Terancam PHK, Karyawan PT. PUS Minta Keadilan

  • Whatsapp

BADAU – Seorang karyawan perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Pratama Unggul Sejahtera (PUS), Agustiawan harus menerima pil pahit setelah dipecat dari tempatnya bekerja.
Pemecatan ini bermula ketika Agus menolak kebijakan perusahaan yang melakukan mutasi. Semula Agus adalah kepala logistik, dimutasi menjadi petugas cleaning service. Tentu saja Agus yang sudah bekerja sejak tiga tahun lalu ogah menandatangani surat persetujuan mutasi itu.
Namun mirisnya, perusahaan yang beralamat di Dusun Petikan, Desa Sungai Samak, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung tidak menjelaskan alasan mutasi dimaksud. Agus mengangap kebijakan perusahaan yang mem-PHK dirinya adalah sepihak
“Saya mempertanyakan apa dasar PHK tersebut, apa saya melakukan kesalahan atau melakukan pelanggaran, itu tidak ada diberitahukan kepada saya,” ujarnya kepada Rakyat Pos, Minggu (28/06/2020).
Dia menjelaskan, pada waktu pemecatan ia diberikan surat oleh pihak perusahaan yang isinya karena tidak menjalankan mutasi yang diberikan oleh pihak perusahaan.
“Dasar mutasi tersebut saja sampai sekarang belum selesai, jadi ngambang, mereka anggap selesai, terus keluarkan surat PHK,” ungkap Agus.
Menurutnya, PHK ini tidak berproses yang adanya intimidasi dan membuat ketidaknyamanan secara pribadi dan dipermalukan.
“Langkah selanjutnya, melalui Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) kita akan melakukan pertemuan dengan pihak manajemen Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dan juga kita akan bakal layangkan surat ke DPRD Kabupaten Belitung untuk meminta keadilan,” tegas Agus.
Sementara itu, Humas PT. PUS, Yoga Pranata tidak mau berandai-andai dan lebih baik menunggu arahan dari Dinas Tenaga Kerja terkait persoalan itu. Menurutnya, managemen perusahaan belum memutuskan secara final PHK kepada karyawan yang bernama Agustiawan.
“Kita masih menunggu anjuran dari Disnaker,” kata Yoga saat dikonfirmasi Selasa, (30/06/2020). (yan/1)

Related posts