Terduga Penista Agama Ditahan Polda

  • Whatsapp

Diusut Hingga Pukul 5 Pagi
Daud Ternyata Residivis Pengeroyokan

PANGKALPINANG – Daud Rafles (26), terduga penista agama dengan cara merekam dirinya dan mengolok-olok Alquran Surat Ad-Dhuha dalam postingan video, akhirnya berhasil ditangkap oleh aparat kepolisian, Senin (8/4/2019).
Tersangka ujaran kebencian atau hate speech ini juga melecehkan Islam dengan cara mengumandangkan azan yang dirubah ke bahasa Indonesia, kemudian membagikan rekaman azan itu ke grup WhatsApp. Alumni SMKN 4 tahun 2011/2012 ini, kini telah ditahan di Polda Kepulauan Bangka Belitung (Babel).
Kapolda Babel, Brigjen Pol Istiono dalam konferensi pers dengan menghadirkan tersangka berikut barang bukti di Mapolda Babel, Selasa (9/4/2019) menuturkan bahwa sejak mendapat laporan adanya dugaan penistaan agama, polisi langsung bergerak cepat dan menangkap tersangka di rumahnya di Dusun Sungai Tanggok, Desa Sekar Biru, Kecamatan Parit Tiga, Kabupaten Bangka Barat.
“Saya perintahkan untuk ditindak tegas langsung sore, malam itu dibawa ke polres dan diperiksa. Setelah diperiksa, saya minta masalah itu segera ditangani oleh Polda saja agar mudah menyelesaikan karena sebagian saksi ada di sini,” tutur Brigjen Pol Istiono.
Diakuinya, polisi bergerak cepat dan hingga pukul 05.00 WIB kasus tersebut berhasil diselesaikan.
“Tadi malam (Senin malam), kita kerja sampai pagi jam lima untuk menuntaskan kasus ini. Alim ulama, tokoh masyarakat juga ikut menenangkan masalah ini,” katanya.
Oleh karena itu, ia menghimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak khawatir dengan kasus dugaan ujaran kebencian ini. Karena Polri akan berupaya melakukan penegakan hukum secara profesional.
“Kemarin sampai hari ini, Polri bekerja keras menindak tegas pelaku hate speech penistaan agama. Teman-teman, alim ulama, tokoh agama dan kelompok serta organisasi masyarakat banyak yang mensupport dan memberikan dukungan moril kepada kita untuk menuntaskan kasus ini secara profesional dan tegas,” kata Kapolda.
Jenderal bintang satu ini mengucapkan terimakasih kepada tokoh agama, tokoh masyarakat dan organisasi masyarakat yang memberikan support dan kepercayaan kepada polisi dalam menangani persoalan ini.
“Terimakasih kepada mereka yang telah datang dan mensupport apa yang telah kita lakukan. Beliau-beliau semua yang telah membantu kita menginformasikan dan mendinginkan suasana ini,” ucapnya.
Selain itu, lanjut Istiono, MUI, FKUB dan kelompok agama lain ikut mengecam tindakan yang bersangkutan.
“Kita keberagaman di sini harus tetap terjaga, tidak boleh saling menyakiti dan tidak boleh saling menghina. Kerukunan harus betul-betul kita pelihara,” ujarnya.
Tindakan penistaan agama yang dilakukan Daud Rafles, Kapolda menambahkan, sungguh sangat mencederai keberagaman rasa persatuan dan kesatuan masyarakat.

ALAT BUKTI – Kapolda Babel, Brigjen Istiono saat menggelar konferensi pers kasus penistaan agama di Mapolda Babel, Senin (9/4/2019) menunjukan sejumlah alat bukti tindak pidana yang disita dari tersangka Daud. Diantaranya baju, raket bulu tangkis, hingga topi SMA yang digunakan tersangka dalam rekaman video. (Foto: Bambang Irawan)

“Ini mencederai keberagaman kita. Rasa persatuan dan kesatuan yang harus kita pelihara bersama-sama,” tukasnya.
Kapolda mengaku, perkara dugaan penistaan agama ini sudah kali kedua terjadi di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
“Kita sudah berkali-kali mengadakan dialog publik, juga memberikan selebaran-selebaran dan publikasi-publikasi, sosialisasi tentang Undang-undang ITE ini. Tapi, ini sebuah dinamika ya padahal kita sudah berupaya maksimal namun masih ada satu, dua yang melakukan,” ujarnya.
Menurutnya, upaya untuk mencegah agar tak terulang lagi kasus yang sama tidak hanya menjadi tanggung jawab Polri saja, justru memerlukan sinergi dengan masyarakat banyak, baik tokoh masyarakat, tokoh agama dan mahasiswa.
“Orang-orang inilah tentunya yang bisa mencegah dan mengurangi masalah ini,” tambahnya.
Tersangka kasus dugaan penistaan agama Islam, Daud Rafles ini ternyata sudah pernah menjadi tahanan di Mapolres Bangka Barat. Resedivis ini baru bebas dari tahanan sejak Desember 2018 silam lantaran terlibat dalam kasus pengeroyokan.
Direktur Reserse Kriminal khusus (Dirreskrimsus) Polda Babel, AKBP Indra Krismayadi saat ditemui Rakyat Pos sebelum konferensi pers di ruang Konpers Polda Babel, Selasa (9/4/2019) membenarkan hal itu.
“Dia ini (Daud Rafles-red) baru keluar LP (Lembaga Pemasyarakatan) pada Desember 2018 lalu. Residivis karena terlibat kasus pengeroyokan,” beber Dirreskrimsus.
Atas perbuatan itu, Daud Rafles dijerat polisi dengan Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan.
“Vonisnya selama 8 bulan. Jadi, yang bersangkutan bersama temannya mukul orang,” ungkap Indra.
Sementara itu, Kasubdit II Cyber Crime atau Fismondev Ditreskrimsus Polda Babel, Kompol Nuryono menambahkan bahwa Daud Rafles membuat dan memposting video dugaan penistaan agama tersebut dalam keadaan tidak mengalami kelainan jiwa.
“Gak (kelainan jiwa). Normal biasa. Jadi, buat koleksi pribadi dia dan video itu dia share pada bulan ini juga,” pungkas Nuryono. (bis/6)

Related posts