Tantangan Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0

  • Whatsapp

Oleh: IRSYADINNAS
Statistisi Pemda Belitung Timur

Sejak awal dekade ini, kita telah memasuki Industri 4.0, yang ditandai meningkatnya konektivitas, interaksi, dan batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya yang semakin konvergen melalui teknologi informasi dan komunikasi. Lahirnya Revolusi Industri Generasi Keempat (Revolusi Industri 4.0) ketika munculnya pemanfaatan secara masif artificial intelegent di berbagai jenis produk bekerja layaknya fungsi otak manusia yang mampu memprediksikan dan memutuskan, telah mengakibatkan otomatisasi dan trasnsformasi bidang kerja yang diefisienkan melalui perangkat digital adalah sebuah keniscayaan, sehingga mau tidak mau perlahan-lahan terjadi eliminasi tenaga kerja manusia yang digantikan oleh mesin pintar akibat disruptif teknologi hadir begitu cepat yang secara bertahap mendominasi dan menyentuh hampir seluruh bidang kehidupan manusia.

Tuntutan Revolusi Industri 4.0
Perkembangan Revolusi Industri 4.0 telah membawa perubahan drastis mulai dari hulu siklus ekonomi yaitu proses produksi yang mengkolaborasikan tiga aspek di dalamnya, yakni manusia sebagai faktor tenaga kerja, teknologi/mesin, dan big data. Dalam banyak diskusi publik, kunci dari era industri generasi keempat ini, bukan lagi bertumpu pada ukuran besarnya perusahaan atau organisasi, tetapi kemampuan beradaptasi terhadap perubahan yang bergitu cepat, agar mampu bertahan dalam iklim kompetitif dan dinamis.

Pada tahun lalu, Kementerian Perindustrian telah merancang Program Making Indonesia 4.0 sebagai sebuah roadmap (peta jalan) yang integratif untuk menerapkan sejumlah strategi dalam memasuki era Revolusi Industri 4.0. Peluncuran program ini, diharapkan tidak sekadar disambut dengan euforia yang melenakan, tetapi juga mampu merangsang kesadaran bahwa kesiapaan bangsa ini, untuk menceburkan diri pada arus revolusi tersebut harus disertai dengan ‘pemberian bekal’ yang mumpuni agar menghindarkan diri terseret arus globalisasi yang menenggelamkan.
Berbagai analisa menyatakan bahwa keunggulan kompetitif (competitive adventage) sebuah bangsa di era Revolusi Industri 4.0 ini, sesungguhnya mewujud pada kemampuan mengintegrasikan beragam sumber daya yang dimiliki agar memiliki konektivitas pada penguasaan teknologi, komunikasi, dan big data untuk menghasilkan ‘smart product’ dan ‘smart services’, serta tidak sekadar pada produktivitas kerja yang berskala besar semata. Sebuah pernyataan menarik yang bisa kita renungkan dari Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) yang dirilis media tentang kesiapan bangsa ini, menghadapi perubahan besar pada pola industri dan ekonomi global melalui Revolusi Industri 4.0 ini, bahwa bayang-bayang industries shock sedang menghantui kesiapan bangsa ini terhadap perubahan perilaku ekonomi diakibatkan disrupsi teknologi yang tengah berjalan secara global. Beberapa hari lalu, Menaker kembali menegaskan kepada media, bahwa perkembangan teknologi dan digitalisasi akan membuat sekitar 56 persen pekerja di dunia akan kehilangan pekerjaan dalam 10 sampai 20 tahun ke depan akibat dominasi teknologi informasi terhadap sumber daya manusia sebagai tenaga kerja.

Tantangan Revolusi Industri 4.0
Jika kita cermati Program Making Indonesia 4.0 yang disusun oleh Kemenperin, salah satu prioritas dalam peta roadmap tersebut adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang dapat mengelaborasi ilmu pengetahuan, keterampilan hidup, dan penguasaan teknologi informasi. Berbagai analisa yang muncul terkait dengan tantangan utama yang dihadapi sumber daya manusia Indonesia dalam menjalankan revolusi industri keempat ini. Perubahan besar yang dibawa akibat penggunaan TI secara masif telah menggantikan sebagian pekerjaan yang biasa dilakukan oleh manusia menjadi oleh mesin dan teknologi digital semacam tantangan utama layaknya api dalam sekam.

Ironi Bonus Demografi
Bonus Demografi menjadi sebuah istilah yang belakangan mendadak populer dan disenangi oleh para pengambil kebijakan sebagai bahan diskusi. Pada fenomena Bonus Demografi, jumlah tenaga kerja produktif yang tersedia di pasar menjadi lebih banyak dibandingkan penduduk di tingkat usia lainnya.

