ke 11 alumni ini tidak mendapatkan haknya secara utuh. Dari nilai Rp40 juta mereka hanya menerima Rp.20 juta saja yang dicairkan via rekening.
Tentunya nilai tersebut mereka ketahui setelah menandatangani lembaran hitam diatas putih oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Bangka. Komisi 1 DPRD Kabupaten Bangka, Magrizan kepada wartawan Senin (20/5/2019) kemarin mengatakan pihaknya sudah menerima pengaduan atau aspirasi alumni STPN yang mendapat beasiswa utusan daerah tahun 2016. Namun pada kenyataannya hingga mereka lulus di tahun 2017 permasalahan tersebut belum juga selesai.
“Kami menerima pengaduan atau aspirasi dari beberapa mahasiswa yang mengenyam beasiswa utusan daerah tahun 2016 dan kenyataannya mereka (11 alumni STPN-red) selesai tahun 2017. Dan saat ini mengabdi di Kabupaten Bangka masalah itu belum juga rampung,” ujar Magrizan di Gedung DPRD Kabupaten Bangka.
Magrizan menjelaskan permasalahannya uang saku atau uang bantuan biaya hidup yang dijanjikan Pemkab Bangka tidak sesuai dengan yang ditandatangani.
Dari Rp40 juta dana yang tertera dalam lembaran hanya dicairkan 50 persen saja.
“Permasalahannya adalah sesuai yang mereka sampaikan kepada kami bahwa uang saku atau uang yang dijanjikan bantuan biaya hidup dari dinas atau dari Pemkab setelah mereka selesai tidak sesuai dengan apa yang mereka sudah tanda tangani. Jadi nilai nominalnya Rp.40 juta selama 1 tahun. Tapi yang teralisasi sekitat 50 persen. Teknisnya mereka tanda tangan untuk pencairan keseluruhan. Apakah cara dinas mencairkan dananya atau manajemennya seperti itu,” tanya Magrizan. (2nd/6)

Related posts