Teknologi Kultur Jaringan, Penghasil Tanaman Kualitas Jempolan di Masa Depan

  • Whatsapp

Oleh: Desy Mauliana, S.Si
Guru SMK Negeri 1 Mendo Barat, Kabupaten Bangka

“Indonesia dijuluki sebagai negara mega biodiversity karena memiliki kekayaan sumber hayati terbesar dibandingkan dengan negara-negara lain yang ada di bumi. Banyak tanaman endemik yang tumbuh di tubuh ibu pertiwi. Dengan modal abadi ini, seharusnya ibu pertiwi tidak pernah menghadapi kendala akan ketahanan dan kedaulatan pangan sama sekali. Lalu, apa yang membuat Indonesia mengalami kesulitan untuk mencapai hal ini?”

Berdasarkan survei pertanian antar sensus (SUTAS) tahun 2018 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik, jumlah rumah tangga usaha pertanian di Indonesia sebanyak 17.302.906 rumah tangga, dan jika dibagi lebih spesifik menurut subsektor yang diusahakan, jumlah rumah tangga usaha bertani Padi sebanyak 13.155.108, jumlah rumah tangga usaha bertani Palawija sebanyak 7.129.401, jumlah rumah tangga usaha bertani Hortikultura sebanyak 10.104.683, dan jumlah rumah tangga usaha bertani komoditi perkebunan sebanyak 12.074.520. Dimana jumlah seluruh rumah tangga di Indonesia adalah sebanyak 67.173.400 yang disurvei oleh BPS tahun 2018, dan dipublikasikan secara sistematik. Ini artinya, sekitar seperempat atau 25% rumah tangga yang ada di Indonesia menggantungkan mata pencahariannya di sektor pertanian dan bisa jadi ini dilakukan sepanjang hidupnya.

Dengan jumlah rumah tangga usaha pertanian sebanyak itu, bukanlah sekedar angan-angan bahwasanya Indonesia mampu untuk mencapai ketahanan dan kedaulatan pangan. Namun nyatanya sampai sekarang, negeri Zamrud Khatulistiwa masih mengimpor produk pertanian dari negara seberang. Memang, ada banyak faktor yang melatarbelakanginya. Tapi, setidaknya pihak-pihak yang terkait dibidang pertanian dapat melakukan upaya nyata agar produktivitas sektor ini mampu membuat nusantara berdaulat pangan baik di masa lapang maupun di masa sulit. Salah satu solusi prospektif adalah dengan cara menyediakan teknologi yang mampu mempercepat perbanyakan bibit tanaman kualitas unggul dan tahan terhadap penyakit.
Seperti yang kita ketahui, secara alami tak semua tanaman berkualitas unggul dan mumpuni dalam kondisi cuaca dan iklim yang kontradiksi, yaitu kondisi cuaca dan iklim yang seringkali berubah-ubah tanpa dapat dikompromi, belum lagi keringkihan terhadap hama dan penyakit, sehingga perlu suatu teknologi pertanian yang menjadi solusi atas masalah ini. Suatu teknologi pertanian yang menghasilkan bibit berkualitas super nan mumpuni yang dapat beradaptasi dengan kondisi seperti ini.

Sejatinya, teknologi perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan dapat dilakukan untuk menjawab masalah ini, karena sesungguhnya, teknik ini merupakan teknik perbanyakan bibit tanaman dari sel atau jaringan induk, dimana individu baru memiliki sifat yang identik dengan induknya. Ukuran, rasa, warna, ketangguhan, maupun hal lainnya merupakan copy-an dari si induk secara murni, dan teknik ini sangat mungkin dilakukan di sektor estuari, yaitu di tingkat penangkar besar hingga tingkat kelompok tani.

