Temuan BPK, Tunggakan Sewa Pasar 480 Juta

  • Whatsapp

UPT Pasar Lakukan Pendataan Pedagang

SUNGAILIAT – Pengelolaan tiga pasar di Sungailiat, Kabupaten Bangka sejak tahun 2015 hingga 2016 menjadi sorotan Badan Pemeriksa Keuangan Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (BPK Babel). Pasalnya, sejak tahun 2015-2016, BPK dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) menemukan adanya sewa lapak dan kios pasar yang belum dibayar sebesar Rp480-an juta.
Kepala UPT Pasar Sungailiat, Achmad Suherman mengakui ada temuan tersebut. Ia mengatakan, setelah dicek ke lapangan ternyata ada bermacam-macam permasalah yang membuat banyak pedagang tidak membayar atau menunggak sewa petak di tiga pasar itu yakni Pasar Kite, pasar Inpres dan Pasar Kampung.
“Ada beberapa petak sekarang tidak laku lagi sehingga tidak ditempati, itu jadi potensi temuan BPK. Jadi kita masih terutang. Kalau mereka tidak jualan, kontrak tidak ada, jadi kita tidak bisa memungutnya,” kata Suherman kepada wartawan, Jum’at (19/5/2017).
Padahal, untuk potensi pendapatan dari sewa petak pasar tersebut, Suherman menyebutkan angka sebesar Rp1,1 miliar pertahun. Dan ditahun 2016, pendapatan itu terealisasi hanya sebesar Rp700 juta lebih.
“Itu cukup baguslah, cuma banyak yang tidak jualan. Setelah kami datang bahwa tempat ada yang dikuasai mereka, tapi kalau 30 hari mereka tidak bayar otomatis mereka harus mengembalikan ke Pemda. Jadi kami sedang mendata itu. Kami sudah mengadakan surat tagihan. Kalau mereka tidak datang, kita akan ambil kembali tempatnya. Kalau mereka tidak jualan, maka tidak terutang kita,” imbuhnya.
Meski demikian, kata dia UPT Pasar juga akan melihat terlebih dahulu kontrak pedagang dengan pmerintah daerah dalam hal sewa petak pasar ini. Apakah pedagang menandatangani kontrak di 2016 atau di 2015.
“Karena saya khawatir akan jadi temuan. Saya mau merapikan ini. Alasan mereka tidak jualan di petak tersebut karena tidak laku,” tukasnya.
Suherman menuturkan, seperti di Pasar Kampung, data pertama sebanyak 100 petak disewakan, sehingga dibagi-bagi akhirnya sempit-sempitan. Ternyata sekarang sekitar 70-an orang yang berjualan dan ada petak kosong sekitar 30-an.
“Itu juga banyak yang belum bayar dengan alasan tempat kecil lah, ini itulah. Padahal kalau kewajiban itu harus dibayar. Untuk sewa tempat pasar sendiri seperti pasar kampung Rp200 ribu per tahun, pasar ikan Rp600 ribu per tahun. Ada juga yang tidak bayar. Kadang hanya dikontrak tapi tidak dibayar mereka,” sesalnya. (snt/1)

Pos terkait