Data statistik hasil Kajian LIPI pada Tahun 2015 lalu, menyimpulkan bahwa pada 2013-2014, penduduk usia produktif berjumlah sekitar 62,7 persen dari keseluruhan populasi penduduk sebesar 237 juta orang, dan mengalami potensi kenaikan sebesar 10 persen setiap tahunnya hingga mencapai puncaknya pada 2035. Artinya, kebutuhan akan ketersediaan lapangan kerja dan sumber pencaharian pada rentang tahun tersebut akan menjadi hal yang mengkhawatirkan pemenuhannya. Ironisnya, beberapa kajian menyimpulkan bahwa terjadinya ketidakselarasan kualitas dan relevansi lulusan pendidikan terhadap tuntutan pasar tenaga kerja. Hal ini bisa kita cemati dari data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (2017), bahwa sebanyak 50,17 persen tenaga kerja lulusan sekolah menengah banyak yang tidak terserap dalam pasar kerja.

Tantangan Dunia Pendidikan
Tidak jauh berbeda dengan dunia industri yang tengah dihadapkan pada tantangan era generasi keempat (4.0), bidang pendidikan juga terdampak oleh perkembangan teknologi informasi yang masif. Hal ini bisa kita lihat dari meningkatnya tuntutan akan peningkatan kualitas proses belajar mengajar dan hasilnya ketimbang hanya berpijak pada kebijakan yang kaku dan tidak adaptif, yang hanya sekadar bertumpu pada masalah klasik yaitu upaya pemerataan dan pemenuhan akses dan sarana prasarana pendidikan saja.

Upaya bidang pendidikan untuk beradaptasi terhadap revolusi industri 4.0 membawa perubahan pola kebijakan yang berorientasi pada kualitas pembelajaran ini sejalan dengan tuntutan tentang bagaimana sebaiknya pendidikan kita mampu menjadi media penyiapan sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0 tersebut.

Ada berbagai alasan yang dikemukakan dalam banyak diksusi di ruang publik, mengapa pendidikan kita harus merespons pesatnya perubahan masyarakat di era Revolusi Industri 4.0, sementara perkembangan pendidikan belum bisa mengikuti secara optimal kecepatan akibat revolusi industri tersebut. Salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk menghadapi revolusi industri 4.0 ini adalah melalui peningkatan kualitas guru agar mampu mengajarkan materi dengan pendekatan penerapan penggunaan TI dalam proses belajar mengajar.

Guru harus bisa memanfaatkan TI untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar pada setiap satuan pendidikan. Upaya ini dilakukan agar dapat mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul dengan kompetensi global, karena meskipun teknologi informasi berkembang demikian cepat dan sumber-sumber belajar begitu mudah diperoleh, peran guru sebagai pendidik tidak tergantikan oleh kemajuan teknologi tersebut. Tenaga pendidik di era revolusi industri harus meningkatkan pemahaman dalam mengekspresikan diri di bidang literasi media, memahami informasi yang akan dibagikan kepada para peserta didik serta menemukan analisis untuk menyelesaikan permasalahan akademisi literasi digital. Harapannya, semua pihak harus meningkatkan kolaborasi dalam orientasi pendidikan mendatang serta mengubah kinerja sistem pendidikan yang dapat mengembangkan kualitas pola pikir pelajar dan penguatan digitalisasi pendidikan yang berbasis aplikasi.

Akhirnya, penjelasan di atas cukuplah memberikan ilustrasi betapa revolusi industri 4.0 telah menyusup ke dalam seluruh sendi kehidupan berbangsa, sehingga memunculkan banyak ‘pekerjaan rumah’ salah satunya di ranah pendidikan kita, agar mampu menghasilkan sumber daya manusia yang mampu beradapatasi terhadap perkembangan teknologi informasi.

Berkaitan dengan penjelasan di atas, kita berharap sudah selayaknya upaya untuk beradaptasi dengan revolusi industri 4.0 itu dipersiapkan dengan matang. Pemerintah bersama dengan seluruh stakeholder seharusnya memikirkan kembali secara serius mengenai berbagai hal terkait dengan penguatan sistem pendidikan dalam menghadapi gempuran Revolusi Industri 4.0. Karena perubahan merupakan sebuah keniscayaan, maka dengam adanya tantangan pendidikan di era revolusi industri 4.0 ini, sudah selayaknya dipersiapkan dengan matang. Seperti kata pepatah, “berubah atau mati”.(***).

Related posts