Karena memiliki sifat yang ekuivalen dan implisit, induk tanaman yang akan diambil jaringannya haruslah tanaman yang memiliki kualitas terbaik dan tahan terhadap hama penyakit. Keunggulan lain dari teknik ini adalah dalam satu sesi pengkulturan dapat menghasilkan bibit unggul seragam yang sangat banyak dengan waktu pengkulturan yang relatif singkat tanpa membutuhkan tempat yang luas, bibit yang dihasilkan tidak berdasarkan musim, serta biaya pengangkutan bibit relatif lebih mudah dan murah. Teknik ini juga dipandang sebagai solusi terhadap perbanyakan tanaman yang sulit dibudidayakan atau perbanyakan tanaman yang sudah langka sehingga dapat membantu melestarikan plasma nutfah.

Secara singkat, teknik kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan bibit tanaman secara vegetatif menggunakan sel meristem tumbuhan yang totipoten (sel yang memiliki kemampuan untuk dapat memperbanyak dirinya sendiri) melalui lingkungan yang steril dan dikembangbiakan di dalam botol steril nan persisten.

Untuk mendapatkan bibit dengan teknik kultur jaringan, setidaknya diperlukan 5 tahapan yaitu tahap persiapan meliputi tahap persiapan ruangan, alat, media tanam dan salah satu bagian tanaman yang akan dikultur (bisa daun, akar, tunas, batang, dll). Selanjutnya tahap penanaman awal dimana bagian tanaman dan media harus disterilisasi terlebih dahulu kemudian dimasukan ke media tanam yang juga steril. Tahap inilah yang menjadi kunci berhasil tidaknya kultur jaringan yang dilakukan karena tahap ini adalah tahap penentuan bagian tanaman berkembang atau mati. Dapat dilihat pada gambar yang telah dimasukan sel tanaman terdapat bercak putih yang tak lain adalah sel tanaman. Jika sel berkembang, maka hanya dalam hitungan sekitar 1 minggu akan terlihat tunas kecil berwarna kehijauan, Namun jika sel gagal berkembang, bercak putih (sel tumbuhan) pada botol akan berwarna kekuningan, kemudian berubah menjadi kecoklatan dan terakhir sel akan berwarna hitam.

Kemudian tahap multipikasi tunas, disebut multipikasi karena ada banyak tunas yang mulai tumbuh di dalam botol steril. Pada tahapan ini, tunas-tunas yang tumbuh dipisahkan di botol-botol lain. Satu botol untuk satu tunas untuk mendapatkan tanaman baru yang lengkap walaupun masih kecil. Tahap ke empat adalah tahap perkembangan tunas, induksi dan perkembangan akar. Ditahap ini tunas di pindahkan ke media yang mengandung zat penumbuh agar akar menjadi lebih banyak dan tunas menjadi lebih besar. Tahap terakhir adalah aklimatisasi, tahap ini merupakan tahap pemindahan tunas yang berada di dalam botol ke tempat persemaian bibit atau ke dalam rumah kaca agar tunas perlahan menyesuaikan diri dengan kondisi luar yang tak lagi di kontrol seperti sebelumnya. Setelah itu, barulah bibit hasil teknik kultur jaringan ditanam di lingkungan luar pada umumnya.

Jelas, kultur jaringan mampu menjawab tantangan percepatan dalam menghasilkan bibit unggul dengan jumlah yang sangat banyak untuk satu kali sesi pengkulturan walaupun, tetap tak dapat dipungkiri bahwasanya selalu ada peluang untuk gagal mengkultur tanaman. Namun, Penulis membayangkan jikalau teknik ini diseriusi oleh semua pihak di hilir, maka bibit-bibit yang ditanam di negara agraris ini adalah bibit-bibit yang unggul, komoditi tak mudah membusuk sehingga ketika panen petani tak lagi kuatir.

Tentu pemerintah punya andil yang besar dalam menyukseskan perbanyakan tanaman unggul dan langka dengan teknik kultur jaringan. Sosialisasi, pendidikan dan pelatihan, penyediaan tempat, alat, media tanam, dan sebagainya ihwal kebutuhan perbanyakan tanaman melalui teknik kultur jaringan secara berkala dan berkesinambungan adalah hal yang nampaknya menjadi tantangan dan semoga saja menjadi target capaian di masa depan. (***).

Related posts