Tantangan Guru di Zaman Millennial

  • Whatsapp

Oleh: Yulham Fridanto, S.Pd
Guru SMA Negeri 1 Pemali, Kabupaten Bangka

Sebagaimana kita ketahui bersama pada masa sekarang yang lebih dikenal dengan masa millennial, banyak sekali pemberitaan di media massa, media sosial, dan internet, mengenai perlakuan tidak sopan siswa terhadap gurunya, orang tua siswa terhadap guru, juga kepala sekolah yang dibunuh oleh orangtua siswa. Bahkan sampai ada yang viral karena ada siswa lain yang merekam dan mengunggah perbuatan pelanggaran etika itu ke dalam jejaring sosialnya. Sedih sekaligus sakit rasanya melihat kejadian ini, yang terjadi bahkan sudah berulang-ulang.

Memang banyak sekali yang menjadi penyebab seorang siswa ataupun siswi bisa melakukan tindakan tidak terpuji ini. Salah satunya melalui media sosial, yang bahkan siswa sekolah dasar sekarang sudah memegang smartphone. Di beberapa sekolah, termasuk sekolah dimana Penulis mengajar yaitu SMA Negeri 1 Pemali pada saat pelajaran di kelas, sebagian siswa justru asyik dengan telepon seluler masing-masing. Mereka tidak memperhatikan pelajaran, tidur di kelas, bahkan yang sangat mengkhawatirkan meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian oleh remaja, kebiasaan menyontek, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, geng motor dan perusakan milik orang lain. Bahkan begitu banyak video yang viral karena aksi para siswa maupun siswi, yang bagi mereka sebenarnya belum waktunya.

Penulis sebagai pendidik berharap sekali, tidak hanya guru atau pendidik, tapi juga siswa, orang tua para siswa, juga pihak yang terkait. Kita semua dapat duduk bersama dan mencari pemecahan masalah apa yang bisa kita dapatkan dan selesaikan, agar tidak ada lagi peristiwa/kejadian perlakuan menyimpang siswa ke gurunya, maupun sebaliknya yang merupakan menurunnya kualitas moral manusia Indonesia.

Melihat keadaan yang seperti ini, pastinya Penulis marah. Tapi, Penulis juga memikirkan konsekuensi apa yang akan didapatkan. Ada etika dalam mengajar maupun mendidik yang harus seorang guru pegang teguh. Untuk itu juga menjadi seorang guru di zaman millennial ini harus memiliki kesabaran tingkat tinggi.

Disamping pendidik/guru, tidak hanya peran orang tua yang utama saja yang dibutuhkan. Tapi teman, lingkungan, juga semua pihak sangatlah dibutuhkan. Diharapkan tidak ada lagi orang tua yang salah paham dengan kebijakan yang digunakan seorang guru dalam mendisiplinkan anak didiknya dan melaporkan guru yang bersangkutan ke pihak yang berwajib.

Kualitas moral dalam kehidupan manusia millennial Indonesia sekarang ini, terutama di kalangan siswa, menuntut dilakukannya pendidikan karakter. Sekolah dituntut dapat memainkan peran dan tanggungjawabnya untuk menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai yang baik, sehingga membantu para siswa membentuk dan membangun karakter mereka dengan nilai-nilai yang baik pula. Pendidikan karakter diarahkan untuk memberikan tekanan pada nilai-nilai tertentu, seperti rasa hormat, tanggungjawab, jujur, peduli, dan adil yang dapat membantu siswa untuk memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka masing-masing.

Pendidikan agama juga merupakan sesuatu yang sangat penting untuk menjadi motor penggerak pendidikan karakter di sekolah yang pelaksanaannya seringkali tidak berhubungan dengan berbagai aktivitas pendidikan di sekolah. Agama bahkan sering terkurung dalam model pendidikan “kuantitatif” (semua serba diberikan penilaian yang bersifat kognitif). Padahal, agama semestinya menggunakan penilaian kualitatif dengan mengukur aspek utamanya adalah afeksi dan psikomotor bukan pada aspek kognitif.

Masih merupakan dilema dalam melaksanakan pendidikan karakter atau pendidikan moral di Indonesia. Di satu sisi disosialisasikan program penguatan pendidikan karakter/pendidikan moral di lembaga-lembaga pendidikan, tapi pada sisi lain pelanggaran etika dan norma terus-menerus dipertontonkan secara nyata dan jelas di ruang publik.

Pendidikan karakter atau moral membutuhkan keteladanan. Butuh contoh nyata dari elite politik, aparatur negara, pemuka agama, guru, hingga orangtua siswa. Di sekolah, anak didik diajari hidup sederhana dan jujur, tapi di ruang publik, misalnya, mereka menemukan sejumlah kepala daerah berpola hidup berwewah-mewah kemudian ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena korupsi.

Penguatan pendidikan karakter atau moral dalam konteks millennial sekarang sangat penting untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis dikalangan millennial tersebut sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas.

Oleh karena itu, betapa pentingnya pendidikan karakter/moral. Karakter yang baik akan bisa muncul kalau para siswa atau generasi millennial melihat contoh dari orang-orang di dekat mereka, seperti guru, orang tua, dan lingkungan masyarakatnya. Jika masyarakatnya memiliki kecenderungan nilai-nilai positif, akan terbentuklah karakter individu yang baik, juga sebaliknya.

Tantangan yang dihadapi pada masa millenial ini, terutama bagi para guru memang sangat berat. Akan tetapi, janganlah pendidikan karakter dapat membuat kita sebagai pendidik menjadi lemah dan takut dalam menerapkannya di tengah zaman yang penuh dengan gejolak negatif ini. Pendidikan karakter merupakan kunci membangun peradaban bangsa yang bertujuan memanusiakan manusia, khususnya manusia millennial Indonesia. (***).

Related